Cinta Manis Sepasang Lelaki; Resensi The Sweet Sins (DIVA, 2012)

The Sweet Sins (DIVA, 2012); Novel Cinta Sepasang Gay
The Sweet Sins (DIVA, 2012). Sumber gambar: divapress-online

Cinta Manis Sepasang Lelaki; Resensi The Sweet Sins (DIVA, 2012)-

“…Kenapa aku bisa mencintai sesama lelaki? Apakah aku gila? Mungkin iya. Tetapi, aku merasa damai dan terlindungi di dekatnya. Salahkah aku?…” (Hlm. 132)

Mengalami sebuah metamorfosis kehidupan cinta bagi seorang gigolo seperti Rei tidak heran jika membuat kening kita berkerut. Bagaimana tidak, mahasiswa jurusan teknik dan blasteran Indonesia-Belanda ini bisa jatuh cinta begitu dalam kepada seorang pria bernama Ardo. Sebuah proses yang terbilang singkat, seakan membalikkan sosok pria penghamba uang ini menjadi seorang pria yang teramat setia kepada pasangannya. Kecemasan maupun kebingungan yang sempat menghampiri Rei, perlahan-lahan hilang seiring dengan rasa nyaman ketika berada di sisi Ardo, yang memiliki profesi sebagai seorang newscaster di sebuah stasiun televisi lokal.

Kasih sayang dan cinta yang dialami keduanya di masa-masa awal hubungan mereka diceritakan dengan begitu manis dan smooth oleh Rangga Wirianto Putra sehingga terus menghipnotis pembaca untuk terus mengikuti kelanjutan hubungan dua pria yang sama-sama terlihat gagah di mata lawan jenisnya ini. Tidak hanya itu, sejak membuka halaman awal, pembaca disuguhkan dengan tata letak yang spektakuler, yaitu penyajian naskah yang mengikuti bentuk sebuah naskah opera, tidak ketinggalan dengan ketukan-ketukan irama dalam not balok sebagai penguat suasana. Tentu bagi orang awam, hal ini menjadi tanda tanya tersendiri dan penulis memang dengan sengaja menghadirkan secara total seberapa jauh ia mempelajari seluk-beluk opera hingga menonjolkan kekagumannya akan sosok Maria Callas, tokoh besar yang menjadi parameter para biduanita saat tampil di atas panggung.

Selain mencintai seni, penguasaan Rangga dalam ilmu-ilmu eksakta pun tidak kalah apiknya. Terbukti ia tanpa terasa kaku bisa menjabarkan ilmu-ilmu fisika tanpa membuat pembaca ingin melewatinya begitu saja. Seperti dalam percakapan di antara Rei dan Ardo: “Ya, mungkin aja, sih. Tapi aku malah berpikir gini. Dalam dunia fisika, ada yang dinamakan hukum kekekalan energi. Bahwa konstanta energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, tapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan.” (Hlm. 222)

Hubungan keduanya yang hanya diketahui oleh teman-teman dekat Rei itu, pada akhirnya dihinggapi konflik yang mau tidak mau memaksa mereka berpikir keras apakah akan dilanjutkan atau diakhiri. Namun bagaimanapun, penutup yang dipilih Rangga adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan menjadi hal termanis dalam buku ini.

Judul: The Sweet Sins
Penulis: Rangga Wirianto Putra
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 428 hlm
Terbit: Oktober 2012
Harga: 50.000

 

Dimuat di Tribun Jogja

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response