Hari 4: Apa Peristiwa Sangat Memalukan di Masa Lalumu? #7DaysKF

Hari 4: Apa Peristiwa Sangat Memalukan di Masa Lalumu? #7DaysKF
Peristiwa Sangat Memalukan. Sumber gambar: flickr.com

Sudah memasuki setengah perjalanan tantangan menulis #7DaysKF, artinya semakin sulit mencari jawaban-jawaban manipulatif. Jika tantangan hari-hari awal bisa diselesaikan kurang dalam 1 jam, saat menulis ini, saya masih mencari-cari jawabannya.

Melihat kembali ke masa lalu adalah bukan sesuatu yang saya senangi. Suka saja jika apa yang telah terjadi tersimpan rapi dalam kepala saya dan cukup saya akses di waktu-waktu tertentu. Terlebih itu adalah hal yang memalukan. Mungkin karena saya sering mengalaminya dan orang-orang di luar sana pun mengalaminya.

Apakah jatuh tanpa sebab ketika tiba di kantor termasuk peristiwa sangat memalukan? Saya pastikan waktu itu saya tidak berada dalam pengaruh alkohol atau jampi-jampi apa pun. Selesai memarkirkan motor di halaman rumah orang yang disewa pihak kantor sebagai tempat parkir, saya jalan. Saya yakin tali sepatu saya baik-baik saya, atau tidak bertali ya? Jarak antar tempat parkir dengan kantor hanya sepuluh langkah. Dan di gerbang parkir, saya seperti kesandung dan terjerembap, bagian lutut celana saya robek dan basah karena ada genangan air dangkal. Saya memilih pulang untuk ganti celana celana dengan masih sebuah tanda tanya besar di kepala: Tadi kesandung apa sih?

Mau cerita kesandung lainnya? Sewaktu SD, saya dan teman-teman di jam istirahat, kalau tidak salah saya masih kelas 4, di apa ya namanya? Gini, di sekolah saya ada tempat duduk panjang yang dibuat dari semen. Tidak begitu tinggi karena yang bakal duduk situ ya anak-anak SD. Semeter juga tidak sampai, bangkunya lho, bukan sayanya. Nah, kemudian, ada beberapa siswa SD terlalu aktif yang mengalihkan fungsi bangku tersebut dengan naik ke atasnya lagaknya olahraga otot gitu ya. Naik-turun-naik-turun berlomba-lomba. Lalu salah satunya terlalu bersemangat sehingga bukannya turun ke belakang tapi ke depan setelah kehilangan keseimbangan. Jatuhlah saya dengan badan lebih dulu. Setelah itu, saya paling ogah olahraga sejenis yang begitu, bahkan di anak tangga yang pendek-pendek sekalipun.

Di SMA, di hari pertama olahraga, kami pemanasan dengan lari mengelilingi garis luar lapangan olahraga. Dulu saya masih benci setengah mati dengan lari, berhubung saya belum selangsing dan seterlatih sekarang. Saya lari berkelompok dengan teman-teman yang baru saya kenal. Kami kelas 1C. Harap maklum kalau belum ikut sistem kelas eks, eks i, dan eks i i. Saya lari-lari kecil sambil ngobrol dengan beberapa teman. Belum sampai satu putaran, kalau saya tidak salah ingat, saya jatuh lagi, dengan badan bagian depan lebih dulu. Tidak ada yang salah dengan jalan aspalnya. Percayalah, yang terasa bukan rasa sakitnya, rasa malunya itu lhoh! Lagi-lagi celana di bagian lutut robek dan lutut saya berdarah. Celana olahraga jatah dari sekolah swasta yang bergengsi di Jogja dan tukang tawuran itu resmi pensiun dini.

Masih banyak kejadian-kejadian tak terjelaskan sejenis itu terjadi dalam kehidupan saya. Seberhati-hati apa pun. Celana robek, lutut berdarah, paha memar, kaki keseleo, kacamata pecah berkeping-keping, dan sebagainya. Seharusnya peristiwa-peristiwa seperti itu tidak perlu terjadi jika saya cukup berada dalam satu kondisi: fokus.

Kamu pernah mengalami peristiwa sangat memalukan seperti apa?

 

Jogja, 14 Juni 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response