Spot-Spot Wisata Imogiri Yogyakarta

Hari Minggu 13 Maret 2016, jadwal saya cukup kacau sehingga saya memutuskan untuk berkegiatan spontan. Melihat setrikaan yang menumpuk malah semakin mendorong saya buat mengeluarkan motor dan memanaskannya. Lalu terpikirlah dalam kepala saya untuk ke Imogiri, meluhat Kebuan Buah Mangunan yang identik dengan kabut tebal menjelang matahari terbit. Saya sering melihat betapa cantiknya kabut-kabut itu. Dan jika kabut-kabut itu hilang, seiring dengan semakin tingginya matahari, akan tergantikan dengan panorama hijau dengan behalan berliku dari Sungai Oya. Teriknya memang sangat tajam ke permukaan kulit, tapi tidak sebegitu memakar dibandingkan ke pantai.

 

Spot-Spot Wisata Imogiri Yogyakarta
Tebing Watu Mabur Imogiri

Petunjuk jalan ke Kebun Buah Mangunan sangat jelas. Akan memisahkan dengan jalan menuju makam para raja. Kecil kemungkinan akan nyasar. Kalau terdistraksi, iya. Saya salah satunya yang pengalihan perhatian tak terencana. Setelah melewati rute yang menajak tajam dengan aspal mulus, saya kemudian melihat ada penunjuk jalan menuju Goa Gajah. Saya bukan seorang pencinta goa, tapi, tetap saja motor saya tidak langsung berbeluk ke jalan masuk kebun buah. Jalanannya menanjak dan menurun lebih curam. Tapi tidak begitu jauh. Hingga saya melewati TPR yang dijaga seorang anak dengan buku tiket. Hanya selembar tiket masuk 3.000. Murah karena tempat ini belum dikelola oleh Pemda seperti Mangunan. Begitu sampai di tempat parkir, saya motor kedua yang parkir di sana, saya bertanya letak Tebing Watu Mabur yang searah dengan Goa Gajah. Karena tidak jauh, saya memilih ke tebing itu lebih dahulu. Bukah sebuah spot istimewa hingga sampai tidak ada penjual makanan di sana. Hanya gardu pandang dan sebuah gazebo. Panorama hijau sejar di bawah sana. Hati-hati, tebingnya sangat curam dan memang tidak ada pagar pembatas.

Spot-Spot Wisata Imogiri Yogyakarta
Goa Gajah Imogiri

Setelah foto-foto, saya kembali ke Goa Gajah. Pak Giyono menyambut saya. Dia mengatakan untuk masuk ke goa, ada biaya. Pertama pengganti batere, kedua pemandu dan seikhlasnya. Okelah, di Goa Pindul juga dibutuhkan pemandu apalagi ini yang memang rutenya penuh liku-liku. Goa Gajah ini bukan sembarang goa. Konon dulu pernah ditempati sebagai titik transit. Di dalam goa yang stalaktitnya masih mengalirkan air, artinya akan terus tumbuh, terdapat sejumlah ruangan, yang papan namanya sudah ada sejak lama sebelum dibuka untuk umum. Bagi yang memiliki indra keenam, mungkin bisa merasakan aura mistisnya. Saya tidak. Saya hanya merasakan jalan yang yang pijak sangat licin, dan bebatuan yang membuat saya harus hati-hati dalam melangkah. Sambil menyusuri goa yang sesekali saya harus merunduk-runduk, jongkok, Pak Giyono menunjuk spot-spot yang perlu saya foto. Blitz kamera saya harus dibantu senter dia dulu baru mau menyala. Bentuk-bentuk staklaktit ini antara satu dengan lainnya berbeda-beda, dan mungkin hanya salah lihat saja ketika melihat ada yang berbentuk wajah manusia.

Dinamakan Goa Gajah, karena ada sebuah batu yang kalau dilihat dari depan, seperti gajah. Kelelawar di dalam goa tidak sebanyak di dalam Goa Pindul, hanya beberapa, burung waletnya pun juga semakin menipis setelah syuting film Titisan Dewi Ular yang dibintangi Suzzanna. Menjelang akhir tur, terlihatlah cahaya dari lobang di atas kepala. Goa vertikal. Jika membawa alat, bisa memasuki tempat ini dari sana. Karena saya hanya orang awam, maka kami keluar dari goa dengan menaiki tangga kayu sederhana.

