Seashore (2015); Kisah Dua Pemuda Bersahabat di Rumah Tepi Laut

in Film/Film LGBT by
Seashore (2015); Kisah Dua Pemuda Bersahabat di Rumah Tepi Laut 2
Seashore (2015). Sumber gambar: IMDB.

Seashore berjudul asli Beira-Mar, sebuah film produksi Brazil berbahasa Portugis. Mendapat rating cukup buruk di IMDB, garapan sutradara muda Filipe Matzembacher dan Marcio Reolon ini, Seashore melintasi sejumlah festival film antara lain Berlin International Film Festival 2015, Guadalajara International Film Festival 2015, Queer Lisboa – Festival Internacional de Cinema Queer 2015, Taipei Film Festival 2015, dan di Rio de Janeiro International Film Festival 2015 yang memenangkan Special Jury Prize dan Best Film – New Trends.

Kisah-kisah romantisme antara dua pria belia buat saya pribadi memang tidak banyak yang dihadirkan dengan skenario matang apalagi dalam. Biasanya hanya berkutat tentang penemuan jati diri, cinta pada sahabat, kecemburuan, dan sekitarnya. Sehingga banyak film gay yang saya nonton sebelum sampai ke Seashore tidak akan saya tulis ulasannya. Berbeda memang dengan film-film lesbian remaja yang mampu mempermainkan emosi penonton jauh lebih baik, walaupun yang tidak bagus juga tidak kalah banyak sih.

Cerita dimulai dari seorang pemuda bernama Martin yang ditugaskan ayahnya untuk mengambil sesuatu di rumah kerabatnya di kota lain, tidak lama berselang kematian sang kakek. Enggan melakukan perjalanan sendirian yang saat itu musim dingin-tapi di sana serupa dengan beberapa daerah di Australia yang tidak bersalju. Hanya cuaca yang dingin saja. Dia mengajak Tomaz, sahabatnya. Belakangan, barulah ayah Martin tahu jika putranya tidak berangkat sendirian. Sikap sang ayah yang janggal membuat saya berpikir, ada apa memangnya dengan Tomaz yang wajahnya imut sekali itu. Untuk skala 1-10 dia berada di angka 8.

Meski keduanya bersahabat cukup lama, tapi barulah dalam perjalanan itu, mereka semakin banyak tahu satu sama lain. Tomaz mengetahui bagaimana situasi keluarga Martin yang tidak akur dan saling menjaga jarak, terlebih setelah sang kakek meninggal dan rumah ayah Martin dibiarkan kosong cukup lama. Martin pun lama-kelamaan tahu, sahabatnya tidak punya rasa pada perempuan meskipun penonton sedari awal diberikan clue kalau Tomaz punya orientasi seksual berbeda dengan cara dia menatap Martin selama kebersamaan mereka. Hanya menatap, tidak ada sentuhan-sentuhan fisik, sebab Martin menyukai perempuan.

Urusan yang harus diselesaikan Martin tidak mudah. Keluarga ayahnya menunjukkan ketidaksukaan mereka terang-terangan, mereka mempertanyakan ketidakhadiran ayah Martin, mengapa hanya mengutus anaknya yang tidak tahu apa-apa? Itu membuat Martin dan Tomaz tertahan berhari-hari. Hingga Martin yang awalnya membenci laut, padahal rumahnya tepat berseberangan dengan laut, karena trauma di masa kecil pernah tersesat hingga ditemukan penjaga pantai lalu ayahnya marah habis-habisan, perlahan-lahan mengubah cara pandangnya karena Tomaz. Tomaz bukan pertama kalinya berada di sana, dulu sekali ia pernah ke sana hanya saja tidak bertemu Martin.

Tomaz adalah tipikal pemuda yang penuh rahasia. Disembunyikannya rahasia itu di buku sketsanya. Objek gambarnya adalah laki-laki, yang kemudian penonton mengira itu adalah Martin. Martin tidak diperbolehkan melihat gambar-gambar itu. Alasan dia, karena masih jelek. Kalau sudah bagus, barulah dia perlihatkan. Martin tidak memaksa. Hingga suatu kali, dia mencuri kesempatan dan mengetahui sesuatu yang tidak pernah terlintas sedikit pun dalam kepalanya. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu bahwa sahabatmu sendiri gay? Mengapa sahabatmu tidak terbuka padamu? Pernah mengalami situasi seperti ini? Pernah berada di posisi Martin atau posisi Tomaz?

Tidak semua orang dengan mudah bisa menerima kenyataan bahwa temannya adalah seorang gay. Tidak semua orang mampu mengusir jauh-jauh bayangan stigma yang hadir begitu saja. Itu sebabnya lebih baik menutup mulut ketimbang kehilangan orang yang disayangi. Apalagi kamu jatuh cinta pada sahabatmu sendiri dan tidak bisa mengungkapkannya. Kamu hanya bisa menahan perasaan cemburu melihat dia bercinta dengan seorang perempuan yang disukainya.

Film-film LGBT memang akan terasa lebih kuat jika perasaan si tokoh disiksa habis-habisan, berakhir dengan sedih, bunuh diri, dan sebagainya. Sementara ending membahagiakan dianggap hanyalah sebuah fatamorgana belaka. Dianggap tidak nyata. Padahal ya dalam kenyataan, banyak pasangan LGBT yang hidup bahagia sampai mati.

Tapi memang terbukti, semakin sedih, maka semakin berjayalah dia di ajang-ajang festival film.

Trailer:

Jogja, 25 November 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*