Strava; Aplikasi Sosial Media Bagi Para Pesepeda dan Pelari

Strava sering kali disebut-sebut oleh kawan sesama pesepeda. Beberapa hasil rekaman olahraga juga dibagikan via sosial media. Tidak banyak bedanya, antara Stava dengan aplikasi semacam Endomondo, Runtastic, atau Nike+. Jika dilihat secara sekilas. Aplikasi ini akan mengukur jarak yang ditempuh, waktu yang dihabiskan, elevasi, dan kalori yang terbakar.

Sumber gambar: strave.com
Sumber gambar: strave.com

Namun, Strava ini menjadi pilihan banyak teman saya karena pengukurannya konon lebih akurat. Akurat bukan berarti bisa lebih dipercaya. Misalnya saja dalam hal jarak tempuh. Strava tidak bisa benar-benar mendekati speedometer yang menempel di roda sepeda. Kecepatan maksimalnya juga terkadang sama kacaunya dengan Runtastic. Jumlah kalori yang terbakar via Strava pun selalu lebih besar. GPS jika masih menggunakan sinyal smartphone tidak akan benar-benar valid.

Namanya juga aplikasi gratisan. Pasti beda dengan mereka yang menggunakan alat-alat tambahan hingga bisa sampai mengukur denyut jantung. Tapi fungsi Strava yang menjadi media sosial, adalah nilai plus yang tidak bisa dikesampingkan. Saya mulai menambah teman. Tinggal follow saya orang yang dikenal, bisