Schindler’s List (1993); Film Suram NAZI yang Memukau Penonton

Schindler’s List (1993); Film Suram NAZI yang Memukau Penonton
Schindler’s List (1993). Sumber gambar: IMDB

Schindler’s List mendapatkan rating 8,9 dari para pengguna IMDB. Tangan seorang Steven Spielberg akhirnya membuat 7 piala Oscar jatuh ke film yang melibatkan sederSchindler’s List (1993); Film Suram NAZI yang Memukau Penontonet aktor besar semacam Liam Neeson (Silence, Taken 2), Ralph Fiennes, dan Ben Kingsley.  Untuk kategori Best Picture, Best Director, Best Writing Screenplay, Best Cinematography, Best Art Direction, Best Film Editing, dan Best Music Original Score. Sayangnya Liam Neeson gagal merebut kategori Best Actor in a Leading Role.

Dibuat dengan sepenuhnya hitam putih, Schindler’s List memunculkan nuansa kelam yang penuh. Andaikan ada teknik yang mampu mempresentasikan kekelaman lebih dalam lagi, saya rasa sang sutradara akan memakainya. Hitam putih adalah warna yang sejaman dengan Perang Dunia ke-II. Jika menonton film-film zaman Nazi, biasanya akan memperlihatkan cuplikan entah itu Hitler yang berpidato, perang antara blok Barat dan Timur, maupun scene penyiksaan kamp Nazi. Namun, beberapa film modern tidak sampai senekat Spielberg, misalnya saja The Reader, Sarah’s Key, The Pianist, Aimee & Jaguar, dan masih banyak lagi.

Schindler adalah seorang pengusaha Jerman muda yang concern dengan adanya pemisahan Yahudi dari Jerman. Pria ini mewakili tipikal pria Jerman yang bertubuh tinggi besar dan berwajah dingin. Dia tidak tega melihat begitu banyaknya warga Jerman keturunan Yahudi yang harus meninggalkan rumah mereka, menjadi bahan caci maki, lalu digiring menuju ghetto-ghetto yang sama sekali tidak layak huni. Dia mencari-cari alasan untuk bisa setidaknya menyelamatkan sekian Yahudi. Tidak mungkin semuanya. Nasib bangsa Yahudi morat-marit. Mereka kehilangan segalanya dalam sekejap. Ujung senapan pun bisa setiap saat meletus dan mencabut nyawa mereka.

Usaha Schindler ini dimulai dari mendekati petinggi-petinggi Nazi. Awalnya banyak yang mencurigai pendekatannya. Namun, Schindler tipikal pebisnis yang luwes. Dia datang sebagai orang yang bersahabat. Murah hati. Tidak ada yang perlu dicurigai darinya.

Melalui seorang Yahudi, dia meminta satu per satu warga Yahudi untuk bekerja padanya. Perkara tidak punya keahlian, itu soal belakangan. Schindler membuka pabrik panci. Di sanalah mereka bekerja. Dilatih mengenai operasional mesin dan sebagainya. Mereka setidaknya sementara waktu jauh dari ancaman senapan laras panjang yang haus darah.

Pihak Nazi tidak begitu suka dengan perlindungan ala Schindler. Seorang komandan bertempramental tinggi, tetap saja berperilaku sesukanya. Dia menembaki orang-orang tanpa alasan. Dia mengabaikan hak-hak hidup manusia. Amon Goeth adalah sosok kejam yang di satu sisi pun depresi dengan hidupnya. Sepertinya tentara Nazi memang rentan dengan serangan depresi dengan kerasnya aturan yang harus mereka jalani selama bekerja.

Schindler’s List menggunakan dua bahasa, Inggris dan Jerman. Bersetting di Polandia. Melibatkan ratusan figuran yang terdiri dari anak-anak sampai usia lanjut. Spielberg membangun setting ala 1940-an dengan sedetail mungkin, sarana transportasi pada zamannya, sampai minuman-minuman yang dihidangkan. Beberapa goofs memang tertangkap oleh penonton, silakan baca saja di IMDB. Namun, hasil karya sang sutradara, mampu menghadirkan sebuah film suram Nazi yang tidak terlupakan.

Trailer Schindler’s List:

Jogja, 3 Juni 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response