Berbagai Pilihan Spot Wisata Perbatasan Jogja Purworejo

Berbagai Pilihan Spot Wisata Perbatasan Jogja Purworejo
Spot Wisata Perbatasan Jogja Purworejo. Sumber gambar: tapakrantau.com.

Kalau sudah bosan melintasi batas provinsi Jogja ke arah Magelang—di mana Candi Borobudur, Punthuk Setumbu, Gereja Ayam, Kiyai Langgeng dan sebagainya berada—sekali-sekali coba deh ke mengubah tujuan ke arah barat, yaitu Purworejo. Sebelum benar-benar melintasi perbatasan, ada spot wisata juga yang sering diulas oleh para travel blogger, travel instagrammer, travel twitterer dan apa pun yang ada di media sosial, lengkap dengan foto-foto yang sudah diedit sedemikian rupa sehingga tempat yang biasa-biasa saja menjadi seindah surga. Saya tahu tujuannya adalah untuk mempromosikan agar orang di luar sana menjadi pengin ke sana, tapi harus segitunya ya efek-efeknya?

Kulonprogo adalah kabupaten yang berbatasan langsung dengan Purworejo. Di sana Kalibiru, Waduk Sermo, Gua Kiskendo. Tapi saya malah tidak ke sana. Terlalu mainstream. Persaingan biar di situs pencarian bisa urutan teratas perlu usaha keras. Maka saya memilih tidak fokus pada objek mana pun. Perjalanannya jauh lebih menarik ketimbang objek-objek wisatanya sendiri.

Saya kembali menghadapi jalanan ala Suralaya yang hanya cukup untuk satu mobil, aspal berlubang dan bergelombang, naik dan turun, tidak ada pagar pembatas dari jurang yang begitu curam, jalanan berkelok-kelok. Saya sangat senang ketika tahu rutenya tidak mulus, karena saya naik motor. Naik mobil, sensasi tidak akan sebegitu hebatnya. Tidak perlu mikir dengan keseimbangan, tidak perlu zigzag untuk mencari sisi jalanan yang lebih baik, tidak perlu takut ban slip. Naik-turun persneling, gas, rem, kadang kaki turun dari footstep buat jaga-jaga, kadang kaget sendiri ketika ban agak oleng ketika melewati jalan berkerikil. Belum lagi jurangnya bikin deg-degan. Jangan lakukan kalau kamu masih takut jatuh dari motor. Naik mobil aja, duduk di jok belakang, terus tidur deh. Bangun-bangun udah sampai di tujuan, trus selfie sampai ratusan kali, dan pulang sana. Dasar cupu kau.

Tempat pemberhentian pertama saya adalah Taman Sungai Mudal. Sebuah taman di mana itu adalah sebenarnya sungai yang bernama Mudal. Jangan membayangkan seperti halnya Sungai Progo yang datar-datar saja, karena sebenarnya itu adalah air terjun kecil yang bertingkat-tingkat dan paling bawah ada semacam kolam dengan air yang berwarna toska dengan kedalaman 3 meter. Anak-anak tidak diperbolehkan mandi di kolam terbawah itu meskipun ada penyewaan ban. Bagi yang membawa anak, naiklah ke kolam kedua, ketiga keempat, saya tidak menghitung ada berapa kolam di sana. Kolamnya lebih dangkal.

Pengunjung tidak begitu ramai, karena bus besar tidak bisa parkir di sana. Pertama, jalanan tidak memadai, parkirannya apalagi. Sewalah mobil atau minibus saya rasa masih bisalah. Tiket masuknya, cuma 6.000, tapi kalau bawa rombongan biasaya si penjaga loket mau tuh ngasih diskonan, walaupun dikit aja.

Bagi saya tempat ini asyik karena bisa membakar kalori dengan menaiki anak-anak tangga yang tidak sedikit. Saya juga tidak menghitung berapa jumlahnya. Juga diselingi titian alias jembatan bambu yang… yakinlah dengan diri kamu kalau jembatan itu kuat menahan berat badanmu. Tenang aja, jembatannya sudah dirancang sedemikian rupa kok. Saya cuma iseng nakut-nakutin aja tadi.

