Si Mahakarya Tuhan yang Senang Mengumbar Dirinya

Si Mahakarya Tuhan yang Senang Mengumbar Dirinya  |

Tuhan adalah Dzat pencipta yang takkan bisa dicari ujung dari kesempurnaannya. Ini membuat manusia terpecah menjadi dua, percaya pada Tuhan, atau mengingkarinya. Para pengingkar Tuhan tak perlu dibahas di sini. Hanya membuang energi untuk memikirkan bagaimana caranya agar mereka menyadari bahwa alam semesta ini ada yang punya. Toh Tuhan sendiri yang menciptakan para ateis ke muka bumi. Dengan tujuan-tujuan yang manusia hanya bisa menebak-nebak, karena Tuhan tidak mau berbicara pada semua hamba, cukup Nabi Musa dan sejumlah orang-orang istimewa terdahulu saja.

Mari bicarakan manusia-manusia pengikut Tuhan yang begitu beragam. Satu manusia dengan satu karakter. Semilyar manusia, ya tinggal kalikan saja, betapa banyak karakter manusia yang telah ada di muka bumi. Para penulis novel kemudian mengambil satu dua karakter-karakter ciptaan Tuhan kemudian memindahkannya kepada karakter tokoh-tokoh dalam cerita imajinasinya. Itulah salah satu bentuk ketergantungan manusia kepada Tuhan.

Si Mahakarya Tuhan yang Senang Mengumbar Dirinya
Sumber gambar: depressivedisorder.blogspot.com

Karakter-karakter manusia bisa jadi menyenangkan, bisa pula sebaliknya. Dunia tidak akan menjadi “hidup” jika isinya orang-orang yang rendah hati dan mampu menahan sifat ingin menjadi superior terhadap pihak yang dipandangnya lemah. Dunia hanya akan menjadi surga yang membosankan jika tidak ada individu yang kemudian merasa dirinya benar-benar “benar”, dan mulutnya sibuk menceramahi orang-orang sementara isi ceramahnya itu lebih tepat untuk dirinya sendiri. Sungguh hebat Tuhan dengan mahakarya yang begitu tidak tertandinginya. Mungkin para penulis cerita akan ragu memasukkan karakter ini karena akan membuat para pembaca menutup buku itu dan melemparkannya ke perapian dengan gerutuan panjang, buku sampah nan jelek betul.

Si mahakarya Tuhan ini, saking terlalu berada di atas angin, merasa karena orang-orang tidak berani membantahnya, maka itulah pertanda semua ucapannya adalah kebenaran hakiki, kebenaran dari Tuhan, kebenaran mutlak, kebenaran yang dibenci para iblis, kebenaran maha-maha benar. Tuhan diam. Membiarkan sebuah alur bergulir sewajar mungkin. Campur tangan Tuhan hanya akan merusak jalinan cerita yang sudah dirancang semenjak dinosaurus belum diciptakan, jika memang makhluk raksasa itu benar adanya.

Tetapi jika ingin berpikir sedikit lebih kritis, maka realitasnya tidak sedemikian mengikuti relnya. Bahwa manusia pandai diciptakan dalam jumlah begitu banyak, yang tidak bisa berpikir cerdas semakin musnah dari permukaan bumi. Sebuah kebenaran sepatutnya diiringi dengan pegangan-pegangan yang kuat. Maka kebenaran memang dibagi ke banyak tangan, agar tidak perlu ada manusia merasa dirinya sebagai wakil Tuhan satu-satunya, yang cenderung mudah mendengar bisikan iblis bersuara merdu dan menganggapnya sebagai suara surgawi.

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Tidak menasihati dalam kebenaran dan kesabaran adalah tanda orang-orang yang merugi. Sederhana betul memang untuk menjadi orang-orang yang beruntung, menurut surat al-Ashr. Tapi bagaimana dengan orang yang terlalu sering menasihati orang lain dan justru sebenarnya dirinyalah yang perlu dinasihati?

Manusia sulit menyembunyikan karakter dirinya, terlebih dia begitu mudah ditemui di jejaring sosial. Yang hampir bisa kapan pun menelurkan ucapan-ucapan perasaan, baik dalam keadaan tenang hati maupun susah hati. Orang-orang seperti ini, akan semakin sulit menyembunyikan sisi jelek dalam dirinya, bukan karena Tuhan ingin mempermalukannya, tapi karena si manusia ini sendirilah yang mengumbar diri. Seakan dengan mengumbar semua isi jiwanya, maka orang lain akan semakin mengaguminya.

Di luar sana, kita mengenal banyak aktor-aktor layar lebar yang tanpa perasaan risih, melakukan adegan ranjang dengan tubuh yang hanya tertutupi selimut atau dengan angle pengambilan gambar tertentu. Tapi penonton bermata sehat pun sudah bisa membayangkan lebih dari itu. Sebuah totalitas yang tepat dalam konteks berakting.

