Sadranan; Salah Satu Pilihan Pantai Hening di Jogja

Sadranan, sebuah pantai yang cukup sepi dari pengunjung dan memiliki ombak cukup tinggi. Hal pertama yang langsung saya cari begitu memarkirkan motor dan mengunci helm di motor tidak lain penginapan. Tidak nyaman juga jika harus membawa tas ransel sambil menyusuri pantai. Sebelum berangkat, saya memang mencari tahu informasi penginapan terdekat. Pantai ini menjadi pilihan saya ketimbang pantai-pantai lainnya karena tersedia fasilitas penginapan tepat di area pantai sehingga kapan pun saya bisa datang dan pergi tanpa harus berulang kali membayar tiket masuk. Dan lagi, saya sudah kangen dengan pengantar tidur berupa deburan ombak yang samar-samar. Terakhir saya menginap di pantai saat di Trenggalek dua bulan lalu.
Dari seorang penjaga warung, saya mengetahui sebuah penginapan yang tepat berada di belakang warung, sangat dekat. Saya rasa penginapan inilah yang pernah disebut-sebut oleh seorang blogger. Saya kemudian menemui si penjaga penginapan. Tarif kamar per malamnya adalah Rp100.000,00 dengan fasilitas tempat tidur dan kamar mandi dalam. Ini yang tipe ekonomi. Bangunannya satu tingkat dan memanjang ke belakang seperti halnya kos-kosan yang saya tempati di Jogja. Ada sekitar 10 kamar di sini. Saya pun nego, supaya bisa check in pukul 9 pagi dan check out pukul 12 siang esok harinya. Dan boleh.

Sadranan; Salah Satu Pilihan Pantai Hening di Jogja
Sumber gambar: dok. TapakRantau

Selain penginapan ini, juga tersedia vila satu kamar, letaknya di atas bukit. Saya melihat tangga batu menuju vila tersebut. Harga per malam di vila itu Rp200.000,00 dengan view menghadap pantai dan fasilitas kipas angin dan TV. Letak vila ini bersebelahan dengan vila besar untuk rombongan dengan tarif per malam Rp24.000.000,00 (semoga saya tidak salah dengar) Jika ingin gratis, sebenarnya bisa saja, asalkan membawa tenda dan lainnya.
Sadranan adalah pantai dengan karang-karang besar. Sayangnya ombak besar tidak sampai menghempas di sana sehingga tidak ada semacam klimaksnya, datar-datar saja.
Oh ya kali ini saya membawa sesuatu yang baru, sebuah buku catatan. Ukurannya seperti buku tulis biasa dengan jilid spiral. Di dalamnya adalah kertas-kertas bergaris tanpa ornamen apa pun. Malam sebelum berangkat, saya membelinya, karena saya ingin menulis. Menulis memang bisa saya lakukan di kamar kos-kosan, tapi tentu ada energi yang berbeda dengan jika saya menuliskan secara langsung. Saya tidak bernafsu untuk menulis dengan gadget. Saya cukup memegang Blackberry untuk berkomunikasi dengan teman-teman saja.
Begitu tiba di Sadranan dan menyimpan barang-barang, saya pun nongkrong di warung dan mengeluarkan buku catatan saya. Ini adalah tulisan pertama saya. Tulisan tangan saya memang jelek, tapi toh nanti akan saya ketik dahulu. Menulis dengan pulpen di atas kertas seperti halnya bernostalgia sekian tahun silam ketika saya belum bersentuhan dengan gadget. Rasanya ide itu keluar lebih mudah, untuk menggambarkan detail pun bisa saya lakukan lebih maksimal.
Kembali ke pantai. Sadranan adalah pantai yang cantik, ombaknya bagus untuk para peselancar, tapi jika dibandingkan dengan padatnya Indrayanti, tentu masih jauh standar populer. Selain pengelolaannya belum maksimal, jalan menuju pantai ini masih bebatuan, bus-bus besar akan kesulitan untuk keluar masuk. Si pengelola warung adalah yang juga menyapu sampah-sampai di pasir, juga yang menyewakan payung. Segalanya masih serba seadanya. Promosi? Hm mungkin masih bergantung pada ulasan para blogger yang pernah datang.
Jika ingin ke Sadranan, maka Anda harus melewati beberapa pantai, antara lain Baron, Kukup, Krakal, Sepanjang, Drini, dan Krakal. Sadranan diapit oleh dua pantai kecil, yaitu Slili dan Ngandong. Pantai Ngandong bisa dicapai langsung dari Sadranan dengan menyusuri pasir pantai, tapi untuk ke Slili, Anda harus melewati jalan masuk utama. Kedua pantai ini terhalang oleh sebuah karang besar. Saya bahkan sempat mengira Pantai Slili adalah Sadranan sebelum diberi tahu oleh seorang penjaga warung di sana. Pantai Slili diapit oleh Sadranan dan Krakal.