 

Spot-Spot Wisata Imogiri Yogyakarta
Kebun Buah Mangunan Imogiri

Tujuan berikutnya, adalah Kebun Buah Mangunan. Jarak dari Goa Gajah ke sana, sekitar lima belas menit perjalanan. Tidak begitu jauh, jangan sampai kelewat juga. Bus-bus besar parkir berderet. Mobil-mobil pribadi dan motor bisa naik ke puncak. Puncak yang dimaksud adalah spot yang sangat familiar.  Sebuah dataran berlapis semen dengan pagar pembatas setingi paha orang dewasa. Pemandangannya hampir sama dengan apa yang saya lihat di Watu Mabur. Bedanya, di sini sangat ramai. Tak peduli sudah jam sepuluh pagi dan teriknya begitu tajam. Tidak perlu berlama-lama di sana. Orang-orang pun memilih duduk-duduk di gazebo atau gardu pandang yang tersedia. Sampah-sampah tidak terlihat berserakan, saking banyaknya tempat sampah yang tersedia. Bahkan terdapat pula seruas bambu yang divernis cantik di tiang gazebo sebagai tempat puntung rokok.  Berjejer penjual makanan dengan menu dominan adalah degan. Tidak ada menu berat seperti nasi rames.

Jika mengira kebun buah ini sama halnya dengan di Lembang, di mana pengunjung bisa panen buah, bisa sedikit kecewa. Belum sampai ada budidaya yang sedemikian. Kalau hanya buah yang dijual di sekitar lokasi memang ada.

Spot-Spot Wisata Imogiri Yogyakarta

Ngomong-ngomong soal lapar, jika ingin yang lebih beragam, silakan menikmatinya di Hutan Pinus. Warung-warung makan siap melayani para pengunjung yang berarak-arak datang dan pergi. Fasilitas musola dan kamar mandi sudah sudah. Penyewaan hammock dengan mudah bisa ditemui. Pengunjung sadar dengan kebersihan dengan diletakkannya tempat sampah di jarak yang berdekatan. Silakan mengeksplorasi deretan pohon-pohon pinus atau jika beruntung bisa mendengarkan alunan string dari 3 anak muda yang sedang mengamen. Di sini pun juga terdapat gardu pandang, dan bertingkat. Cukup membuat penasaran juga rasanya berada di atas. Saya tidak mencobanya tadi. Kapan-kapan saja.

Spot-Spot Wisata Imogiri Yogyakarta
Watu Tumpang Hutan Pinus

Ada pula Watu Tumpang, berjalarak sekitar 75 meter dari gardu pandang. Jalan ke sana menurun, dengan beberapa undakan batu tanah. Jika habis hujan dipastikan licin. Jika ingin ke sini, memakai sendal gunung akan lebih nyaman.

Hari sudah melewati pertengahannya, saya berpikir, untuk lanjut ke Gunungkidul via Panggang untuk makan siang. Teringat dengan uang yang menipis, saya pun mencari ATM. Rupanya sangat jarang mesin ATM. Kalau pun ada, saya tidak melihatnya dan uang hanya harus melayang 5.000 ketika melewati TPR Parangtritis. Perjalanan sangat panjang, dan saya akhirnya menemukan mesin ATM BRI, barulah berbalik arah ke Prangtritis karena saya hanya berputar-putar di Panggang dan tidak menemukan jalan ke Gunugkidul. Sepertinya saya sudah mengikuti petunjuk jalan, dan ya mau bilang apa. Sudah lama juga tidak ke Parangtritis.

Spot-Spot Wisata Imogiri Yogyakarta
Pantai Parangtritis Baru

Pantai ini direlokasi. Dibangun tempat yang lebih leluasa, ada pula pemandian air panas. Mandi air panas di pantai memang gagasan yang unik. Begitu mendekati bibir pantai, suara-suara mesin ATV menyambut dengan riuh. Lebih dari 30 unit ATV tersedia di sana. Anak-anak dan orang dewasa bisa menggunakannya. Barisan payung berjejer di sepanjang pasir halus kekuningan. 25.000 untuk tarif sewa payung. Tidak jauh dari deretan payung, adalah deretan sampah yang sudah menumpuk-umpuk.  Dengan pengunjung sebanyak ini, pengelolaan sampah masih dinomorsekiankan. Sayang betul.

Rombongan pengunjung dari sekolah-sekolah ada yang baru saja datang ketika saya menuju parkiran untuk mengambil motor. Sebelum mereka, juga ada sejumlah rombongan pelajar yang diangkut dengan bus-bus besar yang diparkir di tempat tersendiri.

Rencana untuk makan di Parangtriris saya urungkan, karena tidak ada warung yang menjual seafood. Saya pun sudah terlalu lelah untuk masuk ke Depok yang jelas berlimpah masih tangkapan laut.

Awalnya, saya memposting foto-foto perjalanan ini dengan judul BikeCation. Ketika saya googling ternyata sudah dipakai orang lain. Judulnya pun yang sederhanan saja deh.

 

Jogja, 13 Maret 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response