Tapi jangan salah, setelah kamera dimatikan, lampu-lampu disingkirkan, pakaian kembali dikenakan, mereka kembali ke rumah-masing menjadi dirinya kembali. Mereka ada yang lebih suka menutupi kehidupan mereka di luar film. Sehingga para paparazzi harus jungkir balik mendapatkan foto-foto selebriti dunia, mengikuti ke mana pun mereka berada, sampai jauh ke Bora-Bora sana. Jangan kira mereka senang dengan kehadiran paparazzi. Mereka justru ibarat lalat pengganggu yang datang entah mencium sumber sampah di mana. Para selebriti memilih menutupi area pribadi mereka. Sebab cukuplah tubuh mereka menjadi bahan konsumsi publik. Selebriti yang tidak terserang penyakit narsistik, memilih menutup diri. Instagram mereka benar-benar pelit dengan kara-kata. Bahkan saya tidak bisa menemukan official account twitter Kate Winslet, aktris Inggris yang sejumlah filmnya memang patut ditonton.

Kembali pada si mahakarya Tuhan yang senang mengumbar dirinya. Sosok tipe ini, Tuhan ciptakan tidak begitu banyak, tetapi karena begitu besar keinginannya untuk menonjolkan diri, maka mereka akan lebih mudah terlihat, dengan sedikit memaksa. Dengan mengumbar sisi personal dirinya. Menurut orang tipe beginian, semakin “telanjang” dirinya, maka semakin besar daya tariknya di hadapan orang lain. Maka doktrin-doktrinnya akan mudah disebarkan kepada orang-orang yang terhipnotis hingga daya hipnotis hilang dengan sendirinya, mungkin karena Tuhan pun muak juga dengan kelakuan itu.

Si mahakarya Tuhan yang senang mengumbar dirinya akan menebar berbagai kata-kata “yang terdengar bijak”, atau memamerkan kesedihan yang mendalam, kekecewaan yang teramat sangat, atau apa pun lah itu, demi kepuasan dirinya. Saya bilang tadi, karakter protagonis memang ada, tapi orang-orang seperti ini tidak termasuk. Manusia-manusia protagonis adalah mereka yang memilih merundukkan diri, mencari keilmuan sebanyak-banyaknya untuk memperbaiki diri, bukan untuk di-counter dengan orang-orang lain. Manusia protagonis mengabdi untuk kebaikan dunia, untuk mengimbangi iblis yang mukanya begitu manis dan menjanjikan zona nyaman seluas samudra. Manusia-manusia protagonis, sayangnya tidak Tuhan ciptakan berlebihan. Semakin tua bumi ini, semakin sedikit kaum bijak nan rendah hati. Sayang sekali. Yang semakin berkembang membanyak adalah mereka yang mengaku sama bijaknya, tapi gestur saja, orang pun tahu, tidak pernah akan mampu menyamai.

Si mahakarya Tuhan yang senang mengumbar dirinya adalah mereka yang merasa kebebasan orang lain ada di dalam genggaman tangannya. Hidup orang lain telah dibelinya sampai ujung napas. Nasihat-nasihatnya adalah kebenaran mutlak karena memiliki referensi-referensi kelas dunia. Tapi melupakan satu prinsip penting, manusia yang dihadapinya bukanlah orang-orang bodoh. Karena lawan orang bodoh adalah orang-orang bodoh pula. Tuhan tidak akan menciptakan konflik kelas picisan di mana ujungnya bisa ditebak dengan mudah. Tidak. Perjuangan adalah ujung dari perang demi perang nan panjang. Si mahakarya yang senang mengumbar dirinya akan semakin merasa dirinya mampu menjadi Tuhan kedua, yang harus ditaati, dan jika membangkang artinya akan mendapatkan azab mahaberat, bahkan kunci pintu neraka seolah ada di saku celana. Kapan pun bisa diambilnya, perkara neraka sudah ada penjaganya, malaikat nan setia dan tidak bodoh, bernama Malik. Buka pintu neraka dan tendang masuk ke dalam kobaran api yang menjilat-jilat.

Tapi, Si mahakarya Tuhan yang senang mengumbar dirinya sebenarnya adalah seorang makhluk rapuh yang sangat mudah hancur hatinya. Dengan baju-baju zirah dan tameng berlapis-lapis, dilindunginya hati yang rapuh itu. Hati yang sama seperti hati orang-orang bijak dan rendah hati. Tapi kecongkakan telah menjadi penyakit kronis yang menggerogoti hari demi hari, maka nurani pun semakin kehilangan makna eksistensinya. Hati yang baik, telah hilang.

Teruntuk si mahakarya Tuhan yang senang mengumbar dirinya; tutuplah mulutmu dan berkacalah terlebih dahulu sebelum menelanjangi dirimu.

 

Jogja, 23 November 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com