Pantai Kartini; Destinasi Wisata Keluarga di Jepara Jawa Tengah

Pantai Kartini, selain sebagai dermaga untuk menuju Karimun Jawa dan patung kura-kura raksasanya, pantai ini boleh dibilang keren dan ramai.pengunjung.

Ini pastinya jadi hari spesial buat Munnal Hani’ah, teman kantor gue yang mengakhiri masa lajangnya. Spesial juga buat gue karena, gue dapat banyak pengalaman dalam traveling gue. Dimulai dari perjalanan gue ke Kudus dari Jepara. Setelah sarapan di hotel, gue memutuskan langsung check out. Gue berencana bakal balik ke Jepara setelah acara, dan daripada kesiangan check out terus kena charge, baeknya cabut duluan tho. Berat sih bawa backpack ke mana-mana, tapi keren juga sebenarnya hahaha!

Satu-satunya sarana transportasi ke Kudus adalah bis antarkota yang berkapasitas 15 -20 penumpang. Gue naik di terminal dan bis itu ampun deh ngebutnya. Masih pagi supirnya udah kayak kejar setoran. Tarifnya 15.000. Cukup mahal mengingat perjalanan hanya 1 jam sementara Semarang-Jepara cuma 10.000 untuk 3 jam perjalanan.

Bis ini cukup sepi penumpang. Yang turun terminal ke terminal cuma gue doang. Kalau gue perhatiin penumpang laen, bayarnya cuma 1.000 sampai 5.000.

Kalau soal ngetem, jangan ditanya. Banyak banget dan nggak ada yang sebentar, kadang udah nunggu lama malah nggak ada penumpang.

Gue yang nggak tahu jalan cuma bisa melongok kanan kiri sambil lihat peta di undangan. Kayaknya gue perlu deh yang namanya GPS hahaha!

Perjalanan ke Kudus kurang lebih 1 jam, gue lega karena itu berarti acara resepsi baru dimulai. Jarak dari terminal ke rumah Munnal ternyata nggak begitu jauh dan lokasinya dikenali sopir angkot warna ungu yang gue tumpangi untuk menuju pabrik Djarum. Tarifnya 5.000. Sebenarnya 2.000 cukup sih, tapi namanya orang nggak tahu apa-apa, ya dimahalin. Coba kalau di Jogja, jauh dekat 2.500 coy!

Setelah dari acara nikahan, gue balik ke Jepara. Langsung capccus ke Pantai Kartini. Gue nggak turun di ternimal karena kata keneknya mending turun di pertigaan yang arah Pantai Kartini biar lebih dekat. Pas turun dari angkot gue langsung nyamperin tukang becak. Dia minta 20.000. Langsung gue iya aja karena nggak tahu jaraknya seberapa jauh. Gue sempat bilang ke tu tukang becak supaya mampir kalau ada ATM. Di dompet sisa 30.000. Buat senang-senang di pantai mana cukup. Ternyata sampai di Pantai Kartini, gue ga dapat ATM. Udah bayar tiket masuk 5.000 dan masuk ke area pantai, gue nanya langi sama tukang becak. Katanya di dalam nggak ada ATM. Duh Gusti, kenapa nggak ngomong.

Akhirnya keluar lagi naik becak itu nyari ATM dan jauh banget. Karena gue bete sendiri, gue turun dari becak terus bayar ke tukang becak. Gue langsung capcus dan nggak peduli si tukang becak minta nambah bayar. No way!!!

Setelah bisa narik duit secukupnya, gue nyari becak. Sialnya, gue berada di daerah yang jarang becak. Jadilah gue jalan kaki tak tentu arah. Akhirnya, ada becak motor. Nah ini nih. Gue nanya harga, katanya 10.000. Mayan dah!

Gue balik lagi ke Pantai Kartini dan untuknya si penjaga loket hapal dengan wajah keren gue dan langsung dipersilakan masuk.

Oke, mari bicara tentang Pantai Kartini. Selain sebagai dermaga untuk menuju Karimun Jawa dan patung kura-kura raksasanya, pantai ini boleh dibilang keren abis. yang jual makanan banyak, yang nyewain ATV atau motor banyak, yang jual suvenir bertebaran di mana-mana, yang nyediain jasa pesiar juga ada.

Saking bingungnya mau apa, gue akhirnya cukup memilih langsung mencari kapal ke Pulau Panjang. Alasan lainnya, gue nggak bisa lama-lama di pantai karena harus balik Jogja.

Tarif menyeberang ke Pulau Panjang adalah 13.000. Kapalnya adalah Sapta Pesona, kapal motor dengan kapasitas 20 penumpang, tapi buat yang nggak rombongan, nggak sampai penuh. Asal udah ada 5 orang ya berangkat.

Perjalanan ke Pulau Panjang cuma 15 menit. Nggak banyak pemandangan yang bisa dilihat selain kapal-kapal kecil di kejauhan dan air laut yang sedikit bergelombang. Maklum pantai-pantai di daerah utara Jawa memang “jinak”, bukan favorit para surfer deh pokoknya.

