Si Judas; Sebuah Karakter Unik Tiap Generasi Manusia

Si Judas; Sebuah Karakter Unik  Tiap Generasi Manusia |

 

Judas merupakan karakter menarik dalam kisah Jesus Christ. Kehadirannya adalah “bumbu” nikmat tiada tara. Judas terkenal akan pengkhianatan yang akhirnya menyeret Jesus ke dalam peradilan Romawi yang kejam. Tidak akan pernah ada penyaliban, tangan yang dipaku, kepala yang dimahkotai duri, jika tidak ada campur tangan Judas Iscariot di sana. Lalu Judas memilih menggantung dirinya sendiri sebelum penyaliban Jesus berlangsung. Judas adalah bagian dari takdir sejarah yang saya rasa di masa yang berbeda, muncul dengan nama berbeda, dalam kisah-kisah religi maupun duniawi.

Judas adalah tokoh yang bagi sebagian dipandang jahat, bagi yang lain dipandang pahlawan. Di mana perspektif itu ditarik garisnya, maka di situlah perbedaan cara pandang akan berbeda-beda. Antagonis pun perkara sudut pandang. Di dalam cerita-cerita yang kita baca, keberpihakan kitalah yang menjadi penentu antagonis atau tidaknya satu tokoh. Seorang penulis dengan amunisi yang dibangunnya dengan fondasi kuat sehingga menjadi cerita yang kokoh dan tanpa cela, toh tidak akan menutup kemungkinan adanya resepsi berbeda oleh pembaca. Maksud hati ingin menonjolkan tokoh A sebagai si baik yang selalu ditimpa kesialan, pembaca malah melirik si B, pembunuh berdarah dingin yang akhirnya membunuh si A.

Sejahat apa pun Judas, pasti tetap akan ada yang bersimpati padanya dan berbalik antipati pada Jesus. Salahkah itu? Jika masih berpegang pada benar salah belaka, dunia ini tentu hanya akan menjadi satu warna.

Si Judas; Sebuah Karakter Unik Tiap Generasi Manusia
Sumber gambar: sharingthefaith-northernsparrow.blogspot.com

Pernahkah Anda bertemu karakter si Judas dalam kehidupan ini? Ya, kehidupan yang tengah kita jalani ini. Ada seseorang yang selalu puas jika menjegal langkah kita. Sebab, membuat kita jatuh adalah kepuasan tersendiri. Bahwa ketika kita berhasil dijatuhkan, otomatis dialah yang akan menggantikan kita dengan mudah, pikirnya begitu. Jika pernah, merasa bersyukurlah karena kita berarti orang yang punya kualitas, hanya saja enggan mencari muka. Karena mencari muka adalah cara bunuh diri yang paling memalukan. Judas adalah tipe pencari muka tapi tanpa kualitas diri yang memadai. Dia disebut-sebut sebagai salah satu murid Jesus, tapi menusuk dari belakang. Di dalam dirinya dipenuhi dengan obsesi untuk menjadi “yang terlihat” sementara hanya mulutnya yang terlalu banyak berbicara, bukan isi kepalanya. Jesus ketika ditangkap oleh Romawi, menjadi kelegaan buat si Judas. Versi lain dari kisah Jesus menyebutkan bahwa yang disalib bukanlah Jesus dari Nazareth tapi seseorang yang dimiripkan wajahnya. Jesus, langsung dijemput ke langit. Hingga saat ini masih hidup dan akan turun ke bumi nanti menjelang akhir zaman.

Si Judas mungkin iblis yang menyaru sebagai manusia. Atau memang dia adalah manusia yang teramat jahat. Bagaimana mungkin dia tega melakukan sesuatu yang jelas akan membahayakan orang yang sangat dihormatinya. Mengapa mulutnya harus berbicara jika diamnya pun tidak akan membahayakan dirinya? Mengapa si Judas menyerahkan Yesus pada Romawi. Apakah keuntungan yang didapatkannya selain imbalan? Apakah kemudian Romawi akan menghargainya, memberikan perlindungan, menjadikannya orang terhormat seumur hidup? Jangan harap!

Judas mati sia-sia. Bahkan tanpa rasa hormat.

Si Judas; Sebuah Karakter Unik Tiap Generasi Manusia
Sumber gambar: chriscookart.net

Judas satu dari orang-orang yang dekat dengan kita. Tahu tentang kita, atau berusaha mencari tahu. Rahasia-rahasia kita mungkin ada di dalam genggaman tangannya. Tanpa kita sadari, semua itu adalah senjata yang akan membuat kita mudah untuk dijatuhkan. Mudah untuk ditendang. Mudah untuk disingkirkan. Sebab Romawi, bukanlah para pemikir bijak. Mereka mendengar banyak suara di luar sana sehingga sulit membedakan mana yang berkata benar, mana yang mengada-ngada.

Jika kau telah menjadi korban Judas, carilah hidup yang lain ketimbang tanganmu dipaku dan kepalamu dimahkotai duri. Akan ada sesuatu yang lebih tepat untuk dirimu, untuk kedamaian hidupmu. Percayalah, Tuhan tidak pernah luput melihat hamba-Nya.

 

Jogja, 9 Desember 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response