Proyek Buku Bareng Bernard Batubara yang Tak Kunjung Usai

Proyek Buku Bareng Bernard Batubara yang Tak Kunjung Usai
Bernard Batubara dan tim saya. Sumber foto: Avifah Ve.

Selamat Hari Olahraga Nasional, people! Rajin-rajinlah olahraga karena tubuhmu perlu dirawat kesehatannya. Nggak usah olahraga berlebihan juga kalau fisik memang tiap orang berbeda-beda kekuatannya. Hari ini saya bangun kesiangan padahal kemarin malam sudah niat mau ke Mangunan. Halah, begadang kok pede bisa bangun pagi. Besok lah ya.

Oh ya, berhubung hari ini saya di kosan aja, rencananya mau nulis review Ozark sama The Good Fight, tapi bolehlah saya nulis dikit soal Bernard Batubara. Kemarin, saya bawa tim buat meeting tentang buku dia yang di penerbit tempat saya bekerja belum juga terbit hingga tahun mau berganti.

Sebelum saya nulis tentang buku si Bernard Batubara (dia merasa keren kalau dipanggil Bara. Dari Batubara. Asal kau yang tidak tahu ya, Batubara itu adalah nama marga dalam komunitas Batak. Untung hanya penulis tengil itu saja yang entah ide dari mana memotong nama marganya untuk dijadikan nama panggilan. Yah secara nama marga saya nggak indah kalau dijadikan nama panggilan. Pas SMA, ada tuh teman saya yang manggil Lubis. Are you out of your mind?), saya flash back sedikit.

Nggak suka kalau saya menyebut si Bara itu “tengil”? Kamu pasti fans-nya ya? Saya panggil Bernie aja gimana, biar imut, lah.

Nah, sekitar setahun lalu kalau tidak salah, akhir tahun 2016, Bernie setuju untuk menerbitkan kumpulan curhatan dia di Steller. Dengan sejumlah prasyarat panjang, akhirnya doi mau tanda tangan juga. Salah satu dari marketing kantor memang sudah lama mengincar Bernie yang masih menjadi idola remaja yang… tidak begitu menggemari BTS dan boyband Korsel berwajah cantik di luar sana.

bts
Sumber gambar: fuse.tv

Bernie saat ini punya 99,9 ribu follower twitter, dan 16,5 ribu follower Instagram. Angka potensial untuk menarik banyak pembaca buku yang sekian lama termehek-mehek pada pesonanya. Semua followernya beli buku dia, itu adalah anugerah Tuhan yang paling indah. Dari pengamatan saya, Bernie punya poin plus dan badannya yang tinggi, cuitannya yang sangat melankolis, dan sisi misterius. Misterius bagi yang belum tahu dia aslinya seperti apa.

Emang aslinya seperti apa? Ih kepo.

Jadwal rilis buku Bernie yang berturut-turut di penerbit tetangga membuat penerbit saya bingung untuk menentukan jadwal terbit di tahun 2017. Sampai saya berpikir, ini penggemarnya apa nggak tekor kalau setahun harus beli 5 judul buku yang harganya tidak murah? Tapi Bernie mungkin sedang menabung untuk melamar kekasihnya. Mungkin orang tuanya sudah nagih menantu dari lama. Sabar ya, Bernie, ini ujian.

Hingga saya rasa, saya nggak mau terus “terbebani” dengan tuntutan dari marketing dan juga naskah khusus yang tak kunjung terbit. Ini harus diakhiri secara jantan.

Maka, tim penerbit yang sempat meninggalkan penggarapan buku itu, akhirnya bergeliat kembali. Naskah itu belum ada yang beres satupun untuk tata letak dan sampulnya. Sampul yang sempat dipublikasikan, tertolak dari pihak distributor karena dinilai kurang greget. Bara pun berada dalam tahap gamang dengan tata letak yang menurutnya tidak mungkin sama dengan di steller yang hanya bagus terlihat di layar ponsel, tidak untuk tampilan cetak kelak.

Tarik napas. Martin Garrix, tolong genggam tanganku.

martin garrix
Sumber gambar: widefuture.com

Kemarin, saya bawa tim ketemu dengan Bernie di salah satu kafe tempat nongkrong dia. Sebuah kafe yang kecil di mana mejanya kecil-kecil hingga kami harus duduk berdempet-dempetan sambil berpelukan. Bo’ong tapi.

Kami janjian sore hari dan Bernie datang belakangan. Kami mulai dengan sedikit basa-basi dan wajah-wajah tegang. Padahal pembicaraan kami sebenarnya santai saja. Lebih tepatnya diskusi untuk tata layout yang menurut saya memang jauh lebih perlu diutamakan. Penggarapannya lebih butuh waktu panjang. Untuk sampul, saya mengusulkan untuk foto dia. Dengan pertimbangan bahwa Untuk Seorang Perempuan yang Memintaku Menjadi Hujan, adalah tulisan personal. Itu saya pandang sama dengan CD album musik. Lagi pula, faktor tampilan penulis juga salah satu penentu seseorang pembaca untuk jadi pembaca setia, apalagi memang sejak awal, Bernie senang memosting foto diri.

Maka, tata letak yang pada awalnya penuh foto, akhirnya diputuskan untuk diganti dengan ornamen-ornamen yang lebih estetis. Beberapa foto memang tidak begitu baik kualitasnya, karena diambil dari kamera ponsel.

Selesai bersepakat dengan tata letak, maka saatnya untuk membahas pewajahan. Obrolan kami mulai mencair perlahan. Begini, kamu tidak akan bisa membuat orang lain tertawa kalau orang lain tidak memberikan sinyal dia bisa tertawa. Demikian sebaliknya. Dan dengan sedikit perubahan suasana, kami pun bisa lebih leluasa memberikan ide-ide yang bisa dipertimbangkan. Bernie ini tipe orang yang senang melihat potret dirinya sendiri, seperti kebanyakan orang di luar sana sebenarnya. Sayangnya, dia tidak punya banyak foto bagus. Untuk ukuran penulis yang tidak hanya menjual karya, itu sangat saya sayangkan. Tidak salah kok punya stok foto bagus, karena sewaktu-waktu dibutuhkan. Teman-teman saya yang penulis dan berwajah good looking, biasanya bekerja sama dengan fotografer untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tidak harus memakai jasa fotografer profesional, karena zaman sekarang, anak SMA aja udah megang DSLR walaupun cuma dipakai motret tiang listrik atau pohon mangga tetangga sebelah.

Dari pertemuan itu, tim saya pulang dengan membawa PR untuk mulai dikerjakan. Semoga buku ini benar-benar bisa rilis November 2017.

 

Jogja, 9 September 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response