The Secret Scripture (2016); Kisah Perempuan Tua dan Diary dalam Injil

The Secret Scripture (2016); Kisah Perempuan Tua dan Diary dalam Injil
The Secret Scripture (2016). Sumber gambar: IMDB.

Baru akan resmi rilis pada 13 Oktober, ini adalah salah satu film salah satu film suram Rooney Mara (Carol, The Girl with the Dragon Tattoo) yang saya tonton di tahun 2017. Diangkat dari novel The Secret Scripture (terbit tahun 2008) karya Sebastian Barry. Novelnya sendiri mendapatkan James Tait Black Memorial Prize, Book of the Year di Costa Awards tahun 2008, Novel of the Year di Irish Book Awards, hingga menjadi shortlist Man Booker Prize for Fiction di tahun 2009.

Bersetting 2 waktu, yaitu Perang Dunia I dan empat puluh tahun kemudian. Peran Rose muda pada awalnya akan dimainkan oleh Jessica Chastain, namun beberapa alasan akhirnya jatuh pada Rooney Mara. Sementara untuk Rose yang telah berambut kelabu dan kehilangan banyak ingatan di masa lalu diperankan oleh Vanessa Redgrave (Foxcatcher, Nip/Tuck).

Rose yang menjadi pasien dalam sebuah rumah sakit jiwa bersikeras untuk tetap tinggal sementara tempat itu akan beralih fungsi. Bagaimana tidak, ada banyak kenangan di tempat itu, termasuk mengapa dia sampai berada di sana. Ibunya memang mengalami gangguan kejiwaan, tapi Rose benar-benar sehat. Apa yang membuatnya sampai ke sana adalah percintaannya dengan seorang pilot pesawat tempur Irlandia. Pada saat itu, Inggris dan Irlandia sedang berperang, sehingga percintaan antara dua bangsa itu pun menjadi masalah besar.

Rose adalah seorang perempuan yang disukai banyak lelaki. Bahkan seorang pendeta muda Katolik karismatik pun seolah ingin melindunginya dari orang-orang jahat. Meski tak ada kisah cinta di antara mereka, tapi peran Father Gaunt (Theo James-Divergent) sangat besar dalam kehidupan Rose muda.

Bukan salah Rose ketika dia jatuh cinta pada sosok Michael. Lelaki itu pun mencintainya dengan tulus. Mereka menikah diam-diam dan siap menghadapi liku-liku kehidupan bersama. Tapi apa mau dikata, Michael terus dikejar orang-orang Inggris hingga terpisah dari sang istri. Tanpa alasan jelas, Rose dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa.

Sebagaimana dalam sebuah rumah sakit jiwa, orang yang tidak sakit pun disuntik dan menjalani pengobatan yang aneh-aneh termasuk sengat listrik. Rose awalnya melawan, tapi dia sendirian. Michael tidak pernah datang kepadanya. Sementara di dalam rahimnya sudah ada benih pria itu. Rose semakin tidak punya kesempatan untuk keluar dari tempat itu setelah dia membunuh bayi yang dilahirkannya. Dia lahirkan sendiri.

Selang puluhan tahun kemudian, di saat pasien rumah sakit jiwa itu akan dipindahkan ke tempat lain dan Rose bersikeras tinggal, hadirlah Dokter Grene (Eric Bana-Munich). Dia penasaran mengapa Rose berbeda dari pasien lain. Rose selalu bersama Alkitab yang ternyata telah diubahnya menjadi sebuah diary. Di sanalah Rose menuliskan dan menggambarkan kehidupannya. Mulai dari pertemuannya dengan Michael, tentang pembantahannya bahwa dia tidak membunuh anaknya, hingga lubang untuk sebuah barang berharga pemberian suaminya. Film seperti ini jika buatan orang Indonesia, pasti sudah dilarang tayang dengan alasan penistaan agama dan semua kru filmnya akan diperkarakan agar segera masuk penjara.

Dokter Grene dan seorang perawat hanya punya beberapa hari untuk merangkai kembali masa lalu Rose. Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Rose membunuh anaknya, mengapa dia membantah perbuatan itu? Grene butuh kepastian apakah Rose memang harus terus berada dalam rumah sakit jiwa ataukah dibebaskan.

Film berdurasi 1 jam 48 menit ini disutradarai oleh Jim Sheridan, naskahnya ditulis Jim bersama Johnny Ferguson. Diputar perdana pada ajang Toronto International Film Festival tahun 2016.

Jogja, 26 September 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response