Seorang Teman di Dunia Maya yang Sangat Ingin Kamu Temui

in Personal by
Seorang Teman di Dunia Maya yang Sangat Ingin Kamu Temui
Seorang Teman di Dunia Maya. Sumber gambar: pixabay.com

7 Hari Tantangan Menulis Basabasi Store (LINE @zog5070k)

Bukan rahasia lagi jika di masa sosial media membuka peluang terjadinya hubungan pertemanan, maka seseorang akan mendapatkan begitu banyak teman, bahkan tanpa perlu memperkenalkan diri sekalipun. Tidak perlu bertatap muka langsung, tidak perlu berjabat tangan, tidak perlu menyebut nama diri, dan blablabla lainnya. Seseorang langsung bisa nimbrung di percakapan orang lain, tanpa harus bilang, “Nama saya Jessica, pengangguran, sebatang kara dan senang tidur di kolong tempat tidur, boleh saya ikut ngasih komentar? Nggak boleh? Oke, permisi, salamualaikum.” Saya bisa suatu pagi mention Rihanna tanpa perlu memikirkan yang bersangkutan terganggu dengan notifikasi dari mana-mana. Saya bisa follow dan di-follow siapa pun tanpa ada yang bisa melarang. Orang bisa melihat ribuan racauan dan percakapan saya di twitter dengan teman di dunia nyata maupun yang hanya di dunia maya.

Akun twitter yang sekarang adalah akun ke—hmm dua atau tiga kali ya. Saya kalau bete suka nutup akun sesukanya gitu. Sebutan dalam dunia psikologinya adalah childish. Abis itu bikin akun baru lagi. Tapi saya menyesal banget ketika pernah dulu nutup akun di facebook di mana teman-teman saya banyak penulis senior kesayangan saya, akun artis juga, teman-teman SMP saya, akun gebetan, akun mantan, akun mantannya gebetan, akun gebetannya mantan. Tahu nggak, ketika permintaan pertemanan kita diterima oleh sang idola, itu rasanya melayang kayak habis mengunyah daun ganja yang habis disemprotin pestisida. Mereka seperti mengizinkan kita yang rakyat “jelata” sebagai teman mereka. Teman. T-E-M-P-E.

Lalu ketika twitter muncul, kesakralan itu hilang. Tinggal klik follow, kepoin dah target lo. Rayuan “folbek dong kaka” hanyalah angin lalu. Siapa elo? Ngapain gue harus follow elo yang bionya aja dikosongin, potonya pake member boyband Korea yang mukanya kayak buci, trus tweet elo isinya RT doang sepanjang hari. F*ck no!

Following saya ada 169. Sebagian besar adalah teman-teman saya dari Kampus Fiksi, teman kantor, akun artisnya cuma dikit, lambe turah ga follow, akun berita terlalu rame, akun Pak Presiden juga bodo amat lah, mantan Presiden apalagi, blogger-blogger, gebetan yang akunnya dikunci mulu boro-boro bakal di-folbek, sisanya yang tahu dari orang.

Nah, sisanya tahu dari orang. Adakalanya, ketika saya ngumpul dengan teman-teman, kita tanpa diniatin mulai membahas seseorang. Biasanya saya nggak begitu peduli si A, B, C meskipun ketika diceritain, harusnya bikin penasaran. Suatu kali, saya dan dua teman, duduk di sebuah kafe, malam hari. Sebut saja teman saya ini Adam dan Brie. Adam dekat dengan saya, Brie cuma sesekali ketemu dan saya lupa kenapa malam itu dia ada di sana. Blablabla ngobrol ke sana kemari, lalu Brie menyebut nama Chuck. Dia famous—si Chuck itu—makanya saya menajamkan telinga, menyipitkan mata. Si Chuck ini katanya punya hubungan diam-diam dengan David. Setahu saya, Chuck ini sudah menikah. What a rumor. Saya antara percaya dan tidak. It’s really no way. Tapi apa untungnya Brie nyebar rumor ke orang-orang yang masa bodoh dengan gosip? Adam dengan bijak bilang, ya itu sih pilihan masing-masing orang.

Sepulang dari acara kongkow itu, saya googling nama David. Nemu. Facebook sama twitter. Seperti dugaan saya, tidak ada rekaman percakapan mencurigakan antara Chuck dan Don. By the way, nama-nama ini hanya samaran dan gendernya pun disamarkan. Nggak dikira saya lagi ngobrolin pasangan gay. Saya lupa langsung add atau tidak. Sebelum Don folbek, saya benar-benar ingin menemukan bukti bahwa Chuck dan Don khilaf saling mention yang agak mesra. Itu tidak pernah terjadi. Yaiyalah, elo cari mati namanya.

Saya lalu kaget ketika tahu kemudian bahwa Don itu temenan sama Erick, Erick itu temenan sama Frans, Frans adalah mantan saya, Frans berteman dengan Adam tapi saya nggak yakin dia kenal Brie. Oh my God! Jangan-jangan, Frans kenal Don. Tolong jangan ya. Saya tahu kok teman-temannya Frans, saya belum pernah melihat Frans foto bareng sama Don, lagi pula mereka tipe yang berbeda. Frans itu yang suka hang out, Don sih menurut saya agak rumahan. Lagi pula kantor mereka jauhan. Nggak mungkin lah! Kok saya jadi paranoid gini?

Anyway, saya paling malas jika punya teman yang kenal dengan mantan. Masalahnya—bodohnya saya—waktu masih pacaran pasti selalu saya kenalin ke teman-teman saya. Lalu setelah semuanya berakhir, pertanyaan nggak penting macam, “Eh si Frans apa kabar?” itu akan terucap dengan mimik yang menyebalkan seolah saya akan berbunga-bunga. Nggak bakal kelez. Saya mah sealiran sama Taylor Swift yang ogah balen, Bro!

Don tipikal orang yang asyik karena diajak bercanda bisa nyambung. Buat saya ukuran seorang teman adalah kemampuannya untuk merespons balik candaan kurang ajar saya. Tidak semua orang cerdas bisa diajak bercanda. That’s my point.

So, Don, kapan kita meet up? Your kitchen or mine?

 

Jogja, 26 Juli 2017

2 Comments

  1. Aku sampai harus coret-coret kertas supaya paham korelasi antara nama-nama cowok di atas, Mbak. Banyak bangets..😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Personal

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co