Road Bike; Apakah Benar-Benar Sepeda Paling Ideal?

Sebelum istilah road bike makin populer, sepeda ringan dengan ban besar namun tipis ini dikenal dengan sebutan sepeda balap. Ya, sepeda untuk balapan. Inovasi-inovasi untuk menciptakan road bike dengan performa terbaik, selalu muncul tak ada kata habis. Bahan-bahan baru terus dikembangkan demi mendapatkan hasil maksimal. Pertama kali road bike menggunakan bahan besi yang kokoh, lalu bahan aluminium ternyata jauh lebih ringan. Belakangan karbon disebut sebagai bahan yang kokoh lagi ringan. Sayangnya, sepeda karbon jika cacat, tidak akan bisa diperbaiki. Besi dan aluminium masih bisa dilas.

Road Bike; Apakah Benar-Benar Sepeda Paling Ideal?
Sumber gambar: TapakRantau

Di masa sekarang, road bike bukan hanya pegangan para pembalap turnamen. Meski harga per unit terbilang mahal, para penyuka sepeda di medan aspal pun dapat memilikinya. Memang, lagi-lagi, spesifikasi road bike untuk turnamen internasional tentu lebih tinggi ketimbang yang hanya sebatas hobi.

Polygon adalah salah satu produsen sepeda lokal yang mengeluarkan road bike ke pasaran. Jika sepeda gunung paling murah bisa di bawah 1 juta rupiah, seri Helios minimal menguras kocek 4 juta rupiah. Saya sudah mencicipi rasanya Helios ini, meskipun hanya sehari. Saya membawanya sejauh 148 kilometer untuk ritual Gran Fondo akhir bulan lalu. Dari sanalah, banyak kekaguman saya yang perlahan meleleh.

Selama ini, saya menganggap road bike adalah sebuah kreasi sempurna. Dia mahal karena kesempurnaan itu. Orang membelinya karena apa yang dimilikinya tidak dimiliki jenis sepeda lainnya. Tidak juga.

Perjalanan bersama Polygon Helios seharian membuat saya bisa mengenalinya lebih jauh. Dia memiliki bobot 7,5 kilogram, bodi ramping, handle bar tanduk kambing, gear 2×7. Secara tampilan, tidak jauh berbeda dengan road bike lainnya. Saya cobalah dia di jalanan sambil berlatih beradaptasi dengan geometri yang serbaberbeda dari MTB kepunyaan saya. Lajunya sudah kencang meski saya memakai gigi tengah, apalagi jika sampai maksimum. Gambarannya begini deh. Kalau MTB kecepatan di jalan datar 24 km/jam, road bike bisa 27 km/jam. Dengan begitu, power yang digunakan untuk mengayuh road bike akan jauh lebih minimal. Otomatis, sangat efektif untuk melatih endurance.

Setelah berusaha menyeimbangkan diri dengan sepasang roda berdiameter besar namun sangat tipis, saya masih kagok dengan handle bar yang jauh ke depan dan letak rem yang sama jauhnya. Letak rem pun terbalik dengan MTB. Ini sangat penting, jika salah menarik tuas rem, bisa terjungkal. Rem depannya di kiri, rem belakang di kanan. Kebetulan Helios ini belum menggunakan cakram. Ketika saya gunakan di turunan Kaliurang, tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Hati-hati saja jika belum terbiasa menggunakan road bike dan melewati jalan turun yang curam. Tidak perlu panik dengan kecepatan tinggi. Mengeremlah dengan perlahan jika merasa laju terlalu kencang. Rem belakang, baru depan. Harus keduanya jika tidak ingin bodi sepeda oleng karena bobotnya ringan. Tangan harus selalu siap di tuas rem. Jika di jalanan datar, boleh kok posisi tangan di pindah seperti posisi tangan di stang MTB. Hanya saja, posisi itu juga cepat membuat pegal bahkan saya merasa kram yang tidak kunjung hilang dengan melemaskan jari-jari tangan.

Rasa kram itu juga disebabkan oleh ketiadaan peredam getaran akibat kondisi aspal yang bolong atau bergelombang. Lama-kelamaan sangat mengganggu. Bayangkan saja, dengan roda setipis itu, bagaimana mengurangi getaran? Handle bar juga tidak memiliki karet pelindung seperti MTB, hanya dililit karet. Suspensi adalah kunci utamanya.

Setelah 6 jam bersepeda dengan Helios, saya merasakan lelah yang teramat sangat, jauh lebih mengganggu ketimbang menggunakan sepeda saya yang jauh lebih berat. Mulai dari tengkuk, leher, punggung, pinggang, kaki, sampai telapak kaki (pedalnya untuk sepatu cleat). Terakhir kali menanjak dengan MTB di Kaliurang, saya tidak berhenti sedikit pun. Tetapi dengan road bike, saya beberapa kali turun dari sepeda dan memijiti pundak atau melemaskan kaki. Kecepatan rata-rata saya tidak jauh berbeda dengan menggunakan MTB. Di tanjakan panjang pun saya tidak bisa menghindari fase melemah perlahan.

Ya, road bike bukanlah sepeda sempurna atau sepeda yang serta-merta membuat penggunanya menjadi pesepeda dengan endurance tinggi. Segalanya berproses. Sampai di tahap ini, saya sih tetap lebih menyukai MTB.

 

Jogja. 30 Oktober 2016

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response