Pantai Petanahan dan Watu Bale di Kebumen Jawa Tengah

Pantai Petanahan dan Watu Bale adalah dua dari sekian pantai di Kebumen yang saya kunjungi dalam waktu satu hari. Keduanya mewakili keindahan ala pantai-pantai selatan Jawa dengan ombaknya yang besar.

Awal bulan Desember ada libur yang jatuh setelah weekend. Apalagi yang bikin adrenalin naik kalau bukan jalan-jalan. Ke mana dan naik apa? Naik sepeda nggak masalah. Tapi jalanan pasti penuh dengan kendaraan orang-orang yang juga ingin ke mana-mana. Naik kendaraan umum bisa hemat tenaga, tapi kalau mau hemat di tempat tujuan mesti jalan kaki. Setelah menimbang-nimbang, pakai motor saja dan perginya sehari saja.

Hampir dua tahun motor saya tidak menjamah tempat-tempat jauh. Setahun belakangan, dia pun saya duakan dengan keberadaan sepeda. Malang betul nasib jadi yang pertama tapi diduakan. Ada banyak pilihan tempat yang tersedia untuk perjalanan sehari bolak-balik. Jika naik sepeda saya bisa ratusan kilometer, masak iya yang serbamesin nggak sanggup.

Saya putuskan untuk ke Kebumen. Banyak pantai bagus di sana. Pantai-pantai daerah selatan Jawa apa masih perlu diragukan? Pilihannya sangat banyak, mau yang sudah diakses bus-bus besar hingga yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Dari daftar panjang itu, akhirnya saya pilih satu yang benar-benar ingin saya datangi. Pantai Watu Karung namanya. Tipikal pantai yang masih sepi dan katanya sih mirip dengan Tanah Lot di bali.

Jam 9 pagi saya berangkat via Jalan Wates. Mau lewat Daendels yang biasa saya lewati kalau bersepeda, tiba-tiba lupa rute ke sana lewat mana. Jalanan Daendels lebih sepi kendaraan sementara Jalan Wates adalah rute utama bus antarkota arah ke Bandung dan Jakarta. Jarak yang akan saya tempuh kurang lebih 100 kilometer. Sekitar3-4 jam saja. Jika, jalanan mulus. Lewat dari batas Jogja, jalanan mulai menampakkan tantangan untuk menguji kelihaian saya membelokkan stang ketika ada lubang-lubang di sisi kiri jalan, artinya saya harus agak ke tengah. Buat yang belum pernah melewati Purworejo, para pengendara motor harus ekstrahati-hati. Bolong-bolong di jalanan terbilang dalam. Jika gagal menghindarinya dan dalam kecepatan tinggi akan menimbulkan sentakan keras dan mengagetkan. Jangan pikir hanya sesekali. Sangat sering bahkan sampai ke Kebumen. Lewat alternatif pun sama saja.

Tiba di kota Kebumen, saya mencari tempat makan. Di dekat Alun-alun, saya memilih satu tempat makan lesehan. Masih tempat makan di sana, sampai jajanan ringan kesenangan anak sekolahan. Sama halnya Alun-alun Purworejo tidak perlu takut kelaparan. Soal harga terbilang murah. Saya lupa namanya, tapi ada unsur “Pawon”. Gratis nasi uduk, tehnya panas, sambalnya terasi pedas, ada sayur kacang panjang dan daun singkong rebus.

Perjalanan berlanjut menyusuri jalan utama hingga saya melihat papan petunjuk menuju Pantai Petanahan ke arah kiri. Hari sudah siang dan terik. Saya pikir, jika tidak menemukan pantai yang saya cari, biarlah yang mana saja, asalkan ada tempat beristirahat sejenak. Sekarang di mushala dan masjid sudah ada larangan dilarang tidur di dalamnya. Padahal karpetnya cuma ada di dalam.

