Silence (2016); Film Pencarian Pastor dan Penyiksaan Umat Katolik Jepang

Silence (2016); Film Pencarian Pastor dan Penyiksaan Umat Katolik Jepang
Silence (2016). Sumber gambar: moviepostershop.com

Silence mendapatkan 1 nominasi Oscar tahun ini, untuk kategori Best Achievement in Cinematography. Diadaptasi dari novel karya Shûsaku Endô yang terbit pertama kali di tahun 1966 dan mendapatkan penghargaan Tanizaki Prize.

Martin Scorsese (The Wolf of Wall Street, Shutter Island, The Departed) duduk di kursi sutradara dan menggarap film religius berdurasi 2 jam 41 menit ini penuh sejarah pedih penyebaran agama Katolik di Jepang. Memang lebih susah mengajarkan agama baru kepada orang-orang yang sudah beragama ketimbang tidak beragama. Terlebih sudah dianut turun-temurun. Sejarah penyebaran agama saya sendiri pun penuh dengan penolakan-penolakan, penyiksaan, hingga akhirnya berujung pada peperangan.

Hingga saat ini, negara Jepang mayoritas penduduknya menganut Shinto dan Buddha. Sisanya adalah Kristen, Islam dan agama-agama lainnya dalam persen yang sangat sedikit.

Mengapa susah sekali menyebarkan Kristen di Jepang? Jawabannya sangat sederhana dan Rodrigues sebagai orang yang mendalami agama tahu akan perkara seputar itu. Orang Jepang tidak dapat berpikir terdapat keberadaan di luar dunia nyata. Untuk mereka, tidak ada yang melampaui manusia.

Lalu, bagaimana mengajarkan mereka bahwa manusia ada yang menciptakan dan jauh lebih hebat dari manusia? Bagaimana membuat orang Jepang percaya akan Tuhan Semesta Alam? Ada jawabannya tentu saja di sini.

Penyiksaan-penyiksaan terhadap penganut Katolik di Jepang (dalam film Silence disebutkan Nagasaki) oleh pemerintah Jepang, disaksikan Padre Ferreira. Pastor-pastor dan rakyat yang mempertahankan keyakinan mereka, menolak murtad, harus siap mati kapan pun. Pemerintah Jepang punya banyak cara untuk mengendus siapa saja yang telah masuk Kristen dan bagaimana melenyapkan mereka dengan cara yang sangat menyakitkan seperti disiram air panas, kaki digantung dengan leher dijepit kayu berhari-hari, bahkan dibakar hidup-hidup hingga bau daging menguar dan membekas dalam ingatan. Itu disaksikan oleh pihak keluarga yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Padre Ferreira tetap hidup dan hilang kontak dengan pihak gereja di Portugis. Kenapa bisa? Sebuah surat yang datang ke pihak gereja dari seorang pedagang asal Belanda secara tersirat mengatakan bahwa sang pastor telah murtad.

Tidak percaya jika sosok yang mereka hormati dan dianggap sebagai panutan telah meninggalkan agamanya, Garupe (Adam Driver-This Is Where I Leave You, Paterson, J. Edgar) dan Rodrigues (Andrew Garfield-Hacksaw Ridge, The Amazing Spider-Man 2, The Social Network), bersikukuh menyusul Padre Ferreira ke Jepang dengan konsekuensi tidak kembali dengan keadaan hidup-hidup.

Sumber gambar: IMDB

Mereka masuk ke Jepang melalui jalur Cina dan ditemani seorang Jepang gila bernama Kichijiro. Pria ini bisa selamat dari penyiksaan karena dirinya berani menginjak simbolisasi Yesus di depan Inoue Sama, sang inkuisitor yang kejam. Sayangnya, itu justru menjadi bencana. Dia harus melihat keluarganya dibakar hidup-hidup.

Kedatangan dua pastor muda dari Portugis, bagi umat Kristen Jepang yang hidup sembunyi-sembunyi menjadi sebuah kabar bahagia. Selama ini, ritual keagamaan mereka hanya dipimpin seorang tetua desa. Tapi untuk pengakuan dosa, mereka butuh pastor sesungguhnya. Maka jadilah Garupe dan Rodrigues menghidupkan kembali semangat umat untuk mempertahankan agama. Mereka pun menganjurkan untuk berpura-pura murtad jika suatu waktu ada pemeriksaan.

Sepintar-pintarnya berbohong, toh Inoue Sama tetap tahu ke mana hati mereka berpihak. Ujung-ujungnya satu desa pun dihabisi juga.

Demi keselamatan dan memperbesai peluang menemukan Padre Ferreira, Garupe dan Rodrigues berpisah jalan. Rodrigues bernasib lebih baik. Dia ditahan bersama sejumlah orang yang tinggal menunggu giliran dibunuh. Ketika diarak keliling kota, dia dicaci-maki oleh para penduduk.

Jauh-jauh datang mencari Padre Ferreira, Rodrigues tak habis pikir mengapa orang yang sudah dianggapnya guru, bisa meninggalkan agama Tuhan demi kenyamanan hidup. Sama sekali tidak masuk akal. Ini sama saja dengan pengkhianatan.

Tapi, apakah berkhianat adalah selalu menjadi sebuah keputusan yang hina? Bagaimana jika itu adalah jalan terbaik ketimbang ribuan orang mati sia-sia sementara Tuhan pun tidak pernah memberikan bantuan, setidaknya tanda ingin menolong? Dan apakah benar mereka mati untuk membela agama Tuhan?

Silence selain bagi saya durasinya sangat panjang, keheningan sepanjang film membuat saya sedikit bosan. Tidak ada music score mengiringi adegan-adegan dramatis yang menegangkan. Saya lebih menyukai Andrew Garfield ketika memerankan Desmond Doss si prajurit yang anti memegang senjata ketimbang seorang pastor. Entahlah, karena ketika mendengar sebutan Padre atau Pater atau Padre, yang terbayang di benak saya adalah sosok yang begitu kalem dan karismatik.

Trailer Silence (2016):

Jogja, 25 Februari 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response