Si Kupu-kupu; Bahas Cerpen karya Seno Gumira Ajidarma

in Bahas Cerpen by
Bahasan Cerpen Si Kupu-kupu karya Seno Gumira Ajidarma
Sumber gambar: rantlifestyle.com

Beberapa hari ini, naskah mentah yang sedang saya baca di kantor adalah kumpulan cerpen Hamsad Rangkuti berjudul Sampah Bulan Desember. Kelak judul besarnya akan diganti menjadi Perempuan Muda di Sebuah Hotel Mewah. Jika Sampah Bulan Desember berkisah tentang mayat yang ikut hanyut di aliran sungai, maka Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah berkisah tentang seorang gadis muda yang menawarkan dirinya untuk dipakai oleh pria yang berani menawarkan harga tertinggi. Persis dengan tema cerpen Si Kupu-kupu karya Seno Gumira Ajidarma. Ini saya pilih sebagai cerpen ketiga untuk dibahas singkat.

Cerpen Si Kupu-kupu dimuat di Kompas pada 12 Agustus 1979. Jika di awam pembahasan, saya menarik benar merah tema besar cerpen SGA adalah Kematian, Perempuan, dan Misteri yang Menganga, maka kali ini adalah Perempuan. Tepatnya perempuan di tempat pelacuran. Selain Hamsad Rangkuti dengan Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah, saya pun pernah menulis tema yang sama di cerpen Kota Melinda. Melinda adalah sebuah kota yang seluruh penduduknya hidup dengan menjual diri. Kota ini pun dibangun oleh seorang PSK. Tapi ada satu pantangan di sana. Tidak boleh melakukan tindakan perzinaan di sana. Itu sama saja dengan melanggar hukum. Saya menceritakan ada seorang penulis yang sedang menyendiri untuk menyelesaikan tulisannya. Melinda kemudian menjadi salah satu rujukannya. Ketika berada di sana, memang sama sekali tidak terasa jika berada di tengah-tengah para penjual diri. Bahkan anak-anak pun membanggakan pekerjaan orang tuanya. Di sanalah dia bertemu Bunga, seorang guru dengan masa lalu kelam.

Tokoh dalam cerpen Si Kupu-kupu bernama Andrea. Nama yang cukup modern untuk sebuah kampung yang isinya selain pelacur, penyelundup, atau buronan dari penjara. Pelacuran di Andrea adalah sebuah profesi yang legal. Legal dari sudut pandang pihak tertentu. Hukum itu bukankah tidak akan mampu merangkul semua pihak?

Saya sempat berpikir Andrea adalah nama seorang perempuan. Meski SGA tidak menjelaskan jenis kelaminnya, saya kemudian malah menebak dia seorang laki-laki. Para pelacur kampung itu pelakunya tidak hanya perempuan. Lelaki dan waria pun ada. Bisa jadi pelacur yang tidak hanya melayani lawan jenis.

Cerpen ini kemudian terbawa begitu saja ke masa depan. Saya merasakan ada bagian yang dimodernkan, mulai dari kalimat “waktu melesat seperti pesawat Concorde yang menjadi alasan untuk membawa pembaca ke masa yang begitu jauh. Tahun 3045 atau 1100 tahun setelah Indonesia merdeka. Segalanya sudah menjadi mutakhir. SGA memasukkan pandangannya tentang kecurangan pemilu, sejarah yang dibuat seolah permainan, komputerisasi dalam setiap aspek. Manusia mulai tidak lagi sebagai khalifah di bumi.

Di masa depan, bumi selalu digambarkan serupa. Maju teknologinya tapi manusianya mengalami penurunan kualitas diri.

Cerita tentang pelacur tua dengan penyakit kelamin pun berjalan bergantian. Tidak hanya dalam cerpen ini, namun juga dalam cerpen-cerpen selanjutnya.

 

Jogja, 17 April 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Bahas Cerpen

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
error: All contents protected, please contact email below to copy
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co