Pacitan Jawa Timur Naik Motor dan Menikmati Pantai

Pacitan. Dulu gue pernah ke sana, tapi naik mobil rental di mana gue bisa seenaknya tidur dan sopir yang nganterin gue ke tempat tujuan.

Pas 3 bulan gue nggak traveling, banci banget nggak sih hidup gue? So, gue pun dengan spontan memaksa diri gue buat ninggalin semua kerjaan kantor yang gue paham nggak akan ada habisnya, dan yuk cuzz berangkat! Ke mana aja oke, karena buat gue, tujuan itu nomor dua, perjalanannya yang tetep nomor satu.

Ada beberapa alternatif tempat yang menurut gue bakal asyik kalau ditempuh naik motor. Sampai hari ini rekor terjauh gue baru ke Kudus, rekor naik motor terlama 14 jam. Ya, gue nggak berencana membuat rekor lebih heboh karena gue cuma 2 hari libur. Sabtu n Minggu. Kembali ke tekad gue, pingin traveling.

Pacitan Jawa Timur Naik Motor dan Menikmati Pantai
Sumber gambar: TapakRantau

Pikir punya pikir, gue akhirnya milih Pacitan. Dulu gue pernah ke sana, tapi naik mobil rental di mana gue bisa seenaknya tidur dan sopir yang nganterin gue ke tempat tujuan. Sekarang nggak bisa gitu, ngantuk dikit, bisa mati gue di jalan. So, segalanya gue persiapin dengan sebaik mungkin. Paling penting emang istirahat di malam sebelumnya. Nggak ada nongkrong-nongkrongan, nggak ada lembur-lemburan. Gue tidur awal dan bangun setelah 7 jam istirahat. Oh ya, gue nggak bawa banyak baju karena emang cuma nginep semalam. Tapi nggak bawa pas-pasan juga karena musim hujan pasti baju bakal basah. Sebelum berangkat, gue pastinya sarapan dan minum teh anget sebagai penyempurna (tsahh).

Gue berangkat tanggal 24 November 2012, jam 06.30 pagi. Agak mendung cuacanya setelah semalam hujan. Kondisi jalan udah lumayan kering tapinya, jadi gue nggak terlalu takut untuk sedikit kencang. Kecepatan maksimal gue pulang-pergi itu cuma 80 KM/jam. Wajar kan kalau perjalanan yang bisa ditempuh dengan 2,5 jam akhirnya butuh sampai 4 jam? Tekstur jalan adalah alasan utama gue nggak merasa perlu ngebut. Gue bukan seorang expert berkendara motor untuk jalanan dengan penuh tikungan bertanjakan lalu menurun tajam. Kendaraan-kendaraan yang wara-wiri pun sejenis truk, bus, dan kendaraan pribadi roda empat, yang kalau nyenggol motor gue, gue mesti yang kenapa-kenapa. Mereka paling cuma mobilnya yang baret dikit.

Oh ya, untuk sampai ke Pacitan dari Jogja, ada banyak cara sebenernya. Yang 2 udah gue cobain, yaitu via Wonosari (Gunungkidul-Pracimantoro-Pacitan) atau via Solo (Solo-Wonogiri-Pacitan). Ada lagi yang rute panjang via Surabaya, ya cobain sendiri deh.

Oke, rute Wonosari gue pilih ketika berangkat. Dari Jogja ampe kota Wonosari kira-kira sejam. Jalannya tanjakan dan tikungan, tapi beraspal. Hati-hati buat yang kalau di tikungan suka miringin bodi motor, kayak gue, atur deh kecepatan kendaraan. Kalau terlalu kencang, biasanya motor akan bergerak melebar alias ke tengah jalan. Kalau di depan dan belakang nggak ada kendaraan, ya nggak masalah mau menguasai jalan. Permasalahannya, ketika di tikungan yang sangat tajam, kita nggak bisa ngelihat kendaraan di depan kita. Tiba-tiba aja muncul, dan gue beberapa kali terkaget sendiri tapi untungnya nggak panik hingga sampe oleng atau jatuh (thanks God, actually).

Setelah sampai di Wonosari, gue pun mulai konsen pada papan petunjuk jalan. Wonogiri, seingat gue, dulu ketika ke Klayar, gue lewat sana. Jalanannya mulus dan sepi, tapi gue nggak bisa ngebut, karena harus memantau papan petunjuk jalan.

Ternyata gue salah. Emang kalau ke Klayar lebih enak via Wonogiri. Tapi tujuan gue sekarang kan ke Teleng Ria yang dekat sama kota Pacitan. Insting gue mulai berontak, gue harus mastiin jalan gue udah bener. Eh tuh kan salah. Seorang penduduk setempat akhirnya ngasih petunjuk yang lebih dekat lewat Pracimantoro atau Praci. Nggak banyak belokan-belokannya sih jadi nggak susah nemuinnya.

Praci juga menghadirkan kelokan-kelokan indah yang tidak kalah bikin gue nervous setengah mati, sibuk deh tangan dan kaki maenin gigi, gas, ama rem. Banyakan ngerem malah karena setelah tanjakan pasti disambung dengan turunan mengejutkan. Bahkan ada turunan yang panjang sekali ketika udah mendekati Pacitan. Gue lama-kelamaan pun berusaha cool down dan mengurangi frekuensi mengerem karena itu menghabiskan sia-sia kampas rem gue. Nggak direm pun sebenernya motor nggak melaju terlalu kencang, stabil di 40 KM/jam. Sebaliknya, ketika gue dari arah pacitan, gue lebih main di gas karena terasa banget tanjakannya panjang sekali. Gini nih deritanya berkendara sendirian, pergelangan tangan kerja ekstra.

