Show Dont Tell; Sebuah Teknik atau Gaya Menulis Belaka?

Kalimat “Show, dont tell” pernah terucap dari bibir Alex Vause di serial Orange is the New Black season 1 kalau tidak salah episode 10 atau 11 pada lawan mainnya, Piper Chapman, saat keduanya bercinta di kapel tahanan federal Litchfield. Adegan yang hanya sekian detik itu membuat saya selalu ingin terbahak jika mendengar “show dont tell”.

Dalam bercinta, maksud saya menulis karya fiksi, ada banyak cara untuk mengantarkan sebuah cerita kepada pembaca. Dengan show, atau menunjukkan. Dengan tell, atau mengatakan. Di masa kuliah, istilah ini sama sekali tidak pernah disebut oleh dosen kritik sastra. Ketika bekerja di penerbitanlah, istilah show, not tell menjadi begitu populer. Para penulis pun akhirnya merasa prinsip itu harus benar dipegang.

Show Dont Tell Sebuah Teknik atau Gaya Menulis Belaka

Sebenarnya apa kekurangan tell ketimbang show? Kenapa show seolah lebih baik dan efektif dalam penyampaian kisah?

Tell cenderung memosisikan penulis sebagai pencerita belaka. Biasanya para penulis pemula akan cenderung melakukan teknik showing untuk menjelaskan sebuah keadaan. Apakah kemudian hal itu menjadi salah dan perlu dikoreksi. Saya rasa tidak. Sebuah proses kreatif selalu dimulai dengan langkah-langkah sederhana dulu. Bayi tidak akan langsung bisa berlari.

Misalnya tell adalah yang seperti ini:

  • Pelukis itu berambut cokelat dan membawa dua buah kuas di dalam tas kecil.
  • Meja itu pendek dan lapuk kayunya.
  • Garam itu tumpah tersenggol tangan Karin.

Sangat mudah dan siapa pun bisa menuliskannya sehingga membentuk paragraf demi paragraf. Tell hanya berupa transfer informasi, tapi tidak akan membuat pancaindra pembaca ikut merasakan, melihat, membaui, mencium, dan sebagainya.

Lagi-lagi, tidak ada yang salah dengan itu. Jangan berhenti menulis hanya karena kecenderungan menggunakan teknik tell.

Teknik show pertama kali diperkenalkan oleh John Gardner, si penulis serial James Bond. Dia mengatakan bahwa tulisan hendaknya mampu mempengaruhi imajinasi pembaca dengan bermain pada detail-detail yang istimewa.

Sumber gambar: weebly.com

Misalnya seperti ini, saya ambil dari contoh sebelumnya:

  • Lelaki pencemberut itu membersihkan sisa cat yang menempel di lengan kemejanya. Dengusan napasnya yang keras membangunkan pomeranian abu-abu yang sejak siang tadi berbaring malas di dekat kaki meja lukis. Aroma hambar musim panas tercium seketika. Dilihatnya langit masih bermatahari, menjelang pukul delapan malam.
  • Jody buru-buru menaruh kursi tanpa punggung di samping meja sebelum panci sop mendarat mulus di sana. Ariel menatapnya gemas, tapi mulutnya urung protes begitu melihat kayu-kayu berongga dengan beberapa rayap menguasai jajahan mereka dengan rakus.
  • Terlambat, bubuk-bubuk putih itu telanjur berserakan di lantai bahkan di atas sandal jepitnya sendiri. Mukanya langsung menunduk dalam-dalam. Pasti halilintar akan pecah lagi. Memarnya belum pulih dan ibu kepala seperti raksasa kelaparan dengan pelototannya itu. Pasti, pasti akan dipukuli lagi. Kali ini karena sikunya menyenggol wadah garam.

Teknik show karena membutuhkan detail yang kuat, membuat kalimat-kalimat menjadi panjang. Di situlah daya magnetik sebuah tulisan bagus. Penulis membutuhkan kekuatan imajinasi yang luas, tidak hanya untuk satu atau dua paragraf, tapi keseluruhan cerita. Menulis menjadi sebuah “olahraga” otak yang seasyik bermain catur. Bedanya, bermain catur butuh lawan sebagai pemberi stimulan sementara penulis menjadi single fighter bagi para pembacanya.

Mempelajari teknik show tidak cukup dengan hanya sekali dua kali. Mencari referensi lain dengan membaca banyak karya akan serta-merta merangsang kemampuan menulis dengan lebih variatif. Setiap kalimat tentu memiliki makna. Tidak asal dilekatkan dalam kalimat agar satu halaman menjadi penulis lalu beralih ke halaman berikutnya.

 

Yogyakarta, 19 November 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response