Sandra Brown dan Kesenangan Membaca yang Datang Kembali

in Personal by
Sandra Brown dan Kesenangan Membaca yang Datang Kembali
Sandra Brown dan Kesenangan Membaca. Sumber gambar: amazon.com.au

Saya punya hobi baru di tahun 2018 ini. Bukan, latihan panah hanya keinginan sesaat belaka, kalau samurai sih boleh juga, sepertinya seru. Tidak ada hubungannya dengan olahraga, karena jadwal saya sudah penuh sampai April. Cari jodoh juga bukan sesuatu yang pantas disebut hobi. Atau iya?

Hobi ini saya mulai karena saya bosan dengan sesuatu hal. Dan seorang Capricorn sejati memang pembosan kelas wahid, menurut saya sih. Menjelang pergantian tahun saya kan marathon nonton film tuh. Kalau tidak percaya, cek saja postingan bulan Desember 2017. Menganggap itu sebagai hal yang keren sekaligus menaikkan trafik blog. Dan mengancam orang-orang dengan spoiler hahaha.

Marathon itu melelahkan. Dalam bentuk apa pun itu. Sementara fatigue dengan film, dan komitmen untuk menjauhi media sosial juga terus berlangsung, saya memilih membaca buku. Sebab, belajar masak butuh niat lebih, berkebun saya tidak suka ulat.

Di awal Januari kemarin saya pulang ke rumah orang tua di ujung Sumatera sana. Kalau sedang di sana, selain menjadi raja karena minta dimasakin apa pasti dimasakin, waktu terasa bergulir lambat. Serius. Kalau tidak pintar-pintar mencari kesibukan, yang ada itu tidur atau nggak bengong. Maka saya pun membuka lemari kayu panjang di dalam mushala. Isinya selain koleksi al-Qur’an milik orang tua, saya nggak tahu mengapa banyak sekali mereka punya padahal yang dibaca ya cuma yang itu-itu saja, adalah koleksi komik dan buku-buku saya dan kakak saya semasa muda dulu. Saya terakhir di rumah itu tahun 1999. Kalaupun ada buku baru ketambahan dari kakak-kakak saya, itu diletakkan di atas lemari. Soalnya yang koleksi lama sudah memenuhi ruang. Sebagaimana halnya buku-buku lama, mau dirawat seperti apa, ya tetap saya menguning. Untungnya masih bisa dibaca. Seingat saya, semua buku itu sudah saya baca. Dulu saya cukup rakus membaca. Sebelum ada ponsel keparat yang isinya penuh godaan dan gosip seleb nggak penting.

Saya lalu memilih salah satu novel detektif STOP, ketimbang komik. Komik itu kayak makan kerupuk. Dilahapnya sekilas banget. Meski sudah lama tidak membaca ulang novel itu, tapi ketika membaca awal ceritanya, memori saya langsung berputar dengan cepat. Saya tiba-tiba tahu alurnya, yang saya pikir itu tidak akan terjadi. Memang ada kejadian-kejadian yang terlupakan sehingga di dalam memori saya itu seperti ada garis-garis samar dan butuh ditebalkan kembali.

Tamat dengan satu buku, saya sambung lagi. Jadi selama 3 hari di rumah, saya sudah baca 2,5 buku. Buku yang ketiga punyanya Enid Blyton, agak tebal sehingga saya menyelesaikannya dalam pesawat yang membawa saya kembali ke Jogja.

Di kosan saya ada banyak buku yang belum dibaca, tapi saya malas menyentuhnya. Saya sedang fatigue juga kepada buku-buku sastra. Saya sedang butuh hiburan, bukan mengasup kritikan sosial atau kevulgaran yang berlebihan, atau tuturan filosofis yang random. Atau apa pun yang menurut dunia sastra adalah tugas mulia para penulis untuk menyampaikannya kepada publik dengan menggebu-gebu.

Saya lalu ke rentalan buku. Di Jogja, dulu ada banyak spot rentalan buku. Tapi sepertinya bisnis itu mulai tergerus zaman. Orang kaya mulai banyak, dan memilih beli ketimbang direpotkan dengan prosedur pinjam-kembali. Satu yang masih bertahan adalah KK. Setelah memastikan pada seorang kawan bahwa rentalan ini memang masih beroperasi, saya pun ke sana. Membuat kartu keanggotaannya sangat mudah, kartunya juga hanya selembar kertas kuning dengan nama dan nomor anggota. Kalau mau pinjam buku juga tinggal bilang nomornya. KK punya cabang di bawah flyover Lempuyangan, tapi saya datang ke yang Jl. Dr. Sardjito.

Memilih buku yang hendak dipinjam ternyata butuh waktu lama. Saya nggak tahu mana yang harus saya pinjam. Mereka tidak punya Enid Blyton yang baru. Kata si penjaga, novel anak kurang banyak peminatnya. Iyalah, anak zaman sekarang sibuk mainan hape.

