Standing Tall (2015); Film Tentang Malony si Anak Pembuat Masalah

Standing Tall (2015); Film Tentang Malony si Anak Pembuat Masalah
Standing Tall (2015). Sumber gambar: moviepostershop.com

Standing Tall berjudul asli La tête haute. Memunculkan nama Rod Paradot yang dinobatkan sebagai Most Promising Actor ajang César Awards dan Most Promising New Actor di Lumiere Awards 2016. Aktor-aktor Prancis kalau saya perhatikan akan lebih memancing perhatian para juri festival film dari 2 parameter; akting marah dan akting saat bercinta. Makin bagus jika jago keduanya.

Tema utama Standing Tall adalah tentang Malony yang sedari kecil sudah sering bolak-balik berhadapan dengan Hakim Florence Blaque dan orang-orang di peradilan anak-anak. Dia kerap membuat masalah, membolos dan mengganggu teman-temannya. Ibunya sendiri kepayahan mengurusi Malony dan satu lagi adik Malony yang masih balita. Sikap tidak sabaran Séverine Ferrandot menurun pada Malony di kemudian hari. Mudah mengumpat, sudah mengendalikan emosi, dan pada akhirnya menunjukkan sikap tidak peduli. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Di depan sang ibu, Malony memang bersikap baik. Wajar jika ibunya seolah tidak percaya jika anaknya bikin ulah di luar sana.

Memasuki masa remaja, kenakalan Malony makin bertambah. Dia mengendarai mobil dengan ugal-ugalan bak pembalap di mana ibu dan adiknya ada di mobil tersebut. Pengaduan dari masyarakat setempat membuat anak dan ibu itu kembali dipanggil menghadap Hakim Florence Blaque di ruangannya. Sepuluh tahun berlalu, wajah si ibu hakim tidak ada perubahan. Ruangan itu seperti baru kemarin sore. Sang Hakim begitu sabar menghadapi Malony. Karena itu sudah tugasnya. Seorang konselor pun ditugaskan untuk mengawasi Malony dan membuat laporan tentangnya selama berada di sebuah rumah di mana anak-anak bermasalah menjalani masa perbaikan diri.

Sumber gambar: IMDB

Tempat itu tidak juga bisa membuat Malony bisa berubah lebih baik. Di sana, dia diajari menulis, mengungkapkan apa yang disukai, apa yang diinginkannya, mengingat usianya sebentar lagi 17 tahun. Artinya, dia sudah wajib bertanggung jawab pada diri sendiri. Malony ingin diizinkan menyetir, tapi usianya masih 16. Keinginannya tidak terpenuhi membuatnya frustrasi. Sang konselor juga ikut tertekan karena kliennya sangat sulit dihadapi.

Berakting sebagai pemarah di hampir sepanjang film adalah tugas yang melelahkan. Wajar saja kan jika para juri memberinya penghargaan bergengsi. Coba saja tonton film Mommy di mana Antoine Olivier Pilon memerankan anak ADHD yang sangat destruktif namun di sisi lain manis. Seingat saya, Malony tidak divonis ADHD. Dia menjadi begitu karena kondisi keluarga. Jangan salah, pada ibu dan adiknya, dia sangat sayang. Bahkan ketika dia punya pacar, rasa sayangnya seolah tidak terbagi. Ketika menjelang Natal, adiknya dimasukkan ke semacam rumah singgah, Malony bela-belain menculik adiknya.

Identik dengan film-film Prancis, ending dibuat terbuka, tapi kita bisa membaca ada jawaban tersirat atas konflik yang dihadirkan. Tidak perlu ada pertanyaan di belakang. Sang sutradara bukan menutup kisah dengan: akhirnya keduanya hidup bahagia lalu ada pesta pernikahan atau akhirnya mereka memulai kehidupan baru dengan pasangan masing-masing. Memangnya pernikahan itu klimaks dari proses kehidupan? Bagaimana dengan orang yang tidak menikah? Ending seperti ini juga banyak saya temui pada film-film garapan sutradara Iran. Saya suka, masa bodoh dengan yang tidak suka lalu memaki-maki filmnya.

Jawaban yang hanya perlu diberikan pada penonton adalah: apakah Malony tetap berperilaku kasar dan seenaknya atau berubah menjadi lebih baik?

Trailer Standing Tall (2015):

Jogja, 22 Februari 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response