Sang Pialang (2013); Film Tentang Kisah Rumit Para Pialang Muda

Sang Pialang (2013). Sumber gambar: IMDB

Ini gue akui memang film Sang Pialang berat. Tentang kehidupan 5 sahabat yang kerja di Batara Sekuritas, sebuah perusahaan saham. Kevin (Christian Sugiono), adalah putra dari pemilik perusahaan ini, tapi dia kalah pamor dari Mahesa (Abimana) dalam banyak hal. Kevin cemburu karena ayahnya jauh lebih bangga pada Mahesa ketimbang dirinya yang anak tunggal. Selain dalam pekerjaan, Kevin juga kalah dari Mahesa. Analea, satu-satunya cewek dalam lingkaran persahabatan mereka, berusaha menunjukkan betapa istimewanya Mahesa, sementara Mahesa nggak ngerti juga isyarat kayak gitu. Cowok ini tipe yang lugu banget deh yang menganggap Analea sama seperti teman-temannya yang lain.

So, wajar jika kemudian Kevin mulai menghalalkan banyak cara untuk mengalahkan Mahesa. Dengan licik, dia mempermainkan dana nasabah, memperjualbelikan saham nasabah secara ilegal. Ya, dia memang mendapat keuntungan besar hingga ia bisa nyewa apartemen mewah, beli mobil, membelikan Analea hadiah mahal. Tapi dia nggak memikirkan konsekuensi di belakang.

Salah satu klien Kevin yang di sini diperankan oleh Ferry Salim datang dan minta semua sahamnya dicairkan. Gustom digambarkan sebagai karakter yang kaya raya, naik helikopter dan bisnismenlah. Dia merupakan teman akrab ayah Kevin dan dari dialah banyak orang yang menanamkan dana di Barata, termasuk si Lukman Sardi.

Kevin mati kutu waktu ia menghadapi Gustom. Dana yang pakai memang tidak sedikit dan sebagian habis untuk menuruti gaya hidupnya yang berlebihan. Ia berusaha mengulur-ngulur waktu tanpa bisa mencari solusi. Tapi untung Mahesa, yang meskipun saat itu berkonflik dengannya, dan teman-temannya yang lain dengan tulus membantu Kevin untuk menyelesaikan masalah. Masalah memang sedikit terselesaikan dan mau tidak mau Kevin terseret ke Bapepam.

Soal percintaan dalam film Sang Pialang memang tidak begitu tinggi kuantitasnya, tapi cukup bikin aja saat melihat Kevin cemburu karena Analea lebih akrab dengan Mahesa, atau Mahesa yang menahan cemburu ketika Kevin dengan spontan menyebut Analea sebagai pacarnya.

Film Sang Pialang juga dibumbui oleh humor yang ringan sehingga gue nggak bosen dan memang itu jadi faktor penting di mana Sang Pialang cukup serius temanya. Penonton juga bisa dibuat tertawa dengan ekspresi wajah maupun tingkah laku para pemainnya.

Soal kekurangan, gue nggak begitu memperhatikan. Tapi yang pasti film Sang Pialang sangat detail. Setting kantor bursa bener-bener ditampilkan secara maksimal, di mana seorang pialang di mejanya bisa ada empat monitor yang menyala. Kebayang nggak sih stresnya kerjaan mereka? Kita juga sedikit banyak paham cara bermain saham sepeti apa dan kecurangan-kecurangan yang bisa terjadi dalam sebuah kantor bursa. Film iSang Pialang jelas mendapat sponsor yang gila-gilaan, beberapa bank tercantum di credit title, termasuk BCA, BNI, Mandiri. Tapi mereka tidak menuntut sutradara untuk menunjukkan produk secara BERLEBIHAN. Ya bahkan penonton nggak nyadar ketika ada scene yang menyorot beberapa logo bank di ATM center, atau saat Mahesa membayar makanan dengan kartu debit. Ini patut ditiru para sutradara papan atas lain yes. Atau saat Kevin dan Analea memegang minuman kaleng. Logikanya, orang kayak kok nggak minum wine atau apalah yang romantis.

Overall, film Sang Pialang  gue rekomendasikan untuk ditonton secepatnya sebelum hilang dari peredaran bioskop. Maklum karena nggak seramai film-film Indonesia lainnya.

Trailer Sang Pialang:

Yogyakarta, 20 Januari 2013