RST BLAZE 120mm; Upgrade Sepeda Ketiga dan Terakhir

Fork RST BLAZE 120mm, adalah part baru yang terpasang di Polygon Monarch 2.0 saya. Jika sebelumnya saya mengganti ban dan handle bar atau stang, ini adalah upgrade terakhir dan maksimum. Mas Yanto dari Yanto Bike mengatakan, kalau ingin upgrade rem v-brake menjadi cakram maupun upgrade speed menjadi 3×10, lebih baik ganti sepeda sekalian. Oke, soal ganti sepeda, sepertinya nanti dulu.

Fork RST BLAZE 120mm; Upgrade Sepeda Ketiga dan Terakhir
Sumber gambar: bike-advisor.com

Teman saya berkisah—ketika kami bersepeda bareng—dia baru saja pulang dari Gran Fondo Danau Toba seminggu sebelumnya. Medan yang dilaluinya bersama rombongan adalah jalanan beraspal tidak mulus. Total rutenya 200 kilometer selama 2 hari. Seperti dominan peserta lain, dia memakai roadbike. Tentu saja di satu sisi roadbike memberikan kemudahan dengan bobotnya yang ringan. Di sisi lain, roadbike memiliki kelemahan signifikan, tidak mampu meredam berbagai getaran yang disebabkan oleh rusaknya aspal. Akibatnya, meninggalkan rasa sakit di telapak tangan. Di tempat yang sama sarafnya pernah terjepit, karena bersepeda pula. Rupanya hal yang sama terulang. Dari itu, saya langsung merasa khawatir dengan diri saya. Fork saya tidak berfungsi meredam getaran seperti seharusnya sementara kita mustahil memilih hanya melewati jalanan bagus seumur hidup.

Saya menyerahkan urusan penggantian ini pada Mas Yanto. Dia mengecek ke toko sepeda setelah meminta foto fork sepeda saya, kebetulan saya punya. Ada rupanya yang kompatibel dengan rem v-brake maupun cakram. Harganya pun terjangkau 450 ribu. Saya memilih shock breaker warna putih seperti milik saya sebelumnya. Tulisan RST BLAZE tertempel dengan ukuran besar. Dia memilihkan ukuran 120. Ada banyak pilihan produk dari RST, mulai dari 100-200mm. Untuk saya—dia tahu saya tidak akan menyentuh medan tanah untuk jelajah ekstrem—tipe itu sudah cukup untuk kenyamanan bersepeda. Dari segi bentuknya, seperti kaki yang berdiri dengan begitu gagah dan kokoh. Di dalam fork, terdapat pegas, tugasnya mengolah getaran kuat yang dihantarkan dari roda ke handle bar lalu ke tangan menjadi pantulan-pantulan halus. Fungsi pelumasannya akan beradaptasi maksimal seminggu. Mas Yanto berpesan agar saya rajin membersihkan sisa pelumas. Kalau tidak, akan mengganggu fungsi bagian roda dan rem.

Pemasangan fork tidak terlalu lama. Saya sambil memperhatikan Pak Sofyan juga memperbaiki sepeda lain dan ketika itu ada pelanggan datang dengan mobil pick up. Membawa sebuah roadbike untuk diganti frame. Dari situ saya sedikit tahu, sepeda custom rupanya perlakuannya sangat istimewa. Salah satunya, untuk pengukuran seat post harus dihadiri si pemakainya. Frame akan dipotong dengan alat press khusus dan hanya bisa sekali dilakukan. Atau, bisa menyebabkan pecahnya frame. Saya semakin tidak habis pikir, mengapa orang begitu tergila-gila dengan roadbike yang begitu rapuh.

Setelah fork baru terpasang, Mas Yanto mengepaskan tinggi handle bar yang bertambah beberapa senti. Dikurangi dua stem agar posisi tangan saya tidak terlalu tinggi sehingga malah cepat membuat pegal. Saya tentu harus mencoba fork mahal ini segera. Selesai urusan pembayaran, Mas Yanto memberikan oleh-oleh berupa fork lama yang diberi tali seperti tas punggung. Saya harus membawa fork dengan berat sekitar lima kiloan dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer. Pak Sofyan bahkan mengatakan, goweser itu bawaannya ya begituan. Mereka tidak bercanda. Apa boleh buat, sebagai kenang-kenangan, anggap saja begitu. Sekalian tes ride fork RST BLAZE, saya pun melewati Ring Road di bawah matahari pukul 11.30. Dan untunglah tidak ada yang menertawai saya selama perjalanan. Dan ternyata, tidak sememalukan yang saya pikir.

Dengan fork baru, saya memilih tidak terlalu sering ber-standing climb karena daya pantulnya membuat energi seolah ikut terpantul-pantul ke udara. Di sisi lain, beban akan berkurang ketika tanjakan jika tetap dalam posisi duduk. Kalau memang bawaannya senang standing climb dan malas mengunci suspensi, ya silakan saja. Itu toh sepeda milik sendiri.

 

Jogja, 4 Agustus 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response