Pantai Timang dan Drini; Dua Pantai Jogja dengan Beda Suasana

Pantai Drini dan Pantai Timang adalah dua pantai yang memiliki suasana berbeda. Drini banyak dikunjungi orang, Pantai Timang justru sangat sepi meski menjanjikan pemandangan yang indah.

Pantai Timang dan Drini; Dua Pantai Jogja dengan Beda Suasana
Gondola Pantai Timang. Sumber gambar: TapakRantau

Perjalanan ini saya lakukan ketika badan baru pulih dari drop selama beberapa hari, bahkan saya masih mengonsumsi obat batuk secara rutin. Tapi saya anggap saja sebagai proses recovery yang paling cepat.

Perjalanan pertama saya di tahun 2014, di usia yang akan genap 30 tahun. Januari normalnya adalah musim hujan dan saya siap dengan konsekuensi jika akan sering didera cuaca buruk dalam perjalanan.

Pagi di Banguntapan cukup cerah, saya berangkat pukul 7 pagi dan mendekati pos retribusi pantai, gerimis rupanya. Tidak begitu mengkhawatirkan, tapi mengingat kondisi badan yang belum pulih sepenuhnya, saya memakai jas hujan. Total perjalanan 1,5 jam mengantarkan saya ke Pantai Drini.

Cukup populer pantai yang terletak cukup di pertengahan gugusan pantai gunung kidul ini, tidak susah ditemukan papan petunjuknya dan di internet juga banyak diulas oleh para pengunjungnya. Jalan masuk beraspal halus, mulus dan tidak begitu jauh hingga sampailah saya di area parkir. Masih cukup sepi, karena memang terhitung pagi. Setelah menitipkan motor, saya pun mulai menyusuri pantai. Ombaknya cukup besar ternyata, berbeda dari yang saya baca di artikel-artikel di internet. Karena mendung, air lautnya kelabu. Ah memang menyebalkan, tapi rasanya tidak perlu sampai merusak mood lah. Yang terpenting gerimis sudah berhenti.

Oh ya, untuk dokumentasi, saya menggunakan kamera prosumer. Lama juga dia tidak keluar dari kotak kedapnya. Kamera poket kondisi batere tinggal setengah dan tidak sempat untuk isi ulang sebelum berangkat.

Lanjut!

Sampai di ujung pantai, saya lalu melihat pantai lain, yang tidak begitu besar tapi pengunjungnya lebih banyak (rombongan keluarga, sebagian besar) dan jumlah warung jualan makanannya lebih banyak. Pantai Drini.

Lho?

Ya inilah sebenarnya Pantai Drini, pantai yang tenang karena terdapat sejumlah filter berupa pulau karang berukuran besar. Dan pantai yang sebelumnya bernama Watu Lawang.

Saya memilih rehat sejenak di sebuah gazebo dan memesan segelas kopi instan. Saya melepas sepatu dan kaus kaki. Tadi, ketika baru beberapa jenak menginjak pasir pantai, air laut langsung memberi salam dan menjilati kaki saja. Saya tidak sempat berlari karena asyik menikmati pemandangan.

Menyenangkan juga di sini. Melihat orang-orang berenang sambil berpiknik ria. Saya ingin rebahan, tapi tidak bawa bantal. Jadilah saya hanya bersandar sambil membaca BBM. Di sini, sinyal 3 tidak ada, dan Simpati cukup bisa diandalkan.
Setelah puas rehat dan juga penasaran ingin melihat bagian pantai dari atas bukit karang, saya pun beranjak.