Sama seperti tipikal Pantai Baron dan yang sederet dengannya, Sadranan juga merupakan pantai pasir putih yang halus.
Saya sempat menyusuri pesisir pantai yang basah akibat laut semalam pasang. Hewan-hewan kecil semacam kepiting pun keluar dari lubang-lubang seukuran tubuh mereka. Saya yang sempat duduk pun memilih beranjak ketimbang dicapit.
Saya kemudian duduk di sebuah batu pipih. Sekilas saya melihat bangunan vila mewah tapi tidak terlihat seorang pun di sana. Saya meneruskan tulisan saya di sana hingga matahari semakin intens menyinari punggung. Lama-lama panas juga.
Sejam kemudian, saya mulai merasa lapar. Sebelum berangkat, saya sempat sarapan pukul 6 pagi. Sebagian besar energi sudah terbuang di perjalanan. Bekal roti manis pun saya lahap. Saya memesan teh manis gula batu sebagai kawan roti saya itu.
Saya agak kurang fit, gejala pilek dan tenggorokan gatal. Tapi bagaimana pun saya sudah telanjur niat bike-traveling. Bermain dengan adrenaline, memfokuskan diri pada perjalanan yang saya pun tidak pernah tahu apa yang akan saya temui di jalan. Banyak hal. Ada cita rasa yang membuat saya ketagihan.
Bulan lalu, saya bisa traveling ke luar pulau dengan sponsor, tapi rombongan. Beda rasanya jika pergi sendiri, di mana semuanya ditentukan oleh disiplin diri. Semuanya harus dipertimbangkan, makan nggak boleh telat, jangan lupa konsumsi obat-obatan yang diperlukan, dan istirahat maksimal. Dengan agen travel, semuanya diatur dan harus patuh. Dan saya rasa insting saya adalah bebas menentukan. Dimanja itu sudah bukan masa saya untuk menikmatinya.
Oh ya mengenai perjalanan ke pantai ini, saya memilih rute dari Wonosari, Ada beberapa alternatif sebenarnya, tapi karena saya tinggal di daerah Banguntapan, maka jalur inilah yang terdekat. Jalur ini memang ramai dengan bus-bus besar, mobil-mobil pribadi, dan kendaraan bermotor, baik itu dari atau ke arah Wonosari. Bus-bus yang berjalan lambat di tanjakan Piyungan adalah hal wajar. Para pengendara motor merasa diuntungkan karena lebih mudah menyalip ketimbang mobil. Jalanan yang harus dilalui berliku, kombinasi tanjakan dan turunan. Meski sudah beberapa kali melewati rute ini, saya tidak berani menaikkan kecepatan terlalu ekstrem. Hingga memasuki loket retribusi (TPR) Baron, jalan berliku tetap menjadi sajian yang membuat perjalanan tidak membosankan.
Ketika saya sedang asyik duduk-duduk di warung, seorang pria WNA tampak menepi dengan papan seluncurnya. Usianya mungkin sudah empat puluh tahun ke atas. Rambutnya agak panjang dan mulai botak. Saya kemudian melihat ke tengah laut sana. Ya, ombaknya memang sedang bagus-bagusnya. Menjelang pukul 11 siang, ombak akan surut, begitu kata si penjaga warung. Lelaki itu bersama kawannya yang menepi beberapa menit kemudian. Mereka berbicara tidak dengan bahasa Inggris, logatnya pun tidak identik dengan orang-orang Prancis. Si lelaki yang menepi lebih akhir, menikah dengan seorang perempuan Indonesia dan punya seorang anak usia 1,5 tahun yang lucu. Kulitnya putih dan ia berbicara sepatah dua patah kata dalam bahasa Indonesia.
Selain untuk seluncur, snorkeling pun bisa dilakukan, Air di bagian tepi pantai memang jernih. Jika memiliki alat snorkeling, tentu saya juga akan melihat apa saya yang ada di bawah sana. Orientasi saya ke pantai memang jarang untuk berenang. Saya hanya membawa baju dua potong. Kalau basah hari pertama, hari kedua saya harus menjaga diri baik-baik agar tidak basah kecuali memang kehujanan. Apa boleh buat kalau sudah begitu.
