Sebut Saja Saya si Pekerja Serabutan yang (Kadang) Pelupa

Sebut Saja Saya si Pekerja Serabutan yang (Kadang) Pelupa
Si Pekerja Serabutan. Sumber gambar: pixabay.com

Di saat orang menyebut saya sebagai redaktur pelaksana, saya lebih suka disebut sebagai pekerja serabutan. Kerja 5 hari dalam seminggu, 8 jam per hari, dan lebih dari 5 pekerjaan saya kerjakan setiap hari. Perlu bilang WOW? Nggak perlu deh, karena itu memang sangat wajar. Banyak hal yang saya pegang, banyak tanggung jawab di sana-sini. Ada 3 editor dengan gayanya masing-masing kalo lagi ngedit, 4 desainer cover yang gonta-ganti kirim email berisi desain cover, 1 setter yang kalau sudah mendekati deadline minta proofreading kilat. Ada 1 pak bos yang BBM or emailnya bisa berisi banyak macem persoalan yang mesti didiskusiin.

Dengan sebegitu majemuknya, lupa jadi semacam alasan satu hal terbengkalai. Satu-satunya pengingat adalah buku catatan bersampul ijo yang selalu ada di dalam tas ransel yang saya bawa ke kantor. Untuk hal-hal “besar” saya catat di situ, itu yang nggak boleh ditunda-tunda, yah walaupun kalau memang dijejali pekerjaan lain yang lebih prioritas, mau nggak mau ditunda dulu pengerjaannya.

Tapi untungnya di sekitar saya banyak yang sabar soal mengingatkan hal-hal yang-tidak sengaja-terlupakan. Misalnya tadi pagi Pak Bos ngingetin buat baca 2 naskah, bagian desain yang nagih berbagai sinopsis untuk keperluan mereka, sekred yang mendata MoU, dan sebagainya. Semua pekerjaan itu pasti akan selesai, tapi tidak akan selesai dalam 1 waktu bersamaan.

Sedikit melenceng dari soal lupa, tadi siang saya membuat jadwal khusus untuk menghubungi Mas FX Rudy Gunawan. Saya tahu dia adalah pendiri Gagasmediadan juga penulis, saya bahkan sudah mendengar nama dia sejak saya masih kuliah, meski belum pernah membaca karyanya. Ok, skip that.Sebelum saya menghubungi dia, pasti saya WA dulu. Ya, saya paham, dia pasti sibuk dan sebagai orang yang lebih muda, bersikap sopan itu kudu. Begitu dia bilang bisa ditelepon, langsung saya hubungi.

Dengan Mas Rudy, saya dihubungkan oleh marketing DIVA, dia memang link nya banyak dan saya paham maksud dia mengoneksikan kami berdua. For business of course.

Selama di telepon, saya tidak banyak bicara, apalagi keluar dari konteks pekerjaan. Saya bukan siapa-siapa dan agak canggung. Tapi bisa itu akan biasa. Mas Rudy jelas bukan satu-satunya penulis yang saya incar.

Di redaksi remaja, jumlah penulis dengan banyak karya bisa dibilang minim. Kenapa? Ya karena saya orang baru dan masih mencari-cari jalan. Tapi jujur, ada kebanggaan sendiri ketika penulis-penulis kenamaan karyanya bisa terbit dengan imprint de TEENS, PING, GACA, Mazola, atau Senja. Itu prestise. Bukan berarti memandang sebelah mata penulis-penulis baru lho. Hanya ada sensasi yang tentu akan berbeda. Ada kebanggaan yang pantas. Ada perjuangan dan kepuasan yang lebih.

Oh ya pekerjaan saya juga terpusat di BB. BBM, email, SMS, Whatsapp, LINE, facebook, twitter. Dan saya baru tahu kalau BBM tidak menyimpan percakapan lama (yang lama banget). Padahal saya tidak mencatat beberapa BBM sehubungan pekerjaan di agenda. Dan ngeselin juga.

Jadi gini, seorang kawan akan melangsungkan pernikahan di awal tahun depan, dia ingin pesen buku dia sebagai suvenir gitu deh. Saya hanya samar-samar ingat, apakah dia membutuhkan buku itu pas resepsi di bulan yang sama atau bagaimana. Lalu saya buka lagi percakapan BBM saya dengan dia. Dan taraaaa!! Ternyata sudah tersingkir dengan percakapan yang lebih baru. Nyebelin ya. Tapi saya tetap berusaha agar itu bisa terwujud. Ya saya berharap keinginan itu bisa terwujud. Why not? Selain bisa memberikan suvenir pernikahan yang keren, juga dapat legitimasi sebagai penulis.

Is that so?

Apa sih tujuan utama orang ngehilangin rasa malu or nggak pede ketika nawarin naskah ke penerbit. Ya biar bisa punya buku? Atau biar diakui sebagai penulis? Kalau dibilang biar disebut penulis, kurang tepat. Media menulis itu banyak, mau di media online, offline, tetap disebut penulis.

Nggak percaya, ini yang tertulis di KKBI offline:

pe·nu·lis n 1 orang yg menulis; 2 pengarang

Tidak disebutkan bahwa penulis itu adalah orang yang punya buku? Atau punya profesi sepenuhnya menulis. Tidak ada batas minimal berapa tulisan yang dia buat untuk disebut sebagai penulis. Sehalaman, satu cerpen, satu novel, satu rak buku, etc. Bukti tulisan sebenarnya banyak banget bentuknya, mau yang dicetak, atau versi ebook, atau cuma tulisan di blog. Esensinya sama. Itu karya dalam bentuk tulisan. Beda dengan pelukis yang definisinya:

pe·lu·kis n orang yg berprofesi melukis (seniman dl seni lukis);

So, apakah sebutan “penulis” itu jadi semacam prestise tersendiri sehingga, bila belum sampai ke tahap punya 1 karya belum “sah” disebut penulis? Atau seseorang tidak pantas pede dengan karyanya yang memang tidak diniatkan untuk dibentuk ke dalam buku? Silakan menjawab.

 

Sabtu, 5 Oktober 2013

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response