Paterson (2016): Film Tentang Sopir Bus yang Puitis di Kota Paterson

Paterson (2016): Film Tentang Sopir Bus yang Puitis di Kota Paterson
Paterson (2016). Sumber gambar: IMDB

Cukup sering melihat trailer Paterson berseliweran di Youtube, tidak kunjung membuat saya tergerak untuk ingin tahu tentang film ini. Pemain utamanya Adam Driver. Bukan favorit saya terlebih setelah menonton penampilannya di Silence. Saya tidak habis pikir mengapa dia yang terpilih untuk memerankan Pendeta Garupe yang tinggi kurus.

Namun ketika akhirnya saya menonton lagi trailernya, besutan sutradara Jim Jarmusch ini adalah salah satu official selection di Cannes dan Toronto International Film Festival dan majalah Time memberikan komentar: A wonderful performance by Adam Driver, membuat saya mantap harus menontonnya. Paterson adalah nama kota yang dijadikan judul film, seperti halnya Manchester by the Sea yang dibintangi Casey Affleck (Ain’t Them Bodies Saints).

Paterson adalah nama tokoh utama yang diperankan Adam Driver. Paterson adalah judul buku puisi lima jilid karya William Carlos Williams, penyair ternama kelahiran kota tersebut dan namanya disebut berulang-ulang dalam film ini. Paterson adalah kota asal komedian Lou Castello. Tahu Abbot and Castello. Saya pernah menonton film kartun mereka yang tayang di TVRI. Paterson juga digambarkan kota yang banyak orang kembarnya.

Paterson merupakan seorang sopir bus dalam kota yang berkarakter teramat kalem. Tidak pernah yang namanya keluhan itu meluncur dalam mulutnya. Hal buruk sebagaimana pun selalu ditanggapinya dengan positif dan itu tidak mampu rusak meski sampai di titik kehilangan sesuatu yang dicintainya. Dia memilih tidak punya ponsel meski sang istri memintanya punya benda itu karena sewaktu-waktu dibutuhkan. Dia menulis puisi tapi belum terlalu pede untuk memperlihatkan karyanya pada orang lain.

Hidup bersama sang istri yang punya passion seni yang kuat. Senang mengecat apa pun yang bisa dicat. Senang mencoba hal baru meski itu membutuhkan biaya besar. Dia sangat sayang pada anjingnya si Marvin yang katanya mahal itu meski mukanya cuma bisa cemberut dan mengeluarkan suara geraman berat tiap kali melihat pemiliknya sedang bersenda gurau.

Film ini menyorot 7 hari kehidupan si sopir bus dari hari Senin sampai Minggu. Bangun tidur pukul 6 pagi, kadang 6.10 kadang 6.20. Di sebelahnya tidurlah sang istri berselimut dan tidak memakai busana apa-apa. Diambilnya jam tangan dari meja nakas di samping tempat tidur, mengenakannya di tangan kiri. Beranjak dari tempat tidur, menyiapkan sarapannya sendiri karena sang istri bangun siang. Berangkat kerja dengan seragam biru dan jaket menenteng kotak bekal berisi kue buatan istrinya dan termos stainless steel. Sebelum berangkat, dia duduk di kursi kemudi dan menulis puisi di buku catatannya sampai rekannya datang untuk mengecek dan sedikit bercakap-cakap. Bus meninggalkan garasi dan menaik-turunkan penumpang. Di dalam bus itu, dia kadang menyimak percakapan-percakapan penumpangnya. Waktu berlalu.

Dia pulang ke rumah. Di rumah selalu ada saja benda yang baru dicat sang istri. Tidak terbayang betapa baunya rumah itu. Mereka makan malam. Apa pun yang dimasak sang istri, selalu dimakannya tanpa berkomentar jujur. Tugas selanjutnya mengajak Marvin jalan-jalan. Sampai di depan bar, dia mengikat kalung Marvin lalu dia minum sampai larut malam di bar yang tenang. Orang yang datang ke bar hanya itu-itu saja. Namanya juga kota kecil. Kadang dia harus menyaksikan seorang lelaki yang mati-matian mengajak balikan mantan pacarnya.

Kehidupan Paterson bukannya bebas dari pemicu konflik. Sumbernya mana lagi kalau bukan dari sang istri, Laura, yang narsistik. Karena suaminya tidak pernah bilang tidak, dia bisa seenaknya saja memesan gitar mahal lewat online karena cita-citanya menjadi musisi country. Dia tidak sadar kalau pie buatannya tidak enak. Dia bisa seenaknya menyuruh suaminya yang mengajak anjingnya jalan-jalan tiap malam padahal Peterson sudah lelah seharian bekerja. Mereka tidak pernah bertengkar, mereka tidak pernah bercinta. Tidak ada waktu untuk bercinta.

Berputar-putar itu-itu saja. Tapi dengan mengikuti ke mana pun dia pergi, kita pun diajak berwisata di kota kecil tersebut. Menikmati lanskap yang damai ketika Paterson menulis puisi-puisinya. Atau saat dia berjalan-jalan sendirian. Atau ketika bertemu seorang penyair berdarah Jepang. Kota yang jauh dari hiruk-pikuk. Kota yang dihuni banyak ras.

Sayangnya, penampilan Adam Driver tidak dilirik oleh panitia Golden Globes maupun Academy Awards. Menang dalam Cannes pun jatuh pada si anjing untuk kategori Palm Dog.

Trailer:

Jogja, 15 Juli 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response