Untuk naik ke bukit karang, tarifnya 2 ribu aja. Silakan menaiki tangga bambu dan harap berhati-hati karena licin. Saya naik dengan telanjang kaki. Malas rasanya harus mencuci kaki lalu mengenakan sepatu basah. Bukit ini bisa dijelajahi dengan insting. Maksudnya, tidak ada jalan setapak jelas, asal bisa dilewati, maka Anda pasti akan sampai di puncak. Di sana juga ada gazebo, 3 jumlahnya. Cocok buat pacaran. Makanya saya lebih baik menjelajah dan rupanya saya sampai ke Pantai Watu Kodok. Pantai yang cukup eksklusif. Belum dikelola dan tidak ada penjual makanan di sini. Tapi tersedia gazebo yang cukup layak sebagai tempat duduk-duduk. Di sini saya juga melihat pipa yang mengalirkan air laut untuk disuling menjadi air tawar. Di kejauhan, saya mendengar mesin penyuling yang sedang bekerja, tapi saya tidak bisa melihat lebih dekat karena dipagari.

Seorang penduduk yang kemudian memberi tahu saya nama pantai ini, juga tentang Watu Lawang dan Drini. Ya, nama pantai ini memang tidak tercantum di papan. Saya sudah mencarinya.

Setelah puas melihat pantai berpasir putih dan masih bersih ini, saya pun kembali naik ke batu karang dan berdiri di dekat pagar pembatasnya untuk mengambil gambar lautan dan pantai. Cantik sekali.

Perut saya mulai lapar dan saya terpikir untuk makan siang di Sundak saja. Setahu saya, di sana seafood-nya banyak dan ada gazebo tepi pantai juga.

Perjalanan dari Drini ke Sundak tidak begitu jauh. Hanya sepuluh menit kurang lebih. Setibanya di tempat tujuan, saya pun memesan nasi putih dengan udang goreng tepung plus teh panas plus es kelapa muda. Murah, semuanya hanya 40 ribu. Dan saya menyisakan nasi, udang, dan kelapa mudanya. Porsinya memang serbabesar.

Setelah makanan turun ke perut, saya pun menyiapkan mental menuju Pantai Timang. Ah ya, pantai ini memang membuat saya penasaran. Sejak membaca artikel seorang mahasiswa KKN yang pernah ke Pantai Timang, saya pun ingin ke sana. Saya tahu, harus menyiapkan kaki karena jalanannya belum bagus. Tapi dari artikel lain yang baca hari ini, ada yang bisa ke sana naik motor. Saya sih tidak tahu motornya apa. Pokoknya saya juga harus bisa. Jatuh? Ah udah pernah jatuh kok.

Perjalanan ke Pantai Timang dari Sundak cukup jauh juga. Harus melewati Indrayanti yang rame dan sekian kilometer hingga saya melihat lapangan bola di sebelah kanan jalan dan papan petunjuk made in mahasiswa KKN. Kecil bener deh papan itu, tapi patokan saya adalah lapangan bola tadi.

Saya pun menyusuri jalanan bersemen yang kurang lebih panjangnya 4 kilometer. Tapi jangan salah, jalanan yang agak lumayan ini mungkin hanya sekitar 2 kilometer. Sisanya, jalan batu.
Beneran jalan batu yang batunya berukuran sedang. Oh ya, saya tidak sarankan perjalanan ke timang menggunakan roda 2 untuk:

1. Ibu-ibu hamil muda (hamil tua juga ding). Para suami, tolong cegah istri Anda!!!

2. Pengendara motor yang masih unyu-unyu alias baru belajar naik motor (perjalanan ini membutuhkan konsentrasi, kesabaran, keimanan&ketakwaan kepada Tuhan, dan cengkeraman tangan yang kuat.)

3. Yang nggak suka pantai. (pasti bakal bete banget)

Ketika melihat beraspal mulai berganti dengan berbatu, saya pun tiba-tiba ingat Tuhan. Sambil mendengarkan MP3 dari BB, saya pun menyebut-nyebut nama Tuhan karena ketika melewati jalanan sejenis ini di Trenggalek saja, ban motor saya pernah slip, apalagi off road lebih ekstrem macam gini. Tapi, sudah tidak mungkin berbalik, Perjalanan ini harus dituntaskan!

