Sepasang Serasah Cokelat ; Kisah Utopia Jika Dunia Berada dalam Tatanan Baru

Sepasang Serasah Cokelat ; Kisah Utopia Jika Dunia Berada dalam Tatanan Baru
Sepasang Serasah Cokelat. Sumber gambar: pixabay.com

Beralih dari kilas balik tragedi Mei 98 yang dpakai oleh Fakhri, cerpen Sepasang Serasah Cokelat karya Reni FZ membawa kita dalam alur science fiction 2 lelaki perumus tatatan baru dunia. Gesang dan Rik. Awal keterlibatan dua saintis berusia lanjut itu adalah tewas mengenaskannya seorang perempuan yang dicintai gesang 7 dekade lalu. Kerusuhan membabi-buta, perkosaan, pembunuhan, dan kekejaman manusia membuat Gesang bertekad menghapuskan nafsu duniawi manusia dari aliran darah. Untuk selamanya.

Proyek besar itu digagas sang penguasa demi menciptakan dunia yang adem ayem. Manusia yang berjiwa angel and demon diubah menjadi makhluk-makhluk patuh dan serbateratur. Hormon mereka diatur lewat injeksi harian, sehingga apa yang pernah ada di masa lalu, termasuk rasa cinta, dinetralkan, lagi-lagi demi perdamaian dunia.

Manusia memang tidak lagi kenal dengan kemarahan, lalu apa makna kehidupan itu sendiri? Di dunia ini butuh predator. Seperti rantai makanan yang kita kenal dalam pelajaran sekolah. Predator adalah penjaga ekosistem. Bagaimana jika ular tidak pernah dimangsa elang? Tidakkah itu akan sangat mengerikan? Hukum alam adalah perkara yang kuat memakan yang lemah. Memakan belum tentu selalu buruk dampaknya.

Manusia tidak mengenal rumah untuk tinggal sebab rumah adalah perkara emosional. Tidak mengenal kata umpatan. Bahkan mungkin tidak mengenal rokok, sebab rokok bisa membunuh orang lain dengan cara halus. Agama, hm agama pun bisa mendorong orang untuk saling bunuh perkara beda persepsi. Agnostik sepertinya lebih baik.

Sistem tatanan dunia baru rancangan Gesang dan Rik memiliki puncak yang namanya Malam Pengukuhan.

Malam Pengukuhan adalah malam yang paling penting, terutama bagi mereka yang ada di usia 7, 18, 21, 25 dan 27 tahun. Di usia ketujuh, mereka akan mendapatkan sepeda pertamanya. Mereka yang berusia 21 akan ditempatkan di bidang pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya. Wanita yang berumur 25 tahun akan menikah dengan lelaki berumur 27 tahun. Semuanya sudah diatur oleh sistem. Tak ada lagi istilah bujang lapuk atau perawan tua di komunitas ini.

Gesang dan Rik, dua manusia normal yang tersisa dalam tatanan tersebut, menyadari bahwa apa yang mereka lakukan tidak lebih dari merusak tatanan alami ciptaan Tuhan. Tuhan tidak menyukai keteraturan. Cobalah temukan apa yang ada di dunia ini berada dalam konteks teratur. Jam matahari terbit pun tidak jelas. Di belahan dunia lain. Matahari makan gaji buta selama setengah tahun.

Namun, demi misi menunggu reinkarnasi sang gadis idaman, Gesang bertahan dalam program gila itu. Tinggal satu hal lagi, menemukan warna iris mata yang cocok dengan milik gadis itu ketika hidup.

Cerpen Sepasang Serasah Cokelat menurut saya telah terbangun dengan baik, hanya satu pertanyaan mendasar yang kemudian muncul ketika saya membuat tulisan ini. Jika Gesang bisa merekayasa genetika hingga membuat dirinya tidak terlihat seperti kakek-kakek renta dan lemah, mengapa dia tidak membuat rekayasa genetika dari DNA Ling dan menciptakan Ling yang baru dan bisa dia program sesuka hati? Mengapa menunggu reinkarnasi yang jelas menjadi bagian dari sebuah agama? Juga, apabila perkara emosional itu bisa dikendalikan, kira-kira bagaimana ya caranya membuat anak?

Oh ya, ingin menikmati kisah yang juga bernada sains ilmiah, silakan baca pula Komedi-Tragedi di postingan-postingan selanjutnya.

 

Catatan:

Kata “serasah” di KBBI terbaru merujuk pada 3 objek. Tapi sepertinya definisi yang disebutkan dalam Wikipedia paling mendekati, yaitu: istilah yang diberikan untuk sampah-sampah organik yang berupa tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya di atas lantai hutan atau kebun yang sudah mengering dan berubah dari warna aslinya.

 

Jogja, 8 April 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response