Setting Luar Negeri untuk Sebuah Novel Indonesia

Setting Luar Negeri untuk Sebuah Novel Indonesia
Setting Luar Negeri. Sumber gambar: flickr.com

Setting luar negeri merupakan salah satu dari persyaratan Lomba Sepang 2014. Jika dipahami sekilas, akan mengerucut pada cakupan yang sempit, lokasi sebuah cerita itu berlangsung. Tapi, yang namanya unsur intrinsik, pasti antara satu unsur dengan unsur lainnya akan berkaitan. Memilih setting Jerman, tentu ada kaitannya dengan tokohnya yang orang Jerman, konflik yang dialami orang Jerman, budaya Jerman, kebiasaan orang Jerman, dan sebagainya. Bisa saja memang tokoh-tokohnya orang Indonesia, tapi apakah mungkin sama sekali tidak bersinggungan dengan penduduk lokal? Sangat mustahil. Banyak dari naskah Lomba Sepang 2014 yang settingnya sudah bagus, tapi gagal dalam logika-logika cerita, penokohan, dan konflik. Kali ini yang saya bahas terkait dengan tokoh dan penokohan.

Tokoh dan penokohan (watak/karakter) adalah unsur penting dalam sebuah karya fiksi (novel, cerpen, novelet, cerber). Sebuah karya pasti ada tokohnya, minimal 1. Dalam Lomba Sepang 2014, sebagian besar menampilkan tokoh penduduk setempat, nama dan penggambaran fisiknya udah pas, tapi terkendala pada penokohan. Seringkali juri mendapati tokoh dan penokohan yang tidak sinkron. Misalnya, orang Inggris tapi kelakuannya alay. Kata salah satu juri, alay sih di mana-mana ada, tapi pastinya beda antara kelakuan alay orang Inggris ama Indonesia. Atau semua tokoh kelakuannya seperti tokoh-tokoh drama Korea. Riset seputar psikologis karakter sama pentingnya dengan riset seputar setting lho. Ingat, itu unsur intrinsik.

Kalau kalian ingin menulis tentang tokoh orang Inggris, misal, coba deh nonton film-film buatan orang Inggris, baca novel-novel penulis Inggris, mereka itu punya karakter yang beda jauh sama kita, cara mereka bicara pun beda. Kultur mempengaruhi perbedaan itu. Poin pertama itu yaa.

Kedua, menampilkan detail sudut pandang yang sudah umum. Kenapa? Itu tidak menarik. Apa yang membuat juri memilih naskah yg tidak menarik? Mengambil setting Prancis, yang dipilih lagi-lagi Paris, yang disorot cuma yg indah-indah aja. Bunga-bunga bermekaran, Menara Eiffel, cowok-cowok yang ganteng romantis. Terlalu STEREOTIP! Apa iya di Paris nggak ada copet? Nggak ada orang miskin? Nggak ada cowok yang tampangnya standar? Nggak ada gempa bumi? Nggak ada badai?

Riset yang paling bagus adalah via narasumber (pemandu, mahasiswa, pekerja, penduduk setempat), yang pernah menetap maupun pernah ke sana. Dari narasumber, maka kita bisa bertanya lebih detail tentang setting tempat. @deelestari pun punya narasumber yg membuatnya bisa bertanya lebih detail tentang aroma, daun, warna. rasa dan sebagainya. Hindari mengumpulkan data hanya dari blog para turis. Beda jika kalian mengikuti kisah perjalanan @TrinityTraveler atau @avgustin88 yang berbaur dengan masyarakat setempat. So, riset itu bisa bertahun-tahun lho.

Selanjutnya soal konflik. Konflik yang klise dan khas sinetron tentu aja dicuekin ama juri Lomba Sepang. Nggak salah sih menampilkan konflik cinta segitiga, tapi hadirkan inovasi yang baru. Yang segar, tantangan-tantangan yang membuat pembaca tidak bosan atau tidak mudah ditebak endingnya. Masak iya, baru baca satu bab, jurinya udah bisa nebak ending dari tiga tokoh yang cinta segitiga tadi? Juri-juri Lomba Sepang bukan indigo kok.

Novel yang bagus adalah yang punya satu konflik utama dan beberapa subkonflik. Terlalu fokus dengan satu konflik juga bikin bosen. Sama kayak hidup kita, ada banyak hal yang datang dan pergi. Penulis yang baik adalah mampu membuat pembacanya bak kerbau dicocok hidung, maksudnya, selalu mengikuti cerita yang dihadirkan tanpa benyak bertanya ini itu. Karena ceritanya tidak cacat logika, mengalir dengan smooth, tidak diakhiri dengan terburu-buru, konflik belum sampai pada solusi, eh udah selesai. Nah, kasian dong pembacanya. Padahal bukunya beli, bukan minjem. Duh malah orasi. Lanjut yuk!

Karena setting luar negeri, banyak yang nganggap kalau semakin banyak memasukkan bahasa asing, maka semakin keren. Salah bingits tuh. Ada dua kesalahan yang perlu diluruskan agar tidak menjadi faktor kegagalan di Lomba Sepang selanjutnya. Nuansa luar negeri itu datangnya dari seberapa jauh penulis menguasai segala aspek seputar negara tersebut. Kalau membaca novel terjemahan, sangat minim dengan bahasa asing, tapi kita bisa terbawa ke nuansa seperti yang digambarkan penulis. Ada keterikatan emosi. Apa yg dia lihat, kita lihat.

Kedua, untuk mempelajari bahasa tertentu, tidak bisa sebulan dua bulan. Kuliah di sastra Prancis minimal lima tahun lho, ada banyak hal yang dipelajari, bukan cuma mengungkapkan apa yg ada di pikiran kita ke dalam bahasa lain. Diksi bahasa Inggris kita sama orang AS beda lho. Lagi-lagi dipengaruhi oleh kultur setempat. Maka cukup tuliskan dialog dalam bahasa Indonesia tapi mewakili jiwa tokoh dalam novel, bukan jiwa penulis. Itu sudah lebih dari cukup. Dalam proses editing naskah pun, editor sering menemukan bahasa-bahasa asing yang tidak perlu plus grammar yang tidak sesuai kaidah yang berlaku di negara tersebut. Malah membuat istilah sendiri yang membuat pembaca yang paham dengan bahasa tersebut, geleng-geleng kepala. Setiap bahasa pasti punya dinamikanya dan hanya dengan memperdalam, maka akan mengetahui seperti apa bentuknya. Bahasa kita pun begitu juga.

Tambahan lagi, tidak semua objek di sebuah negara memiliki padanan dalam bahasa kita. Maka dibutuhkan penjelas. Tapi perlu digarisbawahi, bukan berarti semua harus masuk dalam footnote. Gunakan variasi. Sebuah kata bisa dijelaskan dalam narasi maupun dialog. Ini termasuk teknik yang sulit karena harus mengubah sebuah definisi menjadi bahasa yang enak dibaca dan mudah dibayangkan pembaca. Maka, proses menulis memang butuh kesabaran penuh. Tidak perlu tergesa-gesa. Jika sudah tidak terkejar deadline, ya ikutkan untuk lomba yang lain atau tawarkan ke penerbit.

Novelmu adalah investasimu, novelmu bisa kamu tukar dengan rumah dan mobil, bisa juga hanya bernilai sedikit, tergantung bagaimana mengemasnya dengan sebaik mungkin. Ingat, unsur intrinsik adalah di atas segalanya. Satu unsurnya rapuh, maka yg lainnya akan rapuh.Yogyakarta, 9 September 2014

Leave a Response