Pantai Petanahan dan Watu Bale di Kebumen Jawa Tengah
Pantai Petanahan dengan pohon-pohon cemara udang. Sumber gambar: dok. Pribadi

Pantai Petanahan ini sangat jauh dari jalan utama. Jalan berlubang-lubang masih jadi sumber kekesalan. Kenapa infrastrukturnya dibiarkan seperti begitu dengan begitu besarnya antusiasme pariwisata? Pantai Petanahan dikelola oleh Pemda Kabupaten Kebumen. Tiket masuknya 3.500/orang. Motor bisa diparkir di mana saja. Ada tukang parkir tapi tidak ada lokasi yang ditentukan sebagai tempat parkir resmi. Mau dibawa sampai ke bawah pepohonan cemara udah juga tidak ada yang larang. Di sana sedang ada event klub motor CB tapi sedang tidak ada apa-apa di panggung.

Pantai Petanahan dan Watu Bale di Kebumen Jawa Tengah
Memancing di Pantai Petanahan. Sumber gambar: dok. Pribadi

Pantai ini mirip dengan karakter Pantai Parangtritis. Garis pantainya memanjang, banyak sampai berserakan di atas pasirnya. Ada larangan berenang dengan ombak yang cukup besar deburannya. Beberapa orang tampak memancing dari pinggir pantai. Warung-warung makanan dan minuman tersedia. Meja-meja panjang dan bangku-bangku kayu. Ada gazebo-gazebo namun tidak dirawat dengan baik. Pohon-pohon cemara udang mengingatkan saya dengan Pantai Lombang di Madura dan Pantai Cemara di Jogja. Ada dua pemuda yang tidur beralaskan kain. Sepertinya salah satu dari anak klub motor. Menjelang sore, mulai banyak pengunjung yang bermain di pesisir.

Sekitar pukul 3, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Suwuk. Pantai ini juga sudah dikelola sehingga wajar jika ramai. Letaknya tidak jauh-jauh dari Petanahan. Papan petunjuk arah mengatakan seperti itu. Perjalanan menuju Suwuk adalah penyiksaan buat saya dan motor. Jalanan di depan saya belum diaspal. Bebatuan kasar dan sebagian tanah yang menjadi lembek. Sebelum saya tiba di Kebumen, hujan sebelumnya turun. Genangan-genangan air yang besar-besar. Saya berpikir untuk memutar arah ketimbang motor saya terjebak lumpur. Di depan sana, para pengendara motor seolah tidak sedang melewati apa yang saya lihat. Mereka berzig-zag mencari jalan untuk dilewati sementara dari berlawanan arah, truk-truk pun datang. Saya pun akhirnya melewati jalan itu. Habis sudah lumpur-lumpur ini menempeli ban bagian bawah bodi motor.

Mencari Pantai Suwuk yang katanya hanya 15 kilometer saja dari Petanahan membuat saya berpikir, ini yang mengukur bener apa nggak. Bukannya melihat plang menuju Suwuk, malah yang ada Watu Bale. Ikutlah saya ke arah jalan masuk. Dikelola oleh Perum Perhutani KPH Kedu Selatan, saya akui pantainya lebih bagus pengelolaannya dari Petanahan. Tiket masuk 5.000. Parkirannya 3.000. Ada banyak pilihan tempat parkir. Tidak jauh.

Pantai Petanahan dan Watu Bale di Kebumen Jawa Tengah
Bukit Panduruan dan Tebing Titanic Watu Bale. Sumber gambar: dok. Pribadi

Pantai Watu Bale tidak hanya menyediakan pesisir pantai yang panjang. Tebing dan bukitnya dimanfaatkan sebagai area hiking. Bukit Panduruan dan Tebing Titanic, Ada model perahu nelayan yang dinamakan Titanic di sana. Jangan berpikir akan seraksasa kapalnya Leonardo DiCaprio. Jika ingin memotret lebih lengkap lansekap Watu Bale harus naik ke buktinya. Tidak dipungut bayaran. Tapi harus punya napas yang kuat. Undakan-undakannya tidak disemen, hanya bebatuan yang jika salah menapak bisa terpeleset. Untuk tempat duduk-duduk menikmati laut lepas, tersedia bangku-bangku dari bahan bambu dan pondok-pondok mungil. Bisa sambil menikmati minuman yang dipesan dari warung-warung. Sampah-sampah tidak terlihat berserakan. Ke Pantai Watu Bale sebaiknya pagi atau sore hari. Bukit yang tinggi membuat panas matahari terasa lebih menyengat. Pukul 5 sore, para pemilik warung sudah membereskan barang-barang jualannya. Tapi para pengunjung masih juga ada yang berdatangan. Menunggu sunset.

