Seabrek Suplemen Makanan yang Tak Bisa Lepas dari Hidup Saya

in Personal by
Seabrek Suplemen Makanan yang Tak Bisa Lepas dari Hidup Saya
Seabrek Suplemen Makanan. Sumber gambar: pbs.org

Disclaimer: saya bukan seorang pakar gizi dan tulisan ini tidak disponsori oleh produk apa pun sama sekali.

 

Sakit adalah sesuatu yang lazim saya alami semasa kecil. Sebut saja saya lemah jika dibandingkan kakak-kakak saya yang lain. Usia 3 bulan, kata ibu saya, jatah ASI sudah distop, diganti sama SAPI alias Susu Sapi. Karena ibu saya kesehatannya tidak prima, katanya, alasannya begitu. Konon, dalam kandungan ASI terdapat sejuta kebaikan, sehingga wajarlah jika sebaiknya anak disusui SAMPAI USIA 2 TAHUN. Bayi yang mengonsumsi ASI akan lebih kuat dari yang SAPI. Terbukti benar. Minum es, radang tenggorokan. Kena hujan, demam. Panas-panasan, demam. Kecapekan, demam. Kebanyakan ngomong, suara abis. Deketan ama orang sakit, pasti ketularan.

Obat-obatan sudah jadi sesuatu yang lazim masuk ke dalam tubuh saya. Karena hanya itu caranya untuk sembuh meskipun tidak untuk permanen. Sewaktu saya tidak begitu kritis memikirkan kenapa sih saya se-fragile itu. Kenapa kakak-kakak saya kalau habis pulang main sama temannya, nggak kelihatan capek lalu tidur berjam-jam? Kenapa mereka kalau sakit, pulihnya begitu cepat? Padahal, kami makan makanan yang sama, kami nggak jajan di luar. Kenapa mereka kalau sakit, nggak harus minum obat tapi bisa sembuh?

Semakin dewasa, semakin kuatnya kecenderungan saya terhadap… aktivitas fisik, membuat saya sedikit berharap, kontak dengan obat-obatan mulai berkurang. Saya sudah anti dengan antibiotik, sebab mulai tahu bahwa kecerobohan mengonsumsi jenis obat tersebut hanya akan memunculkan bakteri yang lebih kuat di dalam tubuh. Di rumah dulu, obat-obatan bisa didapatkan dengan mudah karena perusahaan tempat  ayah saya bekerja punya rumah sakit dan bebas biaya pengobatan. Minta obat ini sama dokternya dikasih. Mau ke dokter gigi, gratis. Di rumah, lemari obat itu penuh dengan obat. Ada juga vitamin-vitamin, tapi kami tidak terbiasa mengonsumsinya.

Di kamar kosan saya, sudah tidak ada Decolgen, Paracetamol, Amoxycilin, dan lainnya. Paling juga adanya Counterpain yang di awal saya lari, dipakai lumayan sering. Alhamdulillah, sekarang habis lari 20 kilometer, tidak perlu oles-oles, besoknya sudah tidak terasa apa-apa.

Koleksi yang sama miliki sekarang hanyalah beberapa suplemen makanan. Beberapa item yang saya konsumsi karena saya tahu asupan makanan saya masih jauh dari memadai dan saya bukan tipe orang yang senang memasak. Lagi-lagi, ini bukan obat. Obat hanya diminum ketika sakit, bukan? Sementara suplemen makanan saya butuhkan untuk mencegah datangnya sakit. Terutama setelah saya latihan dalam durasi panjang dan di bawah sinar matahari yang terik. Saya masih sering kali merasakan gejala demam yang kalau tidak saya antisipasi, jadilah dia menguat dalam tubuh saya lalu komplikasi menjadi flu berat plus batuk dengan masa penyembuhan paling cepat seminggu.

Sehingga, sebelum dan setelah latihan intens tadi, ada beberapa suplemen makanan yang harus masuk ke tubuh saya, demi mencegah reaksi yang datangnya tidak lain dari tubuh saya yang punya bibit fragile sejak kecil. Sama sekali bukan obat kuat, kok. Dan bisa jadi, antara suplemen makanan satu dengan yang lainnya punya manfaat yang serupa sehingga tumpang tindih.

