Semua Orang Pandai Mencuri (Gramedia, 2015); Buku Kumcer Majalah Esquire

Semua Orang Pandai Mencuri (Gramedia, 2015); Buku Kumcer Majalah Esquire
Semua Orang Pandai Mencuri (Gramedia, 2015)

Selain kumpulan cerpen keluaran Kompas, beberapa hari lalu saya juga membeli antologi milik majalah Esquire sebagai bacaan ringan. Kedua buku itu memang memiliki muatan yang berbeda. Semua Orang Pandai Mencuri milik Esquire jika dicari padanannya, bolehlah dibilang setipe dengan Femina. Cuma majalah Esquire biasanya dibaca pria. Tidak ada kekhususan bahwa ceritanya harus tentang laki-laki. Walaupun Femina dominan cerita mengenai kaum hawa.

Mari membuka struktur dari kumcer ini. Terkumpul 12 cerpen untuk seri yang pertama dari dua seri yang diterbitkan di tahun yang sama. Jika melihat keseluruhan kontributor yang ada, tidak akan jauh beda dengan kumpulan cerpen Kompas yang identik dengan nama Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, dan Eka Kurniawan. Selain itu ada juga Alex R. Nainggolan, Anton Kurnia, Bre Redana, Cok Sawitri, Dina Oktaviani, Dwi Sutarjantono, Edo Wallad, Restoe Prawinegoro Ibrahin, dan Tommy F. Awuy. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah ukuran berkualitasnya sebuah antologi ditentukan dengan kemunculan nama-nama itu. Memang, beda rasanya ketika kita membeli buku—bukan karena faktor tulisan teman kita atau tulisan kita sendiri di sana—yang seluruh kontributornya orang-orang yang asing di telinga bahkan di jejaring sosial pun sama sekali tidak pernah eksis dengan yang punya jam terbang di luar rata-rata.

Membaca buku ini, akan membawa kita ke zona metropolis yang mapan, dengan perkara-perkara kehidupan yang bisa ditemukan di film atau sinetron zaman sekarang. Bukan mengangkat konflik-konflik lokal yang seakan tiada pernah ada habisnya untuk diangkat ke permukaan. Pembaca cerpen Kompas ketika mulai membaca cerita pertama berjudul Dinda & Ben menganggap ada “spoiler” yang tanpa sengaja tertuliskan pada pertengahan cerpen sehingga kejutan yang disiapkan pada akhir cerita tidak lagi memberikan dampak maksimal kepada pembaca. “Kesalahan” itu tertutupi oleh cerpen Eka Kurniawan yang berjudul Semua Orang Pandai Mencuri. Penggunaan teknik flash-forward menciptakan kerumitan pada pembaca untuk menebak sosok pencurinya. Saya rasa, teknik flash-forward yang sukses adalah yang mampu membuat pembaca lelah untuk menebak-nebak—asalkan dimanfaatkan secara maksimum.

Wanita dari Blok Cepu (Bre Redana} dan Hilang Ditelan Rumah (Djenar Maesa Ayu) mengembalikan saya pada tahap kurang terpuaskan dengan suguhan cerita yang ditawarkan, lagi-lagi karena sungguh sepertinya pernah membaca cerita ini sebelumnya tapi saya buka tipe pengingat yang baik, dan saya memastikan sama sekali belum pernah membaca majalah Esquire. Semoga ada yang bisa mengingatkan saya kembali untuk jawabannya.

Di cerita berikutnya mood saya kembali naik dengan hadirnya Sepatu Kulit Ular Warna Merah milik Seno Gumira Ajidarma. Masih dengan kemisteriusan yang menyiksa pembaca sampai kalimat penutup. Kesederhanaan ide yang kemudian dimasak dengan kemewahan eksekusi.

Cerita tentang LGBT dihadirkan oleh Dwi Sutarjantono dengan judul Di Ujung Jalan Orchard. Kebodohan saya adalah terlalu lekat dengan cerita-cerita LGBT sehingga kembali bisa menebak ke mana angin mengembuskan jalan ceritanya sampai ke hilir ending yang sayangnya ditutup dengan terlalu halus atau tipikal(?).

Dejavu saya alami ketika membaca Sebutir Peluru untuk sang Bapak.  Seorang PSK yang menghabiskan malamnya dengan klien yang membayarnya mahal, bukan klien biasa, namun ada tujuan di baliknya. Memutar kembali slide memori masa lalu dan ditutup dengan sebuah kalimat yang membuat alis saya terangkat dan membatin kesal, andai adegan penembakan yang sadis itulah cerita dihentikan. Saya pernah—entah membaca atau menonton—alur mirip seperti ini. Bodohnya saya karena terlalu banyak menonton/membaca. Semakin sering menemui perulangan-perulangan yang berarti.

Cok Sawitri hadir dengan Lelaki Muda Itu Menangis, cerpen absurd yang bukan makanan favorit saya dengan kata lain saya butuh pembacaan lebih dari sekali untuk memahami, sementara saya tidak sabar untuk segera membaca cerita selanjutnya milik Edo Wallad (Lelaki dengan Ransel), Cinta Semanis Racun (Anton Kurniawan), Dina Oktaviani (Perempuan Pertama), hingga khatam pada Alex Nainggolan “Hmm…”

Saya paham betul, setiap media akan punya rasa yang berbeda-beda sebagai penanda identitas. Itulah sebabnya di dunia ini ada banyak sekali media cetak dan digital penyedia ruang cerpen. Setiap media punya batasan kemapanan cerita yang tidak akan pernah sama, muatan kompleksitas yang pasti tidak sama tinggi, menciptakan aroma yang khas, tidak tercampur baur dengan mudahnya. Meskipun, seorang penulis bisa masuk ke media mana pun yang disukainya atau itu disebab permintaan khusus sang redaktur yang ingin menciptakan impresi secara tersirat kepada para pembaca setianya. Hadirnya Seno, Djenar, Eka Kurniawan tidak serta-merta membuat antologi Semua Orang Pandai Mencuri beraroma Kompas. Sembilan cerpen lainnya memastikan diri menjadi tiang identitas Esquire yang kokoh dalam buku setebal 136 halaman. Seperti judul karya Eka Kurniawan, Semua Orang Pandai Mencuri. Dengan caranya masing-masing untuk tujuan yang mungkin sukar kita pahami dengan akal sesehat apa pun juga.

 

Jogja, 13 Agustus 2015

Leave a Response