Raees (2017); Film Tentang si Penjual Miras Sukses di Tanah Gujarat

Raees (2017); FIlm Tentang si Penjual Miras Sukses di Tanah Gujarat
Raees (2017). Sumber gambar: moviepostershop.com

Heran dengan trailer film Raees yang ditonton hingga mencapai 47 juta kali, adalah faktor pertama saya memutuskan untuk menonton segera. Faktor kedua, adalah sudah lama sekali saya tidak melirik film India. Ketiga, dibintangi Shah Rukh Khan. Terakhir saya menonton Ra-One.

Dirilis sejak 25 Januari lalu, film Raees baru minggu ini diputar di Jogja. Ketika bioskop franchise tetangga memutar film bernuansa Imlek, CGV memasukkan film India yang tokohnya adalah seorang muslim Syiah. Ada 2 scene yang menampilkan peringatan Karbala. Pertama, saat para pemuda mencambuki tubuh sampai berdarah-darah. Kedua, di saat 1 Muharram di mana semua orang mengenakan pakaian hitam karena berkabung. Oke, tidak perlu panjang lebar mengusik tentang perkara syiah. India memang banyak penganut Syiah.

Raees adalah nama Arab, sebagaimana umumnya umat Islam memilih nama-nama Arab ketimbang dari bangsa lainnya. Lahir di sebuah distrik Gujarat yang terkenal dengan bisnis miras. Oplosan maupun impor berharga mahal. Bisnis itu berlangsung bertahun-tahun tanpa khawatir diusik polisi, walaupun undang-undang melarang dengan tegas. Dia dan anak-anak lain sudah terbiasa dengan lalu-lalang botol-botol minuman. Orang-orang tua pun tidak melarang anak-anak mereka mendekati pabrik miras. Operasi yang diadakan polisi sering kali gagal, karena jasa kode-kode siulan anak-anak. Dalam sekejap, barang bukti disembunyikan di mana saja.

Raees adalah seorang anak cerdas, kekurangannya adalah di mata. Sejak kecil dia sudah harus menggunakan kaca mata. Hal pertama yang dilakukannya untuk mendapatkan uang adalah dari menyelundupkan miras dalam tas sekolahnya. Seth adalah salah seorang distributor minuman keras. Dialah yang pertama kali membaca bakat keberanianya. Bertahun-tahun bekerja pada Seth, dia menginginkan satu langkah maju, membuka usaha sendiri. Seth bersedia melepas dengan syarat membayar sejumlah uang. Otak cerdas sang pemuda bekerja dengan cepat. Dan itu mempertemukannya dengan Musa. Lepas dari satu mulut buaya, masuk ke mulut buaya lain. Kerja keras berbuah manis, uang mengalir masuk dalam pundi-pundinya. Masuk pula dalam target operasi polisi. Seorang komandan nan tegas memberantas bisnis ilegal, adalah musuh baru yang sulit disuap. Ribuan botol minuman dihancurkannya. Tapi, sang pemimpin bersahabat dengan pejabat pemerintahan hingga tak khawatir akan diganggu. Tapi, Majmudar tidak begitu saja menyerah. Jadilah Raees kucing-kucingan menyelundupkan miras ketika bocor kabar si polisi berencana menciduk truk-truk pengangkut.

Perjalanan waktu mengantarkannya tidak hanya sebagai pedagang miras, tapi juga suami dan ayah yang bertanggung jawab. Aasiya adalah perempuan yang penuh pengertian. Di saat krisis bagaimana pun, selalu ada di samping suaminya. Dia bahkan menjadi salah satu tim sukses sang suami ketika mencalonkan diri dalam pemilu, yang bertujuan mengamankan bisnis dari orang-orang licik.

Raees yang telah berhasil menarik simpati dari penduduk setempat, membuat sebuah rencana besar membuat pemukiman, cita-cita itu telah ada dalam kepala sebelum menikahi Aasiya. Dia berhasil meyakinkan warga bahwa apa yang dibangunnya bisa dimiki tanpa membayar mahal.

Bisnis kotor tetap saja kotor. Majmudar masih juga mengincar sang target tanpa peduli sang pengusaha punya jiwa sosial tinggi.

Film ini menyampaikan berlapis kritik sosial di masyarakat, termasuk soal dua golongan berbeda agama. Bahwa Berhubung kita menganut agama tertentu, berarti bisa menghancurkan yang lain. Enak saja, kata Raees.
Raees menawarkan film drama, action, dan komedi sekaligus.

Trailer film Raees:

Jogja, 2 Februari 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response