Saya pun menggunakan gigi 1, kecepatan 10 km/jam. Ada kalanya, saya harus mengerem ketika jalan menurun dan berstrategi mengegas ketika jalan menanjak. Jalanan licin, hujan sepertinya deras turun di sini. Sesekali ban belakang motor bergoyang itik dan saya benar-benar khawatir. Khawatir saya terlempar dari motor.

Ketika di depan adalah tanah becek dengan genangan air. Saya berhenti sejenak. Saya takut juga jika ban motor malah melesak ke dalam tanah. Kepada siapa saya minta tolong sementara orang yang berminat menuju pantai ini bisa dihitung dengan jari? Tapi bismillah saja. Saya melewati bagian tepi yang saya lihat cukup aman. Pelan-pelan sekali. Terburu-buru malah bisa fatal kan? Alon-alon waton kelakon.

Tangan saya yang terbungkus sarung tangan sudah sangat sakit dan saya berharap jalanan ini kembali menjadi jalanan bersemen. Alhamdulillah, jalanan ekstrem pun berakhir dan tidak lama kemudian, sampailah saya di tempat parkir Pantai Timang. Tidak ada tukang parkir di sini. Ada beberapa motor parkir dan sebuah mobil. Saya pun mendaki bukit dan tidak sabar ingin melihat Pulau Timang yang dihubungkan dengan gondola seperti yang saya baca di artikel.

Saya merasa terhibur ketika sampai di Pantai Timang. Selain karena sudah bebas dari jalanan yang gila, air lautnya tampat begitu cantik. Biru cantik. Luar biasa.

Sesampainya di bukit, saya pun melihat Pulau Timang beserta gondolanya. Tapi tidak ada yang berada di seberang sana. Dan si gondola pun tidak ada operatornya. Saya melihat ke bawah. Hm dalam juga tuh. Dan setahu saya, tidak ada perusahaan asuransi yang bakal bertanggung jawab jika sebuah kecelakaan terjadi selama gondola bergulir.

Saya hanya memotret-motret dan memperhatikan 3 pemuda nelayan yang asyik memancing. Saya lalu melihat ke sisi lain dan melihat Pantai Timang. Sebuah pantai yang cukup sempit dan sepi. Saya rasa orang yang datang memang lebih tertarik untuk langsung naik ke bukit dan melihat keindahan laut.

Saya berada di sana ketika matahari sudah melewati titik tengah, mulai terasa menyengat. Saya pun memutuskan untuk meninggalkan lokasi setelah sejenak turun ke bagian pantai.

Saya sangat senang bisa ke Timang dan membuktikan sendiri jalanan yang ketika saya lewati saat pulang, mulai terasa menyenangkan.

Oh ya ada hal lain yang juga perlu dipastikan kondisinya jika membawa (setidaknya) sepeda motor dan akan ke Pantai Timang:

1. Kondisi ban tidak gundul. Lebih baik Anda berjalan kaki 8 kilometer ketimbang berisiko besar slip ban, jatuh, malu, dan nggak ada yang nolongin.

2. Rem tangan dan rem kaki berfungsi maksimal. Dua komponen ini adalah penentu keselamatan berkendara Anda.

3. Gas berfungsi maksimal dan tidak eror. Anda hanya membutuhkan gas kecil saja, jangan ngebut atau bernafsu ingin segera sampai di tujuan.

4. Ada shock breaker. Selama perjalanan, Anda akan sering berguncang. Shock breaker akan menyelamatkan pantat Anda dari risiko tepos dini.

5. BBM mencukupi. Kehabisan bahan bakar ketika melewati jalanan berbatu itu hanya akan membuat Anda menggerutu berkepanjangan.

Oke, saya rasa cukup itulah cerita perjalanan saya kali ini. Kalau Anda pingin ke Pantai Timang juga, lebih baik bawa mobil aja, kalau ragu bisa melewati jalanan off road dengan motor. Tapi kalau Anda punya mental kuat, Anda harus banget nyobain apa yang udah saya coba.

 

Jogja, 4 Januari 2013

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response