Resolusi 2018; Tidak Perlu Muluk-Muluk yang Penting Niat

in Personal by
Resolusi 2018; Tidak Perlu Muluk-Muluk yang Penting Niat
Resolusi 2018. Sumber gambar: travelchannel.com.

Membaca kembali tulisan yang pernah saya buat di awal tahun dan sekarang sudah akhir tahun, rasanya ingin mengulang waktu kembali. Di awal tahun selalu menggebu-gebu ingin ini-itu tapi begitu mengevaluasi kembali, sangat jauh dari pencapaian, setidaknya setengahnya. Tapi saya tidak mau memandang tahun ini sebagai era yang negatif.

Di tahun ini saya berusia ganjil, 33 tahun, di tahun ganjil saya selalu memiliki seseorang yang spesial, sayangnya kali ini tidak mungkin saya pacari, karena yeah, lebih baik begitu. Level kedekatan saya dengannya sudah lebih dari cukup. Dan itu sudah cukup.

Oke, dari tulisan saya itu, ada beberapa hal yang ingin saya capai. Saya tidak menyalahkan waktu yang terlalu singkat berputar. Saya menyalahkan diri saya yang terlalu hidup dalam mimpi. Waktunya untuk bangun dan kembali ke realitas.

Hal pertama yang ingin saya lakukan di tahun 2017 adalah bersepeda sejauh 6.000 kilometer. Mengapa saya mengambil jarak segitu, karena di tahun sebelumnya saya bisa tembus sampai 5.000 tanpa saya meniatkannya.

Sayangnya tahun saya gagal mencapai hal itu dan catatan saya hanya 2.000 kilometer. Sangat jauh dari target. Tahun ini saya terlalu banyak membiarkan hari tanpa berolahraga. Bermalas-malasan dan main hape. Tahun ini, hape menjadi pacar pertama saya. Padahal, saya punya sepeda baru dengan spek lebih baik dari sebelumnya. Itu hanya saya gunakan sekali untuk bersepeda jarak jauh. Mungkin saya sedikit jenuh dengan tingginya rutinitas tahun lalu, bukan saya namanya kalau tidak mudah merasa jenuh.

Resolusi 2018: saya memasang target yang sama, 6.000 kilometer. Saya sudah membeli sebuah buku untuk mendata aktivitas selama setahun yang lebih masuk akal dan tidak membuat saya setiap hari harus duduk di atas sadel sepeda.

Kedua, lari sejauh 100 kilometer. Ini salah satu pencapaian yang sama sekali di luar prediksi saya. STRAVA mencatat 200 kilometer dan intensitas saya meningkat menjelang akhir September. Saya mulai ikut event race, mulai ketagihan dengan mengumpulkan medali, membeli sepatu lari baru, bertemu teman-teman SMA saya karena lari. Mereka teman sekelas saya di SMA kelas 2 dan 3. Sudah sangat lama kami tidak bertemu dan kami seperti kawan akrab ketika bertemu kembali. Mereka sudah menikah dan punya anak. Dan untungnya mereka tidak menanyakan apa saya sudah menikah atau belum. Atau mereka merasa tidak perlu menanyakannya. Entahlah.

Resolusi 2018: Saya tidak akan memasang target terlalu tinggi, 250 kilometer dan 2 medali marathon. Semoga bisa sampai ke half marathon. Mungkin juga membeli sepatu lari baru dari merek yang sering mensponsori para atlet lari. Saya tahu segalanya bukan tergantung dari sepatu. Tapi saya pun tahu, semangat itu bisa datang dari sepatu berkelas.

Ketiga, memosting 200 artikel untuk blog ini. Oh ya, saya sempat migrasi ke domain baru yang lebih internasional, yeah meski artinya saya harus memulai dari awal lagi mendapatkan pageview yang sudah lumayan banyak. Meski orang yang datang menemukan blog saya kebanyakan mencari tentang seks, pornografi, pelacuran, dan sebagainya sehingga saya khawatir kena program internet positif padahal tidak satu pun apa yang satu tulis layak untuk masuk kategori itu. Setelah menghitung-hitung, saya berhasil memosting 210 artikel, dengan 90 artikel film, 18 artikel serial TV, 22 artikel olahraga, dan 10 traveling. Menjelang Golden Globes 2018, saya marathon beberapa film dan serial TV, sisanya akan saya teruskan sembari menunggu nominasi Oscar 2018.

Resolusi 2018: target saya 250 artikel. Dengan komposisi sebisa mungkin tidak sama seperti tahun ini. Mungkin meningkat di travelingnya atau olahraganya.

Lanjut, keempat, menyelesaikan 2 novel. Ini memang target yang saya asal buat. Saya bukan seorang penulis novel, intinya itu. Saya menulis dengan sangat lambat dan terlalu berhati-hati. Dua hal yang menjadi racun bagi seorang penulis.

Resolusi 2018: Sudahlah, skip.

Kelima: menurunkan berat badan hingga 50 kilogram. Sebenarnya bukan hal sulit, hanya saja saya kurang baik dalam hal berdisiplin. Mulai November saya stop mengonsumsi gula dan saudara-saudaranya. Tapi saya masih minum madu demi kekuatan fisik. Saat ikut event lari saya masih meminum cairan elektrolit yang saya tahu mengandung gula. Setidaknya, ini satu dinamika besar yang saya pikir mustahil bisa saya lakukan. Siapa sih yang tahan tidak makan kue-kue enak? Roti-roti yang empuk, permen, hot chocolate? Tapi saya bukan satu-satunya orang yang mulai say goodbye to sugar. Karena gula punya dampak buruk terhadap kesehatan dan berat badan sementara untuk menjadi pelari, badan saya tidak boleh terlalu berat.

Resolusi 2018: saya mau menurunkan sampai 53 kilogram. Limitnya segitu saja.

Nah, itu kilas balik dan target-target untuk tahun 2018. Plus satu hal lagi yang saya akan lakukan setelah diet gula, yaitu diet medsos. Ya, semua akun pribadi saya di Facebook, Twitter, dan Instagram akan saya tinggalkan. Ada dampak yang buruk terhadap kesehatan mental dan saya khawatir itu akan membawa saya pada tahap yang kurang menyenangkan. Adakalanya, kita tidak perlu tahu terlalu banyak hal demi kebaikan diri sendiri.

Selamat Tahun Baru!

 

Jogja, 29 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*