Standing Climb; Teknik Memaksimalkan Otot Tubuh dan Kardiovaskular

Standing Climb adalah salah satu teknik bersepeda favorit saya. Butuh sering latihan untuk mengambil manfaat maksimal darinya juga mengurangi risiko cidera otot. Di satu sisi terdengar menyenangkan, sisi lain menyeramkan. Standing climb merupakan puncak pemicu tenaga para pembalap Tour de France hingga berebut posisi pertama mencapai garis finis.

Ketika seseorang bersepeda, otot-otot yang terlatih lebih banyak adalah area kaki dan jantung. Mengaplikasikan standing climb maka akan memaksa otot bagian atas tubuh itu bekerja keras, oksigen yang dibutuhkan otot semakin besar, semakin cepat pula detak jantung seseorang naik. Dengan banyak latihan, energi akan tersalur ke seluruh dengan normal. Detak jantung pun akan dengan mudah menyesuaikan diri.

Standing Climb; Teknik Memaksimalkan Otot Tubuh dan Kardiovaskular
Sumber gambar: theconversation.com

Sebelum mengganti suspensi depan dengan RSTBLAZE, bagi saya melakukan stand climbing akan lebih mudah. Tenaga yang mengalir lewat tangan akan menekan stang, pantat mulai meninggalkan sadel, dan kaki akan mengayuh dengan putaran yang sama. Pertama kali saya hanya bisa melakukannya lima kali kayuhan saja, sebab rasanya keseimbangan badan menjadi lepas dari fokus saya. Saya mencoba lagi, tentu saja tidak untuk climbing yang terlalu berat, cukup yang pendek namun saya yakin bisa melewatinya. Menjadi sebuah kesenangan tersendiri. Napas perlahan mulai tidak ngos-ngosan meski saya bisa merasakan betapa detak jantung semakin naik.

Lalu dengan alasan kenyamanan, suspensi saya ganti, stang saya ganti, anatomi sepeda pun berubah. Rasa ketika memegangnya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Menyadari bahwa suspensi akan memberi efek pegas yang signifikan, saya hanya akan benar-benar melakukan standing climb jika energi memang sedang penuh-penuhnya dan tanjakannya memang terbilang tinggi. Dengan begitu saya bisa sedikit teralihkan dari efek-efek pantul dan merasakan bagaimana kaki mengayuh dengan ritme normal. Sedikit banyak, tetap ada keasyikan yang saya rasakan di sana.

Catatan penting ketika melakukan standing climbing, jangan merasa ragu apalagi meragukan diri sendiri. Bahwa segalanya akan bisa dilakukan dengan berlatih. Lakukan dari langkah-langkah kecil, beberapa kayuhan lalu beristirahat. Melihat tanjakan atau tidak, adalah pilihan pribadi masing-masing pesepeda. Terkadang dengan melihatnya, kita menjadi termotivasi, bisa pula menjadi beban tersendiri.

Catatan penting lainnya, kenali kemampuan tubuh, kenali bahasa jantung, kapan jantung siap, kapan kelelahan, kapan untuk tidak dipaksa terus memacu kencang. Bersepeda pada intinya adalah memberikan kenyamanan bagi tubuh, melancarkan peredaran darah, menguatkan otot, dan memancing keluarnya hormon kebahagiaan endorfin.

Selamat berlatih standing climb!

 

Jogja 16 Oktober 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response