Jangan lupa bawa pakaian ganti sebab airnya khas pegunungan yang seger banget ketika kena di kulit. Bakal nyesel kalau nggak ikutan nyemplung. Semakin naik ke atas lagi, kita akan bisa menikmati fasilitas wi-fi gratisan karena sinyal provider yang warna merah pun terkadang melemah sampai internetnya turun ke EDGE.

Di gazebo atas, disediakan dispenser yang silakan dibawa pulang… airnya saja. Ada papan informasi yang tidak ada informasi apa pun ditulis di sana. Ada kotak P3K, ada tong sampah sehingga tidak ada alasan boleh buang sampah sembarangan. Ada juga mushala, kamar ganti, kamar mandi. Ada flying fox. Ada spot selfie di mana-mana. Ada warung makan di bawah sana. Ada tukang parkir.

Saya meneruskan perjalanan dan berharap menemukan tempat pemberhentian lainnya. Tukang parkir bilang, ada hutan pinus yang tidak jauh dari sana. Asal tahu saja, daerah sana ada sejumlah titik yang merupakan deretan pohon pinus. Tak sengaja saya nyasar ke Hutan Pinus Sigendol. Masih sepi. Sepertinya ini bukan yang dimaksud oleh penjaga warung yang saya minta petunjuk. Akhirnya saya balik arah. Dari 3 orang yang berada di warung itu, satu orang menunjukkan arah ke Sigendol, 2 orang merujuk ke Hutan Pinus Kalilo. Beruntungnya saya karena bisa menemukan keduanya. Saya abadikan keduanya sebagai bukti kalau itu bukan hoax.

Tapi sebelum sampai ke Kalilo alias Watu Tumpang, saya melewati spanduk Puncak Gunung Kelir. Spanduknya sangat terlihat dari jalan sehingga saya pun memutuskan untuk singgah di sana. Selain Gunung Kelir, biar kelihatan keren sehari bisa naik banyak gunung, ada juga Gunung Lanang sebelum ke Taman Sungai Mudal. Tapi ya, pakai high heels pun tetap bisa sampai puncaknya.

Dari tepi jalan ke Puncak Gunung Kelir melewati jalan kecil dan off-road agak naik, kebayang dong pulangnya bakal ngabisin kampas rem seberapa. Belum ada tarif resmi untuk masuk ke tempat ini. Masih sepi juga ketika saya ke sana. Biasanya orang ke sana ya seperti saya, karena melintasi jalan pulang dari sebuah objek wisata.

Puncak Gunung Kelir menyajikan panorama cantik Jogja nan jauh di sana. Gunung Kelir terletak di wilayah Purworejo, dan nggak tahu sejak kapan saya melintasi batas provinsi. Anginnya kalau bertiup agak kencang dan hawanya dingin. Terlebih kalau datang pagi-pagi. Berhubung sudah tengah hari, saya agak malas berlama-lama karena mataharinya sangat menyengat. Idealnya pagi atau sore yang suasananya lebih bersahabat. Di malam hari, kita akan dimanjakan oleh city light Jogja. Indah sih, tapi siapa juga yang mau malam-malam ke sana kecuali menginap. Nah, kamu boleh lho kamping dan ada camping ground juga.

Saya tidak sampai tanya ke Pak Juwarno berapa tarif kampingnya. Si bapak ini ketika saya datang, dia pun datang, menggantikan temannya yang baru saja pulang bertugas. Dia menunjukkan area dan sedikit sejarah pengelolaan tempat itu tanpa saya tanya. Awalnya adalah BTS, bukan boyband ya, tapi tower milik Telkomsel. Lalu tercetuslah ide untuk menjadikannya tempat wisata menyusul tempat-tempat wisata lain yang mengandalkan tempat tinggi. Hah, bapak ini tidak tahu saja, di Jogja yang kayak beginian udah melimpah. Untuk menarik wisatawan, tidaklah cukup hanya membuat gazebo-gazebo dan papan-papan bertuliskan kalimat-kalimat alay, tapi fasilitas. Ini #sikap. Tunggu, yang lebih penting adalah akses. Kalau jalanannya belum memadai, orang akan memilih tempat lain. Wisatawan zaman sekarang itu pada malas. Malas bawa bekal, malas bawa minum. Beli aja, lah, jangan kayak orang susah deh.