Sesampainya di Pulau Panjang, gue turun sama penumpang lain. Ada petuga yang ngecek tiket. TIket gue entah gue taruh di mana. Udah rogoh saku kanan kiri eh nggak ada. Untungnya si petugas nggak mempermasalahkan. Gue pun mulai tracking. Tapi kok serem ya pulau ini. Kayak hutan, sendirian pula. Akhirnya demi menjaga keperjakaan gue, gue pun cukup tracking 20 meter dan berhenti di salah satu warung yang berhadapan dengan makam Kiai Abu Bakar. Makan mi dan minum segelas Coffeemix adalah pilihan terbaik. Sumpah laper bo’ dan gue nggak berani minum es karena takut masuk angin. Jadilah gue keringetan abis makan.

Gue memutuskan motret-motret di sekitar tepi pulau karena gue bener-bener nggak berani menyusuri jalan setapak. Besok-besok kalau gue udah belajar kungfu atau muang thay buat jaga diri baru ke sono lagi. Pemandangan di tepi pulau itu so awesome. Bikin ngiri. Pengen berenang tapi matahari lagi terik banget. Nggak bawa sunblock pula.

Habis itu gue naik perahu. Oh iya, pastiin naik perahu Sapta Pesona ya, karena ada kapal Wisata bahari yang baliknya entah ke mana. Untung ditanyain apa si tukang perahu gue tadi ke sono naik perahu apa.

Gue langsung ke terminal. Bis ke Semarang masih mangkal dan mesinnya belom dinyalain. Alamat bakal nunggu lama nih. Sekitar setengah jam kemudian, bis baru berangkat. Jalannya nggak sekencang bisa ke Kudus dan gue ketar-ketir karenanya. Bakal nyampe jam berapa nih di Semarang. Perjalanan aja 3 jam, Semarang-Jogja 3 jam. Hah!! God!! Gue hanya bisa berdoa supaya bisa nyampe Jogja dan nggak perlu nginap karena kemalaman.

Doa gue memang terkabulkan. Tapi, ada sedikit hal buruk yang terjadi. Jam 6, bis Semarang-Jogja sudah nggak ada. Akhirnya ada yang ngasih info, kalau via Solo masih ada sampai malam. Oke, berarti 4 jam. Sudahlah, kalau nanti di Solo kemalaman, mau nggak mau menginap di sana, pagi-pagi baru lanjut Jogja. Just in case lho.

Jam 7, bis Semarang-Jogja pun datang. Gue naik dan milih kursi pas belakang supir. Yup, gue emang suka di belakang supir karena bisa melihat pemandangan tanpa membuat kepala jadi tengeng. Meskipun kalau malam hari nggak ada yang bisa dilihat, gue tetap suka di depan. Ada tempat buat naruh tas selain di depan kursi. Taruh di sebelah supir juga okelah.

Perjalanan terasa singkat. Mungkin karena supir agak ngebut juga. Jam 9 sudah sampai di Kertasura dan nyambung bis Sumber Kencono jurusan Surabaya-Jogja. Ngomong-ngomong soal Sumber Kencono, kayaknya wajar ya kalau udah parno duluan. Gue sempat ragu mau naik apa nggak. Tapi udah malam gini, apa masih perlu milih-milih bis? Bismillah aja. Ingat, nyawa itu di tangan Tuhan. Tarif bis ke Solo cuma 15.000. Padahal kalau siang 20.000. Emang beda ya? Makin malam makin murah? Kayak tarif telepon sebuah operator seluler dong hahahaha!  Nggak lama setelah bis jalan, hujan turun dengan lebatnya. Alhamdulillah, coba tadi hujannya pas gue belum naik bis. Basah kuyup di bis AC sama aja cari penyakit.

Penumpang di bis itu lumayan banyak, tapi ada beberapa yang kosong. Gue dapat di baris ketiga dari depan. Kalau dibandingkan bis yang sebelumnya, kapasitas Sumber Kencono lebih banyak karena satu baris ada 5 kursi (3 dan 2). Jalannya pun lebih sempit (apa cuma perasaan gue aja ya)

Sumber Kencono itu supirnya ngebut emang bener, tapi nggak serampangan kok. Di tiket bis emang ada tulisan: Bila sopir ngebut/ugal-ugalan, mohon hubungi blablabla. So, percayakanlah perjalanan Anda dengan sumber kencono. Yang namanya kecelakaan memang bak nila setitik rusak susu sebelanga, tapi bukan berarti sebelanga susu tidak bisa terselamatkan dong. Oke, mari lupakan soal susu.

Perjalanan menuju Jogja hanya sekitar 1,5 jam. Gue sampai di kost jam 11 malam. Perjalanan yang begitu panjang dan penuh warna. Capek ya jelas, tapi hepi. Sedikit tips, buat yang abis perjalanan panjang, disarankan untuk tidak langsung mandi. Langsung tidur aja atau minum teh hangat dulu lah. Oleskan tangan, kaki, atau bagian tubuh yang terasa pegal dengan Counterpain supaya begitu bangun, tidak merasa pegal lagi. Setelah itu, terserah Anda!

Leave a Response