Pantai-Pantai Kulonprogo Yogyakarta; Congot, Glagah, Begul, dan Trisik

Pantai-Pantai Kulonprogo Yogyakarta; Congot, Glagah, Begul, dan Trisik
Pantai-Pantai Kulonprogo Yogyakarta. Sumber gambar: wikipedia.com

Ini udah mendekati akhir masa liburan gue. Kayaknya nggak lengkap kalau nggak ke pantai Kulonprogo. Memang, 4 pantai yang ada di sana (kalau diurutkan: Congot, Glagah, Begul, dan Trisik), tidak seterkenal yang ada di Gunungkidul maupun Parangtritis dan kawan-kawannya. Mungkin karena buka pasir putih (walaupun menurut gue warna pasir bukan masalah asal suasana enjoy tetep ada) dan lokasinya yang kurang familiar.

Gue berangkat sekitar jam 8, karena gue sibuk berjibaku antara mau ke Kulonprogo dengan Timang (ini pantai yang bikin gue penasaran sampe sekarang). Gue bawa tas yang isinya kamera dan baju ganti (meski toh gue nggak pernah pake, kecuali menginap). Sebelum berangkat, gue membuka Google Map untuk melihat arah yang harus gue tempuh. Ternyata rutenya mudah, cuma nanti bakal ada belokan ke kiri di Jalan Wates. Menurut mesin pemandu itu, gue cuma butuh sekitar 1 jam sampai ke sana. Ya, ini nggak gue jadikan patokan karena gue pasti bakal berhenti buat beli minum dan sebagainya di SPBU. Namanya juga traveling sendirian, sesuka-suka gue lah.

Basicly, perjalanan gue tempuh sekitar 1,5 jam, itu udah dihitung nyasar sekitar 3 kilometer. Kondisi jalanan menuju Pantai Glagah mulus dan tidak begitu padat, meski masih aura lebaran. Tikes masuknya Rp3.000 dan parkir motor Rp2.000. Murah, tapi gue langsung kehilangan selera ketika melihat ini pantai rame banget. Udah kayak pasar. Haduh!

Pantai Glagah punya ombak yang cukup besar (berlaku di semua pantai di Kulonprogo, gue rasa). Lalu dibangun semacam jembatan yang menjorok di laut sekitar mungkin 500 meter. Kita bisa menikmati ombak yang jauh lebih besar jika berjalan semakin ke ujung jembatan. Karena ombak besar itu jugalah, banyak orang yang memancing di sana. Nggak sampai sejam gue di sana. Terus terang gue nggak gitu suka dengan suasananya. Mungkin kalau gue datang pas nggak musim liburan, akan lebih lengang.

Pantai selanjutnya adalah Begul. Letaknya tidak begitu jauh dari Glagah. Kondisi jalannya oke, sebelum belokan ke arah pantai tersebut. Gue langsung melongo melihat jalanan yang berubah drastis. Bolong-bolong dan belum beraspal. Ya Tuhan, kasihan ni motor baru sebulan dan kudu mencicipi off road lagi. Dengan membaca doa, gue pun menyusuri sekitar satu kilometer jalanan yang sangat ironis ini. Gue dengan sabar mencari bagian jalan yang cukup baik. Dan gue bisa tersenyum senang melihat pantai dari kejauhan.

Untuk masuk ke pantai ini, tidak ada tarif retribusi resmi, karena juga belum dikelola secara profesional. Tarif parkirnya cukup Rp1.000 aja. Gue kembali semangat menuju ke pantai karena sangat sepi. Kurang dari 10 pengunjung aja yang ada di sana. Yes!

Gue cukup lama berada di pantai ini meski cuma untuk memotret ombak-ombak yang datang silih berganti. Menyenangkan. Dan kebetulan, matahari tidak begitu panas. lengkap sudah kebahagiaan gue. Di sini gue bisa asyik duduk di pasir sambil membuka perbekalan gue. Ini baru namanya liburan seru.

The next and last destination gue adalah Trisik. Jarak dengan pantai sebelumnya hanya sekitar 3 kilometer, kondisi jalan mulus walaupun tidak begitu lebar. Untuk masuk ke pantai ini cuma perlu membayar parkir Rp1.000. Pantai ini jumlah pengunjungnya tidak sebanyak Glagah, tapi juga tidak lebih sedikit dari Begul. Kondisi pasirnya jauh lebih gelap ketimbang dua pantai lainnya dengan tekstur agak lembab. Soal bersih, ya lumayan walaupun sampah yang dibuang sembarang tidak sedikit. Di sini, gue melihat ada beberapa penjual makanan, meskipun dengan menu seadanya.

So, thats wrapped for today. Secara keseluruhan, buat yang suka dengan pantai, tidak ada salahnya memilih ke pantai-pantai Kulonprogo karena suara deburan ombaknya itu sangat menyenangkan. Berjalan di pasir pantainya pun menjadi sensasi tersendiri.

Oh ya, buat yang nggak tahu jalan pulang, mending lewat Wates aja. Papan penunjuk jalan tersedia di setiap pertigaan dan perempatan jalan. Dan berhubung masih terletak di Yogyakarta, gue rasa penduduk setempat bisa bantu memberikan arah pulang. So, wanna try on?

Yogya, 24 Agustus 2012

Leave a Response