Kemudian saya lanjut lagi ke Hutan Pinus Kalilo. Nah beda jauh dari Sigendol, sudah lebih tertata. Papan nama, ada. Spanduk, ada. Parkiran, ada. Kamar mandi, ada nggak ya, lupa. Jualan makanan ada, satu kalau nggak salah. Begitu melewati gerbang, kita akan melewati jalan setapak dengan ranting-ranting pepohonan yang disusun rapi agar terkesan unik. Jalanannya kering kok dan tidak perlu berjalan begitu jauh untuk sampai di spot utama yaitu watu tumpang di tengah-tengah hutan pinus. Orang sekitar lebih familiar dengan sebutan Watu Tumpang ketimbang Kalilo. Watu Tumpang sendiri merupakan tempat semadi orang-orang dulu dan sekarang oleh Perhutani disulap menjadi… taraaa spot selfie! Ada papan yang menyebutkan bahwa sebenarnya watu tumpang ini tidak boleh dinaiki karena demi menjaga keseimbangan alam dan demi keselamatan. Ya tapi, anak muda zaman sekarang kalau nggak dipagerin, mana mau patuh ama papan gituan. Saya juga ikut naik soalnya jadi ikut membela diri. Oh ya watu tumpang artinya batu yang menumpangi batu lain. Kalau kamu numpang di rumah orang berarti kamu wong tumpang.

Ada juga kapal-kapalan Titanic. Kenapa sih harus Titanic? Tidakkah mereka tahu kalau kapal Titanic itu tenggelam dan menelan banyak korban? Ada pintu Doraemon, walaupun sebenarnya masuk dari sini keluarnya di sana, nggak jauh. Ada kandang ayam. Suka-suka mereka lah ya ngasih nama.

Satu yang saya suka banget dari tempat ini adalah suara yang timbulkan saat angin datang dan menimbulkan suara indah dari ranting-ranting pohon pinus. Saya mencoba merekam dengan ponsel, tapi nggak pernah berhasil. Suara seperti siulan tapi lebih lembut. Di hutan pinus di Jogja, saya tidak mendengarkan itu, saking ramainya pengunjung. Tidak ada penjual makanan di sekitar spot utama, padahal enak banget kalau bisa mesen teh anget sambil tiduran di hammock.

Tempat terakhir yang saya mampiri adalah Air Terjun Kembang Soka. Jangan kemari ketika musim kemarau, karena debit airnya berkurang dan jadilah air mancur. Lagi-lagi saya dihadang oleh anak-anak tangga yang banyak. Hiking lagi. Saya belum makan dan kalori dibakar terus nih. Ada 2 air terjun sebenarnya, Kembang Soka dan Miri. Yang Miri, debit airnya lebih sedikit lagi. Tidak usah saya bahas ya.

Pintu masuk dan keluar dibuat beda. Ujung-ujungnya kita memutari seluruh area kok. Dari atas, kita akan melihat kolam dengan warna toska dan juga dalam. Ada penyewaan ban dan pelampung untuk orang dewasa. Tidak begitu ramai mungkin karena hari Sabtu, mungkin puncaknya besok, mungkin ramainya memang hanya segini.

Fasilitas toilet, warung makan, mushala ada semua. Harga makanan pun tidak semahal tempat wisata di Jogja. Jembatan penghubung dari satu titik ke titik lainnya juga dibuat dengan bambu, hati-hati ketika berjalan. Anak-anak tangga ada yang terbuat dari batu, ada agak licin jadi hati-hati terus saja.

Dan selesai sudah wisata saya di perbatasan Jogja Purworejo. Perjalanan pulang sebenarnya bisa mampir di Goa Kiskendo, tapi buat kapan-kapan sajalah.

 

Jogja, 19 Agustus 2017

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response