Personal Literature; Buku Catatan Harian Penulis yang Berdaya Magnet

Personal Literature; Buku Catatan Harian Penulis yang Berdaya Magnet
Personal Literature. Sumber gambar: pixabay.com

Belakangan, saya mulai sering menerima naskah-naskah berjenis personal literature. Ini adalah karya nonfiksi yang mulai naik daun semenjak Kambing Jantan atau Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika. Orang-orang pun berlomba-lomba membukukan tulisan pribadi di blog lalu menawarkannya ke penerbit, termasuk DIVA. Sebagian besar itu berusaha meniru Dika, dari bahasa sampai konten. Ya, siapa sih yang nggak pingin setiap bulan karyanya terjual sampai ribuan eksemplar? Cuma dari satu buku aja udah kaya raya, punya rumah punya mobil.

Okeyy sedikit banyak saya tahu bagaimana proses Dika menjadi terkenal. Perjalanan dia panjang. Dia punya karakter. Dia punya “modal” yang sangat besar. Dan itu tidak bisa di-copy paste dengan mudah.

Nah kembali ke soal orang-orang yang menawarkan naskah berupa personal literature. Saya ketika membaca, dari bab awal sudah merasa bosan. Temanya hanya berputar di kejombloan, patah hati, nyari pacar dan sebagainya.
Poin yang tidak kalah penting soal Radit, dia punya “fan base”.

Saya mengakui bahwa fan base itu adalah nilai plus yang sekiranya bisa melampaui Radit secara instan. Gini deh, misal punya temen 10 ribu orang (entah itu teman dunia nyata sampai yang maya), sebulan ada 500 yang beli buku itu, 3 bulan jadi bestseller nasional. Kalau udah  bestseller, posisinya di toko buku akan “naik derajat” alias makin mudah dilihat orang, nggak di rak paling bawah apalagi ketutupan buku-buku lain. Nah itu baru 1500 orang yg beli. Masih ada 8500 lagi yang bakal beli. Ditambah sama orang-orang yang dapat rekomendasi buat beli buku itu.

Itu kalau punya banyak teman, kalau nggak? Kalau dari kontennya aja nggak bagus, orang buat apa beli? Nggak ada nilai yang bisa didapatkan.

So, naskah-naskah yang tidak punya potensi pasar untuk apa diterima? Ya, setiap bulan saya dapat laporan penjualan dari pihak marketing. Ada 4 jenis laporan yang masuk ke inbox email saya setiap tanggal 10. Keempat laporan dalam format excel itu akan saya pelajari dan yang pertama saya lakukan ada bengong sejenak melihat buku-buku Raditya Dika masih bertahan di ranking atas penjualan. Selain itu, novel-novel dari Gagas Media semakin membuat saya menghela napas panjang. Luar biasa. Lalu saya akan lebih detail mencari mana saja novel-novel teenlit DIVA Press Group yang penjualannya di atas 300 per bulan. Jumlahnya tidak sebanding dengan dua penerbit yang saya sebutkan tadi.

Ini yang membuat saya semakin selektif dalam hal konten buku, karena kalau sudah soal penjualan, sudah dipegang sepenuhnya oleh marketing.Menemukan naskah “shine bright like a diamond” itu benar-benar sulit. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Masih banyak yang mengirimkan naskah yang sesuka-sukanya sendiri. Naskah saya masukkan kategori tidak layak terbit. Dan personal literature masuk ke dalamnya. Jika kamu hannya seorang mahasiswa tanpa “the diamond value” sebaiknya kamu buatlah prestasi terlebih dahulu. Saya hanya bisa bilang persaingan dalam bisnis buku itu berat.

Jogja, 26 Juni 2013

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response