Saya bergerak ke rak novel dewasa. Novel romance sedang membuat saya muak. Novel fantasi membuat otak saya harus bekerja keras untuk ikut berfantasi. Akhirnya saya menimbang-nimbang untuk kategori crime dan detektif. Saya pilih crime. Tidak ada yang tipis, padahal saya sebenarnya mau coba-coba dulu. Kalau tidak suka kan tinggal balikin. Awalnya mau baca John Grisham, tapi saya malah mengambil Sandra Brown. Saya mungkin pernah dulu baca karya dia, tapi kok ya lupa ya yang mana. Itulah yang saya pinjam selama seminggu.

Saya sempat pesimis bisa menyelesaikan baca buku itu sampai selesai. Karena saya cepat mengantuk kalau baca buku, apalagi sambil tiduran. Tapi, rupanya karena Sandra Brown tahu racikan sebuah buku agar tidak melulu berkutat pada kasus kriminal, tapi juga memanaskannya dengan kisah cinta yang pastilah sensual, saya malah enggan meninggalkan lama-lama. Gaya bercerita dia memang memancing kemampuan visual saya untuk aktif menciptakan sebuah layar maya dalam kepala saya dan memutar sebuah cerita di mana penjahatnya dari awal sudah ditentukan, protagonisnya biasanya punya daya tarik seks yang luar biasa, meskipun tidak digambarkan ganteng. Tidak semua orang ganteng bisa memancarkan daya tarik seks. Kadang, yang ganteng cukup dipandangi buat bahan gemes-gemesan. Karena ganteng bisa berasal dari operasi plastik. Ganteng itu buatan. Perempuan juga bisa ganteng. Ganteng itu kefanaan belaka.

Saya baru menyelesaikan Ricochet, dan Fat Tuesday yang ampun deh typo-nya yang kalau saya emang lagi nggak niat baca pasti saya akan berhenti. Keduanya punya benang merah yang sama, detektif polisi yang jatuh cinta pada istri penjahat kelas kakap. Si polisi yang satu tipe yang mudah ngajak tidur perempuan mana pun sakit sex appeal-nya turah-turah, satunya polisi yang baru saja berpisah dari sang istri. Perempuan yang membuat mereka jatuh cinta adalah tipe perempuan yang naif, sebut saja begitu, tapi hot-nya bikin pengin ngajak bercinta siapa pun.

Jangan berharap bahwa mereka akan dengan mudah saling jatuh cinta. No, ini adalah novel crime, ada kejahatan yang menjadi topik utama. Dan si penjahat punya kekuasaan yang sulit tersentuh hukum, jelas-jelas melakukan kejahatan dan disidang berkali-kali, tapi dibebaskan dengan mudah karena kurangnya bukti. Sehingga si polisi pun geram dan bermaksud mengejar si penjahat eh kok malah nyantol sama istrinya.

Sandra Brown tidak pernah kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kisahnya sehingga layar maya itu benar-benar seperti sedang memutarkan sebuah film. Saya tidak begitu paham dengan kota-kota yang dipilihnya sebagai setting, tapi saya bisa menangkap bagaimana bentuk rumahnya, bagaimana kehidupan penduduk setempat, bagaimana gerak-gerik si tokohnya, bagaimana ketika orgasme, eh.

Adegan seks pasti ada. Saya tidak tahu apakah dalam novel aslinya ditulis bagaimana, apakah menyebut alat kelamin atau vulgar bagaimana, namun penerjemahannya diperhalus sedemikian rupa meskipun lagi-lagi, kita bisa membayangkan adegan itu dengan sangat jelas. Saya tidak bilang penyebutan penis dan vagina itu salah, tapi apa yang terbayang di kepala saya malah bentuknya bukan adegannya. Apa bedanya dengan baca cerita gratisan di situs dewasa kalau begitu?

Hanya ada satu hal yang saya kurang suka, karena Sandra Brown selalu menempatkan tokoh LGBT-nya di posisi yang lemah. Entah itu menjadi bulan-bulanan para tokoh yang benci dengan mereka, mengutuk kelakuan mereka sebagai sebuah kesalahan, dan seputar itulah. Di sisi yang lain, ada tokoh-tokoh Katolik religius yang masuk dalam cerita, meskipun bukan tokoh utama. Tapi kemudian saya memahami, tidak ada yang salah dengan itu. Kenapa saya merasa keberatan dengan perlakuan negatif terhadap tokoh LGBT, tetapi giliran tokoh pelacur disiksa sedemikian rupa, saya biasa aja?

Kasus yang selalu terselesaikan dan akhir yang bahagia. Klise sekali, tapi kemampuan Sandra Brown memandu pikiran kita untuk mengikuti cerita yang dia buat adalah salah satu kemampuan yang tidak sederhana. Dia tidak menyisakan satu ruang tanda tanya, jaring-jaringnya dibuat sedemikian rapi. Dia mengenali sebuah daerah, sampai sejarah ratusan tahun sebelumnya dengan baik. Dia tahu budayanya, dia tahu sisi gelapnya. Dia memahami psikologi manusia dengan baik, reaksi-reaksi yang akan muncul dari seorang tokoh yang tidak memancing protes dari para pembacanya. Dia tahu caranya membuat pembacanya menyukai si protagonis meskipun bukan seorang prince charming tanpa cela.

 

Jogja, 4 Februari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*