Seharga Dunia (2012); Album Kolaborasi Herlinatiens dan Musisi Jogja

Seharga Dunia (2012); Album Kolaborasi Herlinatiens dan Musisi Jogja
Seharga Dunia (2012). Sumber gambar: Wikipedia

Album Seharga Dunia dibuat sebagai semacam merchandise untuk novel Ashmora Paria atau Garis Tepi Seorang Lesbian. Lirik dari tiap lagu dipastikan bersumber dari novel yang terbit perdana tahun 2003 tersebut. Herlinatiens-yang fasih dalam menulis novel beraroma puisi-menjadi komposer atas lima track di album ini dan dua track lainnya oleh Jendela. Gue tidak meragukan kemampuan dia soal tulis-menulis lirik-melirik (eh apa sih?). Dia semacam “pabrik” yang bisa menghasilkan kata-kata beraroma sastra. Sering kali gubahan kata-katanya itu juga menjadi inspirasi (atau sumber duplikasi) penulis-penulis lain yang sedang mencari jati diri tulisannya sendiri. Diakui atau tidak, itu terserah saja.

So, keinginan herlina untuk memberikan semacam kado bagi para pembacanya bukan jadi perkara yang sulit. Dia pun memilih orang yang dianggap tepat untuk menyanyikan lagu-lagunya. Pilihannya itu jatuh pada seorang mantan vokalis band, apalah itu namanya, yang memiliki karakter suara yang “muda”. Tipikal penyanyi pop masa kini. Fi’i namanya. Selain menyanyi, ia juga mengaransemen lagu-lagu di album ini sehingga hasilnya pun terdengar manis.

Ketujuh lagu dalam Album Seharga Dunia bercerita tentang cinta dan menurut gue tidak ada yang secara eksplisit menyerempet ke tema cinta sesama jenis. Entah mengapa. Ya, memang tidak harus ada karena cinta itu universal (maaf, agak ngelantur ^_^).

Tentang kesetiaan dengan segala derivasinya ada di lagu Seharga Dunia, Hari Bersamamu, dan Pertanda. Sementara tema cinta bertepuk sebelah tangan dan yang mengarah ke sana, ada di lagu Cerita sang Malam, Sedih Tak Bernama, Lamareta, dan Buatmu kembali. Menurut, gue tema yang mana pun asyik untuk didengarkan karena syair-syair di dalamnya dibuat dengan sepenuh hati, bukan buat tujuan komersial. Ya, buat kado itu tadi. Tapi, rasanya juga disayangkan jika lagu-lagu ini hanya menjadi sebatas kado, tidak bermanifastasi menjadi sebuah karya seni yang mandiri. Gue dan gue rasa nggak cuma gue, tapi siapa pun yang mendengarkan lagu-lagu di dalam album ini, pasti akan sepakat berharap akan adanya metamorfosis ke arah yang lebih indah.

 

Jogja, 1 November 2012

Leave a Response