Sebuah Takdir Perkenalan dengan Karya-Karya Danarto

Penerbit di tempat saya bekerja sedang giat-giatnya menerbitkan karya-karya sastra. Ini bukan sesuatu yang fresh sebab penerbit lain juga sibuk hunting penulis maupun karya-karya sastra untuk diterbitkan dengan wajah baru. Mengapa fenomena ini terjadi? Adakah rumor yang menyebutkan bahwa karya-karya sastra terancam kelangsungannya karena gempuran buku-buku populer?

Tidak. Tidak ada. Tidak perlu ada ketakutan semacam itu. Namun memang, ada semacam perputaran tren di dunia buku. Bahwa karya-karya berat adalah bahan makanan bagi para penulis buku populer, menjadi salah satu pemicu meningkatnya gairah sekian penerbit yang lama “vakum” dari buku-buku kelas berat.

Sebuah Takdir Perkenalan dengan Karya-Karya Danarto

Penulis-penulis senior akan merasa sangat tersanjung betapa penerbit-penerbit besar akan mulai memperhatikan mereka kembali, menanyakan adakah karya-karya hebat mereka yang akan diterbitkan ulang.

Termasuk di dalam program ini adalah karya-karya Danarto. Siapa Danarto? Dia adalah penulis idola salah satu editor di kantor, yang juga salah satu alumnus sastra Indonesia UNY sehingga sangat wajar begitu dekat dan punya ikatan emosional dengan sastrawan sekaligus perupa kenamaan ini. Dari teman saya tersebut, saya tahu kalau genre yang dipegang erat-erat oleh Danarto adalah absurd, surealis, entahlah.

Karya Danarto akhirnya sampai di meja saja. Buku ini harus “dicairkan” ke dalam format Word, sama halnya dengan karya-karya beliau lainnya. Sepertinya, sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa jika saya harus mau membaca karya-karyanya, bahkan membaca dengan teramat pelan, sepelan saya mengayuh pedal ketika di Kaliurang.

Asmaraloka pun tampil di layar monitor. Naskah ini tebalnya 300 halaman dan harus saya perbaiki sebelum disetting ulang tata letaknya. Tugas saya bukan menyunting naskah ini, tapi membersihkannya dari segala tanda hubung dan kesalahan ketik dari penerbit sebelumnya.

“Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do.” — Steve Jobs.

Saya berkenalan dengan Danarto dari karyanya. Bagaimana dia membawa saya masuk ke dalam cerita yang dia buat. Mengajak saya untuk dengan sabar menyimak kisah seorang tokoh bernama Firdaus yang berkelana dalam perang fatamorgana. Bagaimana Danarto tidak melupakan pentingnya kehadiran tokoh perempuan dalam sebuah karya sastra, tanpa harus mengeksploitasi seksualitas. Danarto tidak berpihak pada feminisme, tapi dia menghargai perempuan dengan memasukkan tokoh perempuan tangguh bernama Arum. Tokoh ini mampu membaca pikiran, mampu berbicara dengan selain manusia, dia survivor yang tidak kalah dengan tokoh-tokoh kebanggaan para feminis dalam novel-novel feminis.

Danarto punya selera humor yang tinggi. Dialog-dialog alot antara Firdaus dengan tokoh-tokoh lain yang terkesan seenaknya sendiri menjadi lebih dari sekadar bumbu narasi panjang-panjangnya. Mengundang saya untuk tersenyum. Betapa cairnya wawasan Danarto yang tertuang dalam Asmaraloka.

Pria ini tidak sombong. Dia menyebutkan ratusan tokoh dalam ucapan terima kasihnya. Membuat saya harus menahan keinginan untuk menambahkan nama saya di sana setelah nama Mochtar Lubis dan Todung Mulya Lubis. Pertemanannya dengan banyak orang tentu bukan untuk dipamer-pamerkan. Dari mereka-mereka itulah tentunya Danarto mendapat gagasan dalam tulisannya. Novel sesungguhnya adalah cerita bersambung di harian Republika. Ditulis secara spontan namun memiliki banyak titik tekan yang membuat kita perlu merenung. Tentang rahasia-rahasia Tuhan yang membuat manusia selalu ingin mencari tahu. Tentang manusia-manusia yang serakah. Peperangan setan dengan manusia. Kebencian manusia pada setan yang lebih dalam banyak hal. Ketersesatan yang berawal dari sebuah zona nyaman. Ketakutan akan kehilangan. Kisah-kisah tragis yang diperjualbelikan.

Asmaraloka bukanlah novel romantis dengan kisah percintaan picisan dua anak manusia tanpa makna. Berbagai bentuk asmara ada di sini. Cinta kepada Tuhan. Cinta kepada pasangan hidup. Cinta kepada kedamaian. Cinta akan harta. Cinta akan kekuasaan. Cinta akan kesucian diri. Cinta akan sanjungan. Cinta akan sosok panutan. Cinta kepada keturunan.

Danarto membagi banyak aspek alamiah manusia di dalam karyanya ini, dalam porsi-porsi yang menurutnya ideal. Tidak lupa mengeluarkan isi kepalanya, pandangan hidupnya, opini-opininya, sampai kejengkelannya di dalam karyanya. Kejujuran-kejujuran seperti ini apakah salah?

Nawal Sa’daawi pun seorang penulis yang teramat jujur. Sayangnya dia sulit menyembunyikan rasa gemasnya dengan ketidakadilan terhadap perempuan dalam kultur patriarki Arab. Dia menulis dengan keras tentang pemerintah yang semena-mena. Konsekuensinya adalah sel tahanan yang siap terbuka untuk memberangus isi kepalanya. Apa mau dikata, isi kepalanya terlalu cerdas untuk dibungkam. Dari balik jeruji besi, dia terus menulis.

Kejujuran-kejujuran seperti ini lahir dari ribuan kontemplasi. Bukan curhatan kosong. Bukan tentang kegalauan cinta yang patah di tengah jalan, atau rasa cinta sesaat namun menggebu-gebu. Danarto paham dunia ini sakit kronis, sudah tidak ada obatnya. Menua lalu mulai sering batuk-batuk. Terakhir, akan mati dengan kehancuran universal. Perdebatan-perdebatan manusia akan selalu ada. Orang-orang yang selalu bermulut sinis sebab sudut pandangnya statis-ironis. Mereka hanya peduli dunianya, sisi lainnya dianggap setidakpenting debu.

Tidak hanya ada satu Danarto di muka bumi ini, yang merasa bertanggung jawab akan panjang pendeknya usia dunia. Banyak di luar sana. Tangan-tangan mereka terus menulis, menggantikan mulut yang suaranya kalah dengan hiruk-pikuk duniawi/hedonisme yang tak mati dengan tenggelamnya matahari. Sebab lampu-lampu akan menyala terang-benderang sampai matahari datang kembali.

 

Jogja 10 Februari 2016

 

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response