Revival (2015); Album Simbol Kebangkitan Selena Gomez

Sumber gambar: idolator.com

Pertama kali tahu jika Selena Gomez mengeluarkan album Revival adalah ketika si penyanyi mantan pacar Justin Bieber ini tampil untuk wawancara bersama Ellen DeGeneres. Rasanya belum lama saya begitu asyik menikmati track-track dance asyik macam Come & Get It dan Slow Down dari album Star Dance yang rilis tahun 2013, kali ini di bawah naungan label Interscope, label yang juga menjadi rumah bagi album-album Eminem, Lana Del Rey, Ellie Goulding, dan Zedd.

Di acara Ellen, Selena membagikan CD album terbaru dengan cover dirinya sedang duduk memeluk lutut, tanpa busana. Tentu juga memperkenalkan lagu terbaru dari album Revival, Same Old Love. Di lagu ini, nuansa dance mengentak belum terasa apa-apa. Ditulis keroyokan tanpa ada keterlibatan Selena di dalamnya, seperti halnya juga dengan Hands to Myself, Sober, Camouflage, dan Survivors. Masih bercerita tentang, cinta, harapan, dan rasa percaya diri, untuk album, sialnya karena rilis setelah album 1989 milik Taylor Swift, saya merasa ini seolah tertular aura pop dance dalam tahap yang hampir setara.

Ketika meneliti lebih banyak lagi nama yang terlibat untuk album ini, satu yang menjadi jawaban penasaran saya terjawab. Ada Max Martin. Si pria bertangan dingin yang juga memoles album pop Taylor Swift sehingga lepas dari bayang-bayang gadis country yang bergaya bak princes.

Dipilih sebagai track pembuka sekaligus judul album, rasanya Selena punya alasan tersendiri. Dibuka dengan sebuah puisi:

I dive into the future

But I’m blinded by the sun

I’m reborn in every moment

So who knows what I’ll become

Selena seolah ingin menyampaikan, ini adalah awal dari segalanya. Setelah sekian lama “tertidur”, saatnya untuk bangkit kembali. Melihat dunia ini lagi. Apa yang telah terjadi di masa lalu biarlah tertinggal di belakang. Dengan album revival, ia ingin menegaskan, dirinya tidak sama dengan si Selena si objek pemberitaan negatif. Sebagai anak muda, ia ingin merasakan sesuatu yang anak muda lainnya rasakan.

Setelah bangkit, lalu apa? Menghadapi dunia yang keras. Dunia yang menatap dengan penuh keburukan. Di track Kill Em With Kindness, Selena tidak ingin terpengaruh aura negatif dunia. Menjadi diri sendiri, menjaga harga diri. Itulah yang seharusnya. Kebaikan adalah alat peredam yang efektif, bukan dengan kemarahan-kemarahan yang bertingkat-tingkat. Dengan nuansa dance, kita diajak ikut menikmati lagu ringan ini di dalam mobil maupun bersama teman-teman.

Selena mengajak pendengarnya untuk terus menikmati keriangan lewat Hands to Myself, Same Old Love yang mengingatkan akan lagu-lagu Lily Allan, Sober yang langsung mengingatkan saya dengan Bad Blood milik Taylor Swift. Ini adalah sebuah lagu patah hati yang tidak mendayu-dayu. Bahwa cinta yang indah itu baru bisa dirasakan ketika mencapai sebuah tahapan tertentu. Ketika menjadi orang lain.

Selena Gomez memberikan jeda untuk pendinginan dengan sebuah lagu patah hati lagi, Camouflage. Kamuflase dari dua manusia yang pernah menyimpan rasa cinta yang mendalam. Saya benci untuk mengatakan bahwa ini pun membawa saya ke balada ala Taylor Swift.

Siap berdansa lagi? Selena lanjut menggempur dengan Me & The Rhythm, Survivor dengan kekentalan pop dance 80-an. Para penyuka Ace of Base pasti familiar dengan musik-musik beginian. Ya, ini Ace of Base banget! Ada pula campuran dengan track Slow Down dari album Star Dance. Berlanjut ke Body Heat, mengingatkan saya dengan musik latin dance ala Jennifer Lopez. Mudah-mudahan akan dibuat videonya dengan koreografi yang segar.

Rise menjadi jeda kedua dalam album Revival. Lagu yang membawa pada imajinasi pantai privat yang hanya boleh dimasuki orang-orang tertentu. Menikmati segelas jus jeruk dingin dan angin yang bertiup-tiup pelan. Dengan ritme yang kembali naik. Selena dengan girls squad. Ngomong-ngomong soal girls squad, masih ingat dengan video Bad Blood? Ya, meski bukan anak SMA lagi, tapi yang namanya punya geng yang sah-sah saja. Dalam kehidupan nyata, Selena dan Taylor Swift sangat akrab dan sering datang ke acara-acara musik bersama. Itu semasa Taylor masih jomblo.

Menjelang akhir album Revival, masih ada track Nobody, Perfect, Outta My Hands, dan Cologne. Yang menurut saya adalah perulangan-perulangan ritme dari track-track awal. Selena memang tidak membuat perubahan drastis pada album terbarunya sehingga saya merasa ini tidak lebih sebagai kelanjutan album sebelumnya. Sedikit membosankan, tapi para penggemar Selena menyambut lahirnya Revival dengan sukacita tentunya.

 

Jogja, 20 November 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response