Selain tidak mempersiapkan kebutuhan untuk berenang, saya juga tidak bawa uang banyak. Saya hanya membawa uang Rp150.000,00 saya belikan bensin 2 liter, bayar penginapan, dan sisanya untuk makan. ATM terdekat tidak ada. Saya harus ke kota. Yah, jadilah saya berhemat, termasuk untuk makan. Harga makanan di sini sebenarnya murah kok. Malam harinya saya makan pecel lele hanya Rp8.000,00. Sebisa mungkin saya nggak makan makanan instan.
Oh ya intermezzo. Pantai ini, mungkin hanya asumsi saya saja, ditinggali oleh penduduk non-muslim. Penanda pertama, di sini banyak anjing berkeliaran, bahkan saya sempat panik ketika menyadari ada seekor anak anjing sudah tiba-tiba saja berada di dekat kaki saja. Saya tidak tahu apakah kaki saya sudah dijiliat atau belum. Yang pasti, untuk pertama kalinya saya harus repot mencari tanah untuk menyucikan najis. Selain banyaknya anjing, tidak ada mushala di sana. Si penjaga warung pun tampak bingung ketika saya tanya kiblatnya ke mana. Soal arah mata angin, saya memang buta. Saat shalat Zhuhur, saya menebak-nebak arah dan ternyata saya shalat ke arah utara. Setelah sunset barulah saya tahu arah yang benar. Saya juga mencoba mengunduh aplikasi kompas di BB, tapi entah mengapa tidak berfungsi. Bahkan saya sudah menggunakan aplikasi berbayar.
Kegiatan saya di malam hari hanya meneruskan menulis cerpen. Untung warung buka sampai malam, maklum malam minggu. Saya melihat beberapa tenda baru berdiri. Saya jadi kepikiran membeli tenda dan berkemah saja ketimbang membayar kamar hotel. Si penjaga warung tampak mengobrol dengan teman-temannya dan saya asyik dengan tulisan saya.
Keesokan hari, saya memutuskan berangkat meninggalkan Sadranan pukul 8 pagi. Sebelumnya saya sarapan dengan roti sisa kemarin dan teh panas di warung sambil meneruskan cerpen lagi. Tekad saya, cerpen kedua harus selesai sebelum kembali ke Jogja.
Saya berpamitan dengan pemilik penginapan sekaligus menanyakan rute di mana saya sekalian bisa menemukan mesin ATM bank apa saja. Apa mau dikata, saya harus kembali ke kota Wonosari untuk bisa tarik tunai dan kemudian mengambil jalur Panggang untuk lanjut ke Ngerenehan.
Setelah menjumpai ATM BNI di sebuah SPBU menjelang kota, saya pun mulai memperhatikan plang hijau penunjuk jalan. Panggang dan Paliyan tertera di sana. Saya tinggal mengikuti jalur itu. Tapi, di antara beberapa pertigaan yang saya lewati, sepertinya saya salah mengambil jalur sehingga saya pun kembali ke bundaran kota Wonosari.
Saya balik arah dan setengah jam kemudian saya pun tiba di pertigaan yang memisahkan Ngerenehan dengan Baron. Saya kini sudah berada di jalur yang benar. Semoga saja tidak akan ada lagi pertigaan tanpa papan penujuk ke mana arahnya. Dan memang, tidak ada pertigaan yang membingungkan, Perjalanan awalnya terasa semulus aspal, tapi beberapa kilometer kemudian, saya harus mengurangi kecepatan karena banyaknya lubang-lubang kecil dan dalam. Buat kendaraan roda dua, itu sangat berbahaya dan lagi hujan membuat jalanan licin. Kondisi aspal yang seperti ini berbeda jauh saat saya melewati jajaran Pantai Baron dan deretannya. Mungkin karena primadona pantai terdapat di sana. Hanya asumsi saya saja.
Tarif retribusi ke 3 pantai (Ngobaran-Ngerenehan-Nguyahan) cuma Rp3.000,00 sementara di area Baron Rp4.000,00. Saya kemudian meneruskan perjalanan hingga tiba di pertigaan. Jika lurus langsung ke Ngobaran dan Nguyahan, ke kiri Ngerenehan. Saya memilih ke Ngobaran terlebih dahulu dan mengakhirkan Ngerenehan karena di sana saya bisa menikmati sajian seafood segar. Jarak yang harus saya tempuh ke masing-masing pantai itu adalah 1 kilometer. Cukup dekat.
