Outline; Kerangka Tulisan yang Menjadi Panduan Menulis

Salah satu pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta bedah buku Hamdim Pistim Yandim pagi tadi adalah outline termasuk dalam tahapan pembuatan novel atau tidak. Pertanyaan ini dilontarkan oleh seseorang yang tengah mencoba menulis sebuah novel.

Outline atau kerangka tulisan memang tidak termasuk dalam unsur intrinsik karya, sehingga hukumnya tidak wajib ada. Untuk membuat cerita, ide saja sudah cukup. Dengan kedisiplinan diri maka ide akan dikembangkan menjadi tokoh, penokohan, setting, alur, dan konflik dalam proporsi yang seimbang. Tidak ada aturan baku mengenai outline, sejauh ini berapa halaman outline dan apa saja isinya, antara satu orang dengan lainnya punya pendapat berbeda.

Saya pribadi sebagai mentor menulis, mengharuskan adanya outline setelah memiliki sinopsis. Pertama, sinopsis yang dibuat sebelum karya, tentunya jauh lebih mudah ketimbang yang dibuat begitu karya selesai ditulis, sehingga bisa saja sinopsis bisa menjadi begitu mengesankan. Untuk membuktikan bahwa ide cerita yang diusung memang berpotensi untuk dijadikan sebuah novel, saya mengharuskan pembuatan outline, berisi detail-detail adegan di tiap babnya. Di sini, tidak jarang saya melihat adegan-adegan dalam satu bab tidak ada yang istimewa. Terkadang hanya berisi pengenalan tokoh saja. Untuk apa pengenalan tokoh harus sepanjang satu bab penuh?
Alangkah baiknya jika bab pertama sudah menyajikan konflik, baik itu konflik utama atau pun konflik minor. Jadirkan adegan-adegan yang tidak biasa-biasa saja sebagai pembuka. Dengan begitu, maka tugas selanjutnya adalah menghadirkan adegan-adegan asyik di bab-bab selanjutnya yang akan terus mengikat emosi pembaca.

Tidak jarang, saya meminta revisi pada outline. Tujuannya adalah memberi waktu kepada di penulis untuk memikirkan kembali cerita-cerita yang akan dihadirkan, apa iya hanya yang standar saja atau malah yang berbeda dari apa yang sudah ada.

Panjang outline novel setidaknya untuk 10 bab adalah 3-4 halaman spasi 2, sementara untuk cerpen adalah setengah hingga satu halaman. Apakah cerpen juga butuh outline? Jika penulis masih kesulitan untuk mengarahkan cerita, outline akan menjadi alat bantu yang sangat dibutuhkan penulis. Kita tidak perlu membahas penulis-penulis berpengalaman yang sudah mapan pengalaman sehingga outline denga format canggih, yaitu tersimpan di dalam kepala. Hanya dengan berpikir sebentar, mereka sudah tahu harus menulis apa saja.

Outline tidak perlu sampai berpanjang-panjang. Jika terlalu sibuk dengan outline, lalu kapan mulai menulis? Buat secukupnya saja, detailkan adegan-adegan penting yang akan menghubungkan antara satu bab dengan bab selanjutnya. Jika memakan POV lebih dari satu orang, maka outline juga harus dipastikan tiak bercampur baur dan malah membuat bingung si penulis.

Untuk buku-buku nonfiksi, outlinenya memang lebih mirip ke daftar isi, ringkas dan padat.

Pertanyaan berikutnya, apakah outline itu sifatnya mengikat kebebasan penulis untuk memasukkan cerita lain? Pertama, iya, jika memang penulis berniat untuk memasukkan begitu banyak cerita baru ke dalam ide awal sehingga fokus cerita akan bergeser. Pergeseran fokus ini jelas akan mengubah lain-lainnya, sebagaimana prinsip bahwa jika satu pondasi cerita diubah, otomatis akan berdampak pada yang lain.

Kedua, jika memang penulis merasa adanya sisipan cerita lain justru semakin memperkuat alur dan sebagainya, maka silakan cerita itu. Tetapi tentu tidak semena-mena dimasukkan tanpa mempertimbangkan banyak faktor. Bisa jadi memang cerita yang dimasukkan hanya satu bab, bisa juga menjadi banyak. Lagi-lagi, menulis cerita selalu pertimbangan. Ada konsekuensi jika hal itu diabaikan.

Yogyakarta, 19 September 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response