Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan; Kisah-Kisah yang Terpenggal

Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan; Kisah-Kisah yang Terpenggal
Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan;. Sumber gambar: pixabay.com

Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan karya Aris Rahman merupakan satu-satunya cerpen yang terbilang cair—saya sendiri menganggapnya terlalu cair—dengan ketiadaan narasi deskriptif di dalamnya. Terdiri dari 17 percakapan sejumlah tokoh yang membuat pembaca harus menebak-nebak kejadian apa yang sebenarnya sedang berlangsung, setting waktu yang tidak disebutkan, sehingga dalam hal membangun suasana menjadi lemah.

Ketika menjadi pembicara di acara Kampus Fiksi 20 akhir Maret lalu, Agus Noor mengatakan bahwa dialog setidaknya memiliki 4 fungsi.

  1. Sebagai pemanasan jika diletakkan pada awal kisah
  2. Sebagai jalan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh
  3. Sebagai variasi pada narasi
  4. Sebagai bagian dari plot

Rekaman-Rekaman yang Diselamatkan oleh Tuhan bisa dikatakan sebagai sebuah eksperimen dalam cerita pendek namun akhirnya menciptakan sejumlah tanda tanya di benak saya. Seputar tokoh, setting, konflik, antiklimaks, dan keterkaitan antarunsur. Dalam cakupan lebih luas, apa fungsi dari rekaman-rekaman tersebut? Mnegapa Tuhan menyelamatkannya?

Ketika masa penjurian, saya mempertanyakan kepada juri lainnya dengan konsep rekaman yang menjadi bentuk keseluruhan cerpen. Bagi saya, rekaman tidak hanya perkara suara tokoh, tapi akan ada suara-suara yang masuk di dalamnya. Bedakan rekaman dengan percakapan. Seperti saat mendengarkan sandiwara radio. Saya termasuk orang yang suka dengan drama yang dikemas sebuah stasiun radio untuk event tertentu atau memang ada jam khusus. Saya bisa mengikuti ceritanya tanpa saya harus meninggalkan aktivitas. Misalnya saya tetap bisa mendengarkan sambil berlatih yoga, atau bikin pizza. Dalam sandiwara-sandiwara radio, kita tidak hanya disuguhkan dengan percakapan. Ada juga suara desah napas, pintu mobil dibuka, telepon berbunyi, kertas dirobek, orang yang nge-drift, dan sebagainya.

Cerita ini dibuka dan dipanaskan dengan percakapan Mei dan Raf. Mungkin Rafael, Rafia, Saraf, atau terserahlah. Dalam percakapan saat makan malam itu, mereka membahas mulai dari masa lampau, otak manusia, kucing jantan yang disebut Mei biadab dihubungkan dengan hewan kesayangan Nabi. Berhenti sampai di sana.

Percakapan kedua, antara Jessi dan Dan. Daniel, Komandan, Pasundan, atau siapalah itu.

REKAMAN 2

“Jessie, apa yang kau lakukan di sana?! Cepat turun!”

“Jessie, kumohon turunlah!”

“Jessie, aku mencintaimu, kami semua mencintaimu!”

“Jessie, semua kekacauan ini sudah berakhir! Jessie, aku menerimamu apa adanya!”

Saya tidak menangkap maksud dari perintah “turun”. Dari kursikah, dari tahtakah, atau turun harga? Yang pasti dia berada dalam posisi yang mencemaskan Dan hingga (lelaki) itu meminta Jessi turun karena yang dilakukannya berbahaya.

Masih di percakapan yang sama:

“Kau adalah wanita yang baik, Jes!”

“Tapi aku tak bisa memelihara keturunanmu, Dan. Aku sudah tak bisa lagi menyu—”

“Hentikan ucapanmu, Jes!”

“Semua sudah berakhir, Dan. Semua sudah berakhir…”

Kata “menyu—” membuat saya harus menebak-nebak merujuk ke kata apa. Menyudahi? Menyusui? Menyusuri? Menyukai? Apakah ini cerita tentang perempuan yang sudah tidak menyukai laki-laki? Seandainya ada penjelasan setelahnya maka prasangka saya bahwa kisah ini adalah LGBT akan terhapus. Tunggu, bisa jadi ada dalam percakapan selanjutnya.

REKAMAN 3

“Tidak-tidak, dengerin dulu! Begini, apa tak sebaiknya kita ke apartemen daerah PIK?”

“Emangnye ade ape di sane?”

“Di sana banyak babi cewek!”

“Wah, boleh juga tuh! Tapi kan di sane ade yang jage?”

“Lah, elu gimane sih? Kan kita nggak sendirian?”

“Iya juga, ya. Bentar, gua ambil silet.”

“Lah, buat apa?”

“Diem aja lu!”

Percakapan 3 adalah tentang dua orang lelaki berlogat Betawi (saya tidak bilang mereka orang Betawi sih) yang sedang membuat rencana ke apartemen daerah PIK untuk mencari “korban” yang mereka sebut—maaf—babi cewek. Pertanyaan saya adalah, siapa dua lelaki ini yang tiba-tiba memilih apartemen tersebut dan untuk apa salah satu dari mereka menyiapkan silet? Apakah tidak ada benda tajam lain yang sekiranya jika dipegang tidak akan melukai diri sendiri? Memang sih, membawa silet masih lebih sangar ketimbang lipstik Wardah.

Kemudian, setelah membaca percakapan ini, saya kembali ragu, apakah hanya terjadi di antara dua orang ataukah lebih? Saya memberi pembeda dengan memiringkan tokoh pertama dan kedua. Baris 1, 3, 5, dan 7 apakah memang diucapkan satu tokoh? Ada semacam perubahan cara berbicara yang itu berpengaruh pada konsistensi karakter tokoh, yang saya tangkap pada baris 1, 3, 5 dan 7. Pada baris 1, tokoh meminta pendapat pada lawan bicaranya, ada keragu-raguan di dirinya yang dengan ditandai kalimat: “…apa tak sebaiknya kita ke apartemen daerah PIK?” Di baris 3, nada bicaranya menjadi tegas. Sekaligus memperjelas apa tujuan kedatangan mereka ke PIK. Ketegasan si tokoh bertahan di baris 5 dengan mengucapkan: “Lah, elu gimane sih? Kan kita nggak sendirian?” dan pada baris 7, karakternya kembali lagi serupa dengan baris 1.

Rekaman selanjutnya adalah mahasiswa yang tengah bersembunyi melihat aparat yang merangsek ke kampus. Ada pula rekaman tentara yang menginterogasi jurnalis (entah itu jurnalis asli atau ngaku-ngaku sebab kartu persnya hilang) yang meliput berita. Rekaman seseorang yang meminta ambulans untuk istrinya yang akan melahirkan. Rekaman 2 pria yang sedang bergantian memperkosa. Rekaman demonstrasi mahasiswa. Dan rekaman-rekaman lainnya hingga kembali para Raf dan Mei yang masih bersama. Dan misteri tentang Jessi, tidak saya temukan jawabannya. Sepertinya rekaman itu ikut hilang bersama kewarasan orang-orang.

 

Jogja, 8 April 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response