Pantai Petanahan dan Watu Bale di Kebumen Jawa Tengah
Memotret Watu Bale dari Tebing Titanic. Sumber gambar: dok. Pribadi
Pantai Petanahan dan Watu Bale di Kebumen Jawa Tengah
Kapal Titanic. Sumber gambar: dok. Pribadi
Pantai Petanahan dan Watu Bale di Kebumen Jawa Tengah
Sumber gambar: dok. Pribadi

Hari sudah sore, saya harus menyiapkan perjalanan pulang. Perjalanan masih jauh. Saya mengambil arah ke Cilacap sebab enggan melewati jalan yang tidak hanya penuh lumpur. Konturnya turun dan naik curam. Tidak dengan tanpa lampu penerangan jalanan. Ada juga sempat saya lewati jalanan yang longsor. Deretan plang-plang menuju pantai demi pantai saya lewati. Menganti, Ayah, Watu Karung, Logending. Sudahlah, saya sudah merasa cukup. Sepertinya saya pun mengambil arah yang tidak sama dengan petunjuk dari sebuah blog. Melihat Google Map pun membuat saya bingung arah.

Ketika melihat percabangan jalan, saya ambil ke arah Gombong. Ternyata tidak harus ke Cilacap dulu. Memang, kalau sudah tidak memungkinan, alternatif menginap bisa saja. Saya tidak bawa baju ganti, sabun, handuk, dan sebagainya. Soal itu, bisa diatur lah, ya. Jalan tembus hingga ke Gombong tidak begitu padat. Jalan berlubang membuat rasa kantuk hilang. Keinginan untuk cepat sampai kosan membuat saya menyingkirkan rasa lapar jauh-jauh. Mendoan itu khasnya Kebumen. Di Watu Bale saya mencicipi sepotong mendoan dengan potongan tipis tapi panjang. Harganya 3.000. Mendoannya beda dengan mendoan di Jogja yang kecil-kecil dan lebih tipis-tipis lagi. Makan sepotong itu sudah kenyang banget.

Saya baru makan malam jam 9 di Purworejo. Badan rasanya udah nggak keruan. Pengin cari hotel, check in, dan tidur. Masih 70 kilometer. Sekitar 2 jam perjalanan. Kalau lancar. Tapi rupanya untuk meninggalkan Purworejo, saya sempat muter-muter mencari arah pulang. Hampir nyasar ke arah Magelang.

Masih di Purworejo, hujan pun turun. Hujan deras membuat saya harus memakai jas hujan dan menaikkan kaca helm. Saya semakin sulit melihat jalan di depan. Jalanan bolong-bolong membuat saya berharap punya kekuatan sihir dan menyulapnya jadi mulus. Jalanan cukup padat dari dua arah. Lampu panjang hanya sesekali membantu pandangan saya.

Memasuki Jalan Wates, rasa senang pun datang. Hujan tinggal gerimis halus. Saya terlalu malas untuk melepas jas hujan. Bahkan ketika tiba di pusat kota Jogja, hanya saya sendiri yang memakai jas hujan.

Pukul 12 saya tiba di kosan. Buka pintu, cuci muka, ganti baju dan langsung tidur.

Tips dan trik Jogja-Kebumen PP

  1. Berangkatlah pagi-pagi betul. Sehabis subuh jika memungkinkan.
  2. Lampu-lampu pastikan menyala dengan terang. Ban motor pastikan anginnya pas.
  3. Isi BBM full. Setidaknya untuk motor bebek butuh 5 liter.
  4. Pastikan tidur yang cukup sebelumnya.
  5. Pelajari peta Kebumen baik-baik dan jalan-jalan alternatif.
  6. Jangan pakai sepatu, sandal gunung lebih cocok untuk semua medan.
  7. Sedia jas hujan dengan perlindungan maksimal.
  8. Bawa teman yang juga bisa mengendarai motor untuk medan yang sulit.
  9. Pastikan tidak kena dehidrasi. Itu berpengaruh pada konsentrasi saat berkendara.
  10. Atur porsi konsumsi nasi. Terlalu banyak akan memancing rasa kantuk

Jogja, 11 Desember 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response