Hari 6: Alasan Kamu Pantas Memiliki Pasangan yang Baik #7DaysKF

Hari 6: Alasan Kamu Pantas Memiliki Pasangan yang Baik #7DaysKF
Memiliki Pasangan yang Baik. Sumber gambar: flickr.com

Pertanyaan hari ke-6 #7DaysKF sepertinya hanya bisa dijawab oleh mereka-mereka yang belum punya pasangan, sedang mencari pasangan, atau sedang mencari pasangan baru meski sudah punya, karena merasa pasangannya kurang ideal. Saya memasukkan diri ke kategori nomor 1. Belum punya pasangan belum tentu mencari. Belum punya pasangan adalah sebuah level yang sangat nikmat, menjadi independen itu adalah sebuah tahap yang sulit terjelaskan secara detail betapa menyenangkannya, bagi yang beruntung.

Selama ini, belum punya pasangan selalu ditempatkan sebagai fase penuh penderitaan sehingga orang lain akan dengan mudah “menasihati tanpa diminta bahkan tidak melihat waktu yang tepat” agar segera mendapat pasangan, menikah, punya anak, blablabla. Tidak semua sih, banyak orang di luar sana yang sedikit banyak paham, bahwa being single is not a suffering life at all, jika kamu mampu mengisi hidupmu dengan hal-hal berguna bagi orang lain. That’s the point. Ketimbang, kamu sudah menikah tetapi membuat kecurangan-kecurangan kepada pasanganmu sendiri, selalu merasa bahwa hidupmu lebih baik tetapi, everyone knows you well about your cheap cheating dirty lovelife. Oh come on! Ada orang seperti itu? Oh ya jelas, biasanya sih mereka berusaha terlihat perfect to cover up their evil side. Act like no bad things done. Whatever. God is not a DJ, right?

Saya tidak merasa diri saya baik, sehingga wajar jika terobsesi dengan orang baik. Seseorang yang kelak menjadi pasangan yang baik, demi keseimbangan dunia ini, seharusnya bertemu dengan orang-orang tidak baik. Baik dan tidak baik bukan sesuatu yang mampu terbaca oleh mata manusia. Baik dan tidak baik boleh jadi merupakan hasil dari penilaian-penilaian orang lain setelah berinteraksi. Alasan pertama saya itu. To balance the world. Maka, itu sebabnya orang sering menyayangkan mengapa si M bisa menikah dengan N, Bunga menikah dengan Mawar, Lebah menikah dengan Ganteng berdasarkan assesment pribadi. Baik itu dari sudut pandang siapa? Satu orang bisa menilai saya buruk, orang lainnya menilai saya buruk banget, yang lain menilai super duper buruk. Kan sudah saya bilang dari awal, saya bukan orang baik. Hanya Tuhan yang tahu assesment tiap-tiap makhluk-Nya yang 100% akurat. Itu disimpan di langit dan dijaga 5 ribu malaikat. Assesment psikologis bahkan bisa dimanipulasi dengan membanyak baca-baca buku psikologi. Seseorang bisa memiliki kadar IQ tinggi karena melatih diri dengan soal-soal yang cuma itu-itu saja. Bukan rahasia.

Alasan kedua, orang baik adalah mereka yang memiliki kadar pengertian tinggi. Kamu bisa punya separuh dari kekayaan dunia ini, tapi kamu mungkin sulit memiliki pengertian di tahap advanced. Dia itu lahir dari banyak pemakluman selama bumi ini berputar, dari pengalaman-pengalaman hidup di luar sana. Orang yang pengertian belum tentu mereka yang pakar dalam kitab-kita suci. Kita tahu itu. Kitab suci siapa pun boleh memegang, membaca, menafsirkannya. Dunia bahkan ujung-ujungnya hancur karena orang yang “memegang” kitab suci dan merasa dirinya suci. Golongan ateis mampu bersikap lebih humanis dan cinta damai. Tapi jumlah mereka sedikit, sayangnya. Ateis ya, bukan atletis.

Hanya orang baik yang menjaga dirinya sendiri. Alasan ketiga. Dunia adalah surga yang pantas untuk manusia. Kamu bisa menemukan godaan macam apa pun yang tidak bakal ada di surga. Di surga terlalu menjemukan untuk manusia dengan karakter kompleksnya. Kalau pun orang yang berlomba-lomba mengejar surga, itu adalah pilihan. Di surga tidak ada hukum alam. Tidak ada homo homini lupus, homoseksual juga barangkali yang dapat wildcard saja yang bisa masuk surga. Di dunia, satu hal utama yang sering dipesankan oleh orang-orang tua adalah: jaga dirimu baik-baik. Bagaimana bisa menjaga orang lain jika dirimu saja ditelantarkan? Orang baik tahu cara menjaga dirinya, tahu akan batas dirinya. Orang baik adalah orang yang cerdas berpikir dan berprilaku. Orang yang memiliki empati. Orang yang tidak menindas orang lain. Orang yang selalu lebih baik dari hari kemarin. Orang baik akan memandang dirinya setara dengan orang lain, terlepas dari perihal kepemilikan materi. Orang baik selalu tahu cara mencintai orang lain. Orang baik tidak akan menuntut “pengakuan baik” dari orang lain. Karena itu tidaklah penting.

Kalau kamu, punya alasan seperti apa hingga pantas memiliki pasangan yang baik?

 

Jogja, 16 Juni 2017

Leave a Response