Rute Bersepeda Seputar Jogja Minim Tanjakan 30K, 40K, 100K

Rute Bersepeda Seputar Jogja Minim Tanjakan 30K, 40K, 100K
Sumber gambar: www.cyclingexpressblog.com

Rute bersepeda bisa kita tentukan sendiri, sesuka hati. Mulai yang termasuk jarak pendek hingga kelas jarak jauh alias maraton. Mulai dari yang datar hingga tantangan elevasi mencapai 400 meter ke atas. Bersepeda akan menjadi semakin menyenangkan jika kita bisa menambah level endurance hingga semakin lama semakin baik. Dengan apa pun sepeda yang kita punya. Dengan penguasaan teknik yang berguna untuk mengurangi risiko-risiko cedera.

Kali ini saya akan membagikan beberapa rute bersepeda yang sering saya pakai untuk latihan sehari-hari. Tipe kesenangan saya adalah jalanan aspal mulus dengan elevasi 100-300 meter, bisa diterjemahkan sebagai jalanan minim tanjakan. Bukan tanpa tanjakan sama sekali. Ini karakter jalanan Jogja yang saya senangi. Melulu datar pun tidak menyenangkan. Membuat malas untuk mengayuh lebih kuat dan mengatur napas agar tidak terengah-engah. Teknik pedaling tidak akan banyak berkembang, terlebih ketepatan dalam memilih gear untuk menjaga kecepatan kayuhan untuk terus stabil. Sepeda dibuat dengan banyak pilihan gear tentu bukan hanya sebagai hiasan kan?

Saya memakai aplikasi Strava untuk membuat rute bersepeda jarak jauh. Aplikasi ini kurang lebih akan memperkirakan jarak, waktu tempuh, dan elevasi secara keseluruhan.

 

Rute 30K

Titik start dan finish bisa mulai dari Perempatan Ketandan maupun Perempatan Blok O. Jika memulai dari Perempatan Ketandan, menurut saya ini rute yang terasa lebih berat. Dari Perempatan Ketandan hingga Pertigaan Piyungan. Jalanan didominasi descent alias turunan, ada climbing pendek sesekali tapi itu sama sekali tidak melelahkan. Nah dari Pertigaan Piyungan hingga Pertigaan Prambanan terasa lebih panjang, dengan elevasi 63 meter. Kaki akan terus mengayuh untuk menstabilkan kecepatan selama kurang lebih setengah jam. Ditambah dengan kontur aspal yang tidak selalu mulus dan kendaraan-kendaraan besar yang lalu-lalang. Dari Pertigaan Prambanan hingga sampai ke titik finish jaraknya 12K dengan elevasi hanya 37 meter. Saya bisa mempertahankan kecepatan di 26km/jam, pertama dibantu dengan jalan yang banyak turunan dan aspalnya jauh lebih baik.

Saya bilang tadi, jika memulai start dari Perempatan Blok O, rute ini terasa lebih mudah. Menyusuri Jalan Solo luar biasa menyenangkan. Bahkan jika ingin melanjutkannya sampai Klaten. Kontur aspalnya nyaman untuk bersepeda. Melewati Jalan Piyungan pun bisa menjajal sampai 30km/jam tanpa ada hambatan lampu merah. Elevasi sepanjang Jalan Wonosari tidak melelahkan karena sisa kayuhan dari descent bisa dimanfaatkan untuk climbing.

Rute 30K ini bisa ditempuh dalam waktu 90 menit dengan kecepatan 20km/jam. Cukup untuk membakar 1000 kalori tubuh. Oh ya, jika ingin menambah 5K lagi, bisa dilakukan dengan mengelilingi Kompleks Candi Prambanan. Saya rekomendasi pagi hari, karena udaranya sangat sejuk dan melihat candi dengan paduan momen matahari terbit akan terasa syahdu.

Lihat rute di sini

 

Rute 40K

Kita beralih ke rute bersepeda 40K. Saya menyebut ini sebagai rute velodrome raksasa. Kita akan memutari Yogyakarta dengan menyusuri Ring Road alias jalan lingkar 4 lajur. Total waktu tempuhnya sekitar 2 jam. Bisa menjadi lebih panjang jika kondisi jalanan sangat padat, terlebih di malam hari. Rute ini pun bagi saya bisa terasa ringan, bisa pula panjang dan melelahkan.

Kita mulai dari yang terasa ringan. Ambil titik Start dari Perempatan Blok O ke utara, Pertigaan Janti, ke barat masuk Jalan Solo hingga pertigaan ambil ke utara menuju Maguwo, terus lagi melewati Perempatan Affandi, Perempatan Jalan Kaliurang, Perempatan Monjali, Perempatan Jalan Magelang, Perempatan Jalan Godean, Perempatan Jalan Wates, Pertigaan Ambarketawang, Perempatan Jalan Bantul, Perempatan Jalan Parangtritis, Perempatan Jalan Imogiri Barat dan Timur, Perempatan Ketandan, dan finish di Perempatan Blok O. Elevasi 187 meter, jarak total 39,8K.

Coba dengan arah sebaliknya, mengapa saya katakan lebih berat meskipun dimulai dengan turunan yang menyenangkan. Kita mulai dari Perempatan Ketandan, misalnya, sebab saya berdomisili dekat sana. Lewati rute yang sama, menyusuri Ring Road bagian luar. Strava mencatat elevasi 195 meter dengan jarak tempuh 41,5K. Rute yang lebih panjang, dan tenaga saya masih dipaksa keluar penuh ketika harus climbing panjang menjelang Pertigaan Janti. Kecepatan saya selalu menurun drastis dan suspensi depan membuat standing climbing terbuang percuma. Maka saya selalu memilih rute yang pertama biarlah langsung disiksa dengan climbing asalkan menjelang akhir, saya bisa menemukan momentum untuk pemulihan tenaga.

Lihat rute di sini

 

100K

Meningkat ke rute bersepeda 100K. Sebagian adalah rute Audax, sisanya dari rute 40K Ring Road. Kita mulai dari Perempatan Blok O ke utara, Pertigaan Janti, ke barat masuk Jalan Solo hingga pertigaan ambil ke utara menuju Maguwo, terus lagi melewati Perempatan Affandi, Perempatan Jalan Kaliurang, Perempatan Monjali, Perempatan Jalan Magelang, Perempatan Jalan Godean, Perempatan Jalan Wates lalu menyusuri Jalan Wates, sampai di pertigaan Pos Polisi ambil kiri, sampai Jalan Daendels. Kita sudah separuh perjalanan. Dan ini perjalanan pulang. Jalan Daendels, Jalan Srandakan, Perempatan Jalan Parangtritis, Perempatan Jalan Imogiri Barat, Perempatan Jalan Imogiri Timur, Ring Road, Perempatan Blok O. Jarak tempuh 117K, elevasi 360 meter, durasi 5 jam 46 menit dengan kecepatan 20km/jam.

Lihat rute di sini

Selamat mencoba rute-rute bersepeda saya ini.

 

Jogja, 1 Oktober 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response