Peluru di Rumah Itu; Kisah Seorang Anak yang Menunggu Kepulangan sang Ibu

Peluru di Rumah Itu; Kisah Seorang Anak yang Menunggu Kepulangan sang Ibu
Peluru di Rumah Itu. Sumber gambar: pixabay.com

Cerpen keempat berjudul Peluru di Rumah Itu dituliskan oleh Majenis Panggar Besi dengan bahasa ringan dan teknik flashback-forward untuk mendapatkan penggambaran lebih rinci terhadap kejadian-kejadian yang menimpa Alamanda si aktivis yang keras mengkritik pemerintah, Ben sang suami yang memilih mencari aman demi keluarganya, Arianna di bocah lima tahun yang merindukan kehadiran ibunya kembali dan menanti semangkuk bakso yang dijanjikan sang ayah, serta Mbok Nem si pembantu kepercayaan Alamanda yang diserahi tugas menjaga Arianna jika suatu saat terjadi sesuatu.

Cerpen ini dibuka dengan didobraknya pintu rumah oleh orang-orang yang tak dikenal di suatu malam. Itulah terakhir kalinya Alamanda terlihat dan tidak pernah lagi terdengar kabarnya. Serupa dengan kasus orang-orang hilang yang sampai sekarang tidak terselesaikan, raibnya Alamanda tidak berlanjut ke ranah hukum. Para pelakunya pun masih bebas berkeliaran sebab mereka terlindungi oleh pihak yang kuat. Alamanda sudah menyiapkan diri dengan situasi kritis, yang menurut Ben adalah sebuah paranoia belaka.

“Mulai hari ini, kita tidak boleh berangkat dan pulang kerja bersama.”

“Kamu terlalu berlebihan.”

“Kalau ada sesuatu terjadi, setidaknya hanya salah satu dari kita yang mati.”

“Cukup.”

“Aku memikirkan Arianna. Dia tidak boleh kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.”

Ben yang tahu betul akan berbahaya posisi Alamanda yang juga awak media, bukan tanpa alasan berusaha bersikap tenang. Sebab hingga malam itu, tidak ada peristiwa buruk yang terjadi. Keluarga kecil mereka baik-baik saja. Alamanda bahkan masih bisa menanam mangga bersama si kecil Arianna.      

Di halaman, tumbuh sebatang mangga yang masih muda. Belum pernah berbuah. Alamanda yang menanamnya, pada ulang tahun Arianna yang kelima beberapa bulan lalu, dibeli dari penjual bibit buah keliling. Konon, ini bibit mangga yang buahnya berwarna ungu. Alamanda menenteng bibit mangga di tangan kanan, dan menggandeng Arianna di tangan kiri.

Kesiapan Alamanda juga dirasakan oleh Mbok Nem. Alamanda sudah memberikan pesan-pesan yang baru di kemudian hari dipahami oleh si pembantu rumah tangga. Kata kuncinya adalah peluru. Peluru akan menjadi pelindung bagi diri, tapi juga pembunuh yang berbahaya. Alamanda menyiapkan peluru, meski dia tahu, akan banyak moncong senjata yang siap meletus ke arahnya.

Peluru-peluru yang tuan simpan dan siap untuk dibidikkan, memang akan menyalak sesuai waktunya. Mencakar dan menghabisi tubuh-tubuh yang tidak diingini. Akan tetapi, tuan mungkin tidak menyadari akan muncul peluru lain yang lebih ganas dan akan menyerang tuan lebih ganas. Peluru-peluru itu akan datang menuntut balas, hingga tuntas.

Kita tidak diberikan penceritaan dengan cukup jelas dengan apa yang menimpa Arianna di malam itu, setelah pintu didobrak. Hanya saja kalimat-kalimat berikut menjadi petunjuknya.

Di ruang tamu, Mbok Nem sedang memegang lap basah dan berulang-ulang menggosokkannya pada daun pintu. Lantai di sekitar pintu basah dan amis.

Asusmsi saya, amis itu berasal dari darah Alamanda yang tersisa di tempat kejadian. Ditambah lagi Arianna sempat melihat ibunya berada di tengah kobaran api.

Mbok Nem sudah paham dengan apa yang akan terjadi. Dengan segera ia menggendong Arianna menuju belakang rumah. Arianna menurut saja; tidak meronta. Gadis kecil itu masih sempat melihat Alamanda yang mengenakan blus warna biru laut diselimuti kobaran api.

Apakah Alamanda dibakar seperti yang dilihat oleh Arianna? Saya meragukan hal itu, sebab tidak disebutkan adanya bekas kebakaran sama sekali. Dan mereka kembali ke rumah tidak lama setelahnya seolah tidak ada kekhawatiran Arianna mengalami trauma. Anak itu tidak mencari ibunya, sebab ayahnya masih ada. Meskipun Ben tidak pernah menepati janji untuk membelikan bakso. Bakso adalah makanan favorit Arianna dan ia senang ketika disuapi oleh ibunya.

Ben mungkin lupa untuk pulang cepat sehingga warung bakso Mang Sujak keburu tutup. Susu cokelat di meja menjadi dingin dengan sia-sia. Arianna ingin bakso Mang Sujak, bukan susu cokelat yang menjemukan. Barangkali itu bisa menjadi penawar rindunya pada Alamanda. Arianna kembali teringat bagaimana Alamanda dengan telaten menyuapi bakso ke mulutnya sementara ia sibuk mengajak Kitty—panggilan Arianna untuk boneka Hello Kitty—berbicara.

Cerpen Peluru di Rumah Itu dipenuhi banyak misteri yang mendorong pembaca untuk menduga-duga, mereka ulang kejadiannya secara utuh. Boleh jadi akan banyak persepsi yang bermunculan.

 

Jogja, 9 April 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response