Yang pertama kali saya pilih untuk saya konsumsi sampai sekarang adalah Renovit. Ini adalah kaplet multivitamin dan mineral. Hampir semua vitamin dan mineral ada di sini. Harganya untuk yang isi 30 kaplet sekitar 60 ribuan. Cukup mahal sehingga saya kadang membatasi konsumsinya hanya dua hari sekali kalau tidak begitu membutuhkannya, dan setiap hari ketika telanjur sakit hingga benar-benar pulih. Alasan lain yang membuat saya tidak mau setiap hari mengonsumsinya adalah pengaruh ke warna urine. Saya selalu memperbanyak minum air putih jika benda ini masuk ke tubuh saya. Setidaknya 3 kali buang air kecil barulah warna urine saya kembali bening seperti semula.

Lalu, ada OM3HEART. Ini adalah minyak ikan yang dikemas menjadi kapsul-kapsul kecil dan mudah dicerna tubuh. Harganya murah, untuk yang isi 30 hanya 30 ribu. Dosisnya 1-2 kapsul per hari, tapi saya cuma minum 1 kapsul saja karena suplemen makanan lainnya juga punya fungsi sama dengan ini. Minyak ikan memang baik, tapi kebanyakan malah merusak tubuh. Dan perlu tahu ya, minyak ikan tidak sama dengan minyak bekas menggoreng ikan.

Minyak lainnya yang saya konsumsi adalah minyak zaitun. Kemasan minyak zaitun sudah ada yang bentuk kapsul, tapi saya lebih suka yang masih berbentuk minyak, ya minum minyak. Sama seperti minyak ikan, minyak zaitun juga mencegah dari terjadinya serangan jantung dan menurunkan berat badan. Paling baik adalah minyak zaitun yang extra virgin alias perasan pertama. Tenang, nggak ada rasanya kok, cepat hilang di lidah asalkan nggak dipakai kumur-kumur dulu baru ditelan. Dosisnya juga 1 sendok 2 kali sehari sudah cukup. Sehabis makan agar lebih aman. Apakah semua minyak zaitun bisa diminum? Wah, kurang tahu saya. Di kosan, saya ada yang khusus buat masak dan khusus buat diminum. Produsennya sama, tapi ukurannya beda.

Selanjutnya, adalah sari kurma. Saya baru saja mulai minum yang satu ini. Saya juga konsumsi kurmanya aja kalau tiba-tiba lapar. Di kantor dan kosan ada tuh. Manfaatnya baik untuk kesehatan pencernaan dan meningkatkan stamina seks, eh gimana? Masalah anemia juga bisa ditangani dengan sari kurma. Saya memilih sari kurma yang dicampur propolis dan minyak zaitun. Ada juga produk yang mengandung gula. Asal tahu saja ya, kurma itu aslinya sudah manis. Seperti aku.

Tidak terlupa, Sangobion sebagai penangkal anemia yang tak kunjung pergi-pergi. Ini pun saya konsumsi setiap hari seminggu menjelang dan setelah menstruasi. Sisanya, seperlunya saja. Harganya untuk 1 papan hanya 9 ribu. Murah sih, tapi saya berusaha melepaskan diri dari ketergantungan perlahan-lahan.

Terakhir, suplemen makanan andalan saya adalah madu. Madu hitungannya adalah barang mahal. Semakin berkualitas madunya, semakin dalam menguras isi dompet. Coba saja lihat harga sebotol kecil madu yang benar-benar asli, sangat tidak masuk akal. Tapi, manfaatnya yang segudang dari sesendok madu rasanya sepadan deh. Saya beli madu kiloan dari sebuah toko yang menjual berbagai macam hasil kerja lebah-lebah workaholik. Dengan beragam campuran juga. Dan saya baru tahu kalau ada madu pahit. Ada juga madu untuk menyuburkan, tapi saya sepertinya belum membutuhkan yang itu. Yang saya pilih adalah madu kelengkeng dengan campuran royal jelly dan bee pollen. Kelengkeng terkenal dengan rasanya yang tidak ada kecut-kecutnya. Harganya 70 ribu per kilo. Madu meskipun bisa menggantikan posisi gula sebagai pemanis, tapi orang tetap saja ogah meninggalkan gula yang bertanggung jawab atas naiknya berat badan dan membuat rasa lapar lebih cepat datang.

Ya, sementara itulah sederet suplemen makanan yang masuk ke dalam tubuh saya. Bisa jadi akan ada yang saya kurangi, atau ada suplemen lain yang saya tambahkan kalau memang dibutuhkan.

 

Jogja, 12 Februari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*