Sampailah saya di Ngobaran. Saya langsung merasa seperti di Bali ketika melihat beberapa patung di pintu masuk pantai. Dan pantai ini memang menjadi tempat ritual bukan semata-mata untuk piknik. Saya mengambil gambar di beberapa titik. Tempat ini eksotis dan adanya kombinasi religius jadi menyempurnakan. Saya belum membaca lebih detail soal sejarah pantai ini, selain sebagai tempat semadi Prabu Siliwangi V, tapi cukup ramainya tempat ini membuktikan bahwa daya tariknya besar. Saya menuruni tangga batu untuk melihat ada apa di bawah sana. Rupanya anak-anak kecil mengumpulkan kulit kerang. Saya tidak tertarik dengan kerang-kerang itu, melainkan pada cekungan besar di karang. Mungkin ini tempat semadi. Cukup untuk seorang dewasa duduk tegak di sana. View-nya langsung ke laut bebas yang ombaknya tampak lebih ganas ketimbang di Sadranan. Ketika saya berdiri di depan cekungan itu, tiba-tiba air laut mendekat, membuat saya merasa disambut oleh laut. Lagi-lagi, hanya asumsi saya saja sih. Saya kemudian naik lagi dan memakai kembali sandal saya. Ada tangga naik menuju spot di mana saya melihat ada kemenyan di sana. Mungkin ini tempat yang disucikan.
Saya kemudian menuju sebuah bangunan menyerupai mushala, tapi berlantai pasir. Saya tidak tahu apakah tempat ini benar-benar dipakai shalat atau tidak. Saya menuruni tangga hingga sampai di hamparan pasir putih yang tidak begitu luas. Dari sini saya mendapat view yang hampir sama, karang yang menjulang di kejauhan dan ombak yang bergulung-gulung tinggi. Indah, masih sama indahnya.
Saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Nguyahan, tepat di sebelah Ngobaran. Ada jalan setapak naik kemudian turun, tidak jauh, tapi cukup membuat napas ngos-ngosan bagi yang jarang berolahraga. Di pantai ini hamparan pasirnya terkesan lebih luas karena tidak ada bangunan apa-apa di atasnya. Banyak orang yang berada di sana, tapi saya cukup sekilas saja berada di sana. Karena saya sudah lapar.
Artinya, saya harus segera ke Ngerenehan. Setelah menempuh perjalanan mudah sejauh 2 kilometer, sampailah saya ke Ngerenehan. Pantai yang terkenal sebagai kampung nelayan, seperti halnya Depok. Sebagian hasil tangkapan nelayan dijual di sini bahkan bisa juga minta dimasakkan, bisa goreng tepung, asam pedas, asam manis, lombok ijo, atau saus padang. Tidak pakai ongkos jasa memasak. Saya melihat pantai sekian menit saja. Saya sudah pernah ke sini dan pemandangannya masih sama. Pantai dan kapal nelayan.
Saya lalu memesan udang di pasar ikan, untuk saya makan di sana dan juga dibungkus. Anggap saja oleh-oleh. Setelah makan siang, saya pun menyiapkan diri untuk pulang.
Pukul 12.30 saya melanjutkan perjalanan. Saya tertantang untuk mencoba rute lain, lewat Panggang. Saya tidak punya informasi detail soal kondisi jalan di jalur ini. Apa pun yang akan saya hadapi, ya harus saya lewati. Sedikit di luar dugaan saya, jalanan sangat bagus, seperti baru diaspal ulang, garis pembatas jalan pun masih putih jelas. Jalanannya lebar, meski berkelok-kelok, ngebut pun masih aman. Lagi pula, jalur ini masih jarang kendaraan. Saya suka dengan tipe jalanan seperti ini, Kanan kiri menghijau pepohonan.
Hingga di beberapa kilometer berikutnya, saya melihat jalan yang sedang dalam perbaikan hingga hanya 1 jalur saja yang dibuka. Di depan, saya melihat bus besar yang berjalan lambat di tanjakan. Asap hitam tebal keluar berulang-ulang dari knalpotnya. Membuat pandangan saya di mana kaca helm saya sudah hitam, agak terganggu karenanya. Saya harus bersabar berada di belakang bus ini, jalanan di kanan kiri terlalu jelek. Belum lagi kendaraan dari arah depan juga punya hak untuk jalan. Saya kemudian menemukan titik di mana bisa menarik gas semampunya dan meninggalkan bus itu.
Rute ini kemudian mengantarkan saya melewati Parangtritis. Saya tidak berminat untuk mampir karena pantai ini mungkin masih mengagumkan bagi turis yang datang ke Jogja, tapi tidak bagi penjelajah pantai semisal saya.
Saya menempuh perjalanan selama 2 jam, sama dengan jika saya menempuh rute Wonosari. Hujan mulai turun di beberapa wilayah dan sebagian masih gerimis. Yups itulah cerita dari perjalanan saya selama 2 hari. Mudah-mudahan bermanfaat bagi yang ingin mencobanya.

Jogja, di malam hari, 2 Juni 2013

Leave a Response