Selamat Pagi, Malam (2014); Film Kehidupan Jakarta di Malam Hari

Selamat Pagi, Malam (2014); Film Kehidupan Jakarta di Malam Hari
Selamat Pagi, Malam (2014). Sumber gambar: IMDB

Malam hari biasanya dijadikan waktu untuk beristirahat. Di kalangan urban, beda lagi. Malam menjadi waktu untuk kehidupan yang lain. Malam pun sesibuk di pagi hari. Berdurasi 94 menit menyorot kehidupan masyarakat di ibu kota, tepatnya ketika Ulang Tahun Jakarta, di malam hari hingga waktu subuh. Bukan hal yang sebenarnya baru diangkat, tetapi soal apa yang menjadi sorotan utamanya yang menarik.

Sang sutradara, Lucky Kuswandi, membagi tiga cerita ini pada tiga tokoh utamanya, masing-masing memiliki latar belakang berbeda-beda. Akan saya ceritakan satu per satu mulai dari yang tokoh biasa saja sampai yang saya paling favoritkan.

Yang pertama adalah Indri, seorang PR sebuah pusat kebugaran. Dia baru kenal sama seorang cowok kaya dan janji ketemuan di sebuah restoran western mewah Lilo. Indri mupeng sama bodinya cowok itu yang kekar dan sixpack versi foto entah berapa tahun lalu.

Si cowok ini juga suka “nakal” saat chatting sama Indri. Bikin penasaran. Itu yang membuat dia nekat
mencuri sepatu seorang member di locker yang lupa dikunci. High heels mahal tapi ukurannya lebih kecil dari kakinya, so, lecet pas dia pakai.

Yang kedua adalah Ci Surya, seorang janda keturunan Cina yang baru ditinggal mati sang suami. Dia hidup sendiri, tanpa ada anak. Komunitasnya hanyalah lingkungan gereja. Kepergian suaminya membuatnya sedih, sebelum ia tahu kalau Koh Surya ternyata punya affair sama seorang perempuan bernama Sofia. Nama dan nomor HP-nya ditulis di sebuah kertas dari Hotel Lone Star. Ketika dihubungi, terdengarlah sapaan sayang dari seberang.

Yang ketiga, paling saya suka, Anggia atau Gia (Adinia Wirasti). Seorang perempuan Batak single usia 32 tahun. Tujuh tahun tinggal di Manhattan, kembali ke Indonesia karena alasan… entahlah. Sebagaimana anak perempuan yang sudah memasuki kepala tiga, sang ibu mulai sibuk mencarikan jodoh.

Di restoran yang sama, Naomi janji ketemuan sama Gia. Kesan pertama kali bertemu, sama-sama canggung.

Selamat Pagi, Malam dilengkap dengan subtitle bahasa Inggris, tapi tidak saya rekomendasikan untuk diikuti karena beberapa kali saya iseng mencocokkan antara ucapan dengan teks, berbeda. Di samping juga, dialog sepanjang film Selamat Pagi, Malam kebanyakan menggunakan percakapan sehari-hari sehingga sulit mencari padanan dalam bahasa Inggris.

So far, Selamat Pagi, Malam mengangkat sisi lain dari sebuah hedonisme Jakarta. Tentang cinta sesaat, bercinta karena dikhianati cinta, dan melepaskan cinta meski masih cinta.

 Trailer Selamat Pagi, Malam:

 Jogja, 19 Juni 2014

Leave a Response