Gue nyampe di Teleng Ria jam 10.30. Bayar tiket masuk 7.000 itu udah ama parkir. Termasuk murah ya padahal pantai ini udah dikelola secara profesional lho. Di sini ada waterpark (bayar tiket lagi 10.000), ada View Sea Resto yang berkelas (gue pesen makan siang seadanya, tapi harganya ada-ada aja ckckckck), ada cottage tapi sayangnya lagi ditutup entah kenapa. Ada tempat penjualan souvenir sama warung-warung kecil gitu.

Nah buat yang bawa motor, diperbolehkan untuk membawa kendaraan sampai ke tepi pantai. Asyik yah? Dan ini pertama kali gue naik motor di pasir. Menyenangkan tapi kasian juga motor gue karena harus digas kuat-kuat, dan habisin bensin pastinya. Di sana juga ada tempat penyewaan papan selancar. Tapi gue pas ke sana, cuaca nggak bagus, sering gerimis. So, nggak bisa lihat langsung para surfer beraksi.

Setelah puas di Teleng, gue pun nyari penginepan. Tas gue berat juga kalau ke sana-sini harus digendong mulu. Akhirnya gue dapet di Rajawali, dekat pintu masuk pantai. Tarifnya sesuailah dengan fasilitas kamar. Gue milih standard room, non AC, kamar mandi dalam, spring bed, handuk+sabun gratisan, TV LCD, ada balkon, sarapan buat 2 orang. Harganya 165.000/malam. Tempat ini gue rekomendasikan deh karena selain kamarnya nyaman, ada restorannya juga. Menunya harga standar kok.

Setelah rehat sejenak, gue pun nanya sana-sini soal tempat lain orang untuk surfing. Ternyata ada yang baru, Pantai Pancer Dorr namanya. Katanya ombaknya lebih ganas karena pertemuan sungai sama laut. Yes, gue harus ke sana dan cuma 10 menit dari Teleng. Tiket masuknya 3.500. Yang jaga tiket cuma sampe jam 4 sore. Setelah itu terserah Anda. Tapi kalau Anda seorang wanita dan sendirian, jangan ke sana sampai malam. Ya, jaga-jaga aja nggak apa-apa kan? Perjalanan menuju Pantai Pancer belum seratus persen beraspal, hati-hati kalau naik motor apalagi hujan. Licin tanahnya. Dan sepi, makanya gue bilang tadi kalau udah agak sore, sebaiknya kalau sendirian jangan di sana.

Gue lagi-lagi nggak begitu beruntung, karena sungai baru pasang dan airnya cokelat. Ketika gue lihat, air laut yang bening bersebelahan dengan air yang sungai yang cokelat. Makanya nggak ada yang surfing di sana. Dalam keadaan normal, airnya biru seperti di gambar iklannya.

Malam harinya, mau nggak mau gue cuma nongkrong di restoran karena hujan nggak berhenti-berhenti. Gue pun milih tidur karena besok harinya gue harus nyiapin diri buat pulang.

Minggu 25 November, pagi-pagi jam 5.30 gue ke Teleng, dan masih masuk gratis dengan ngasih lihat tiket kemarin. Gue mau nunggu sunrise nih. Sebenernya gue bukan tipe orang yang begitu terkagum dengan rutinitas matahari yang kalau nggak terbit ya tenggelam itu. Tapi gue pingin motret. Dan selama ini gue nggak pernah berhasil memotret sunrise dengan indah. Akhirnya dengan berbekal ilmu dari seorang teman fotografer, gue utak-atiklah kamera HP sama prosumer gue. Settingannya gua cobain satu-satu sampe dapet yang gue mau, yaitu yang menampilkan bulatnya si matahari. Sekali gagal, dua kali gagal, tiga kali masih gagal, lagi, lagi, lagi, belasan kali akhirnya gue puas. Yep, thanks buat Rangga Wirianto Putra yang membuat gue orgasme (eh tapi) dalam memotret matahari.

Setelah itu, gue pun keliling kota Pacitan. Kota yang tipikal, dan gue nggak begitu tertarik untuk menjelajahi semuanya. Gue balik ke hotel, sarapan, dan persiapan pulang.

Gue nyari-nyari info rute Pacitan-Solo ama si empunya hotel. Ternyata nggak susah dan tidak akan menemui banyak tikungan. Jam 8.30 gue berangkat melalui Praci sampai ke Punung. Di Punung itulah yang membedakan rute gue hari kemarin dan sekarang.

Jalanan via Punung lalu Wonogiri beraspal tapi tidak semulus kemarin, bergelombang dan lubangnya banyak. Kalaupun ditambal, itu nggak rapi. Rute ini bisa dibilang lebih panjang memang, kalau Anda tujuannya ke Jogja. Total gue di jalan 7,5 jam. 1,5 jam itu Solo ke Jogja, nyasar di Solo 1 jam. Gue ngambil istirahat total 1,5 jam. Dan sebenernya sama aja. Rute ini lebih ramai kendaraan dan banyak tempat untuk berhenti. Waktu keberangkatan yang agak siang juga jadi pengaruh karena panas matahari lebih cepat menguras keringat, jadi lebih cepat lelah.

So, that was my story. Buat yang pingin nyoba rute ini, gue saranin buat mempelajari jalanan yang harus dilewati. Hati-hati nyasar, lebih baik pastiin arahnya udah bener baru deh tancap gas. Dan, hati-hati bermanuver di tikungan. Ingat, kecelakaan itu terjadi bukan cuma pada orang yang baru belajar naik motor.

Yogyakarta 25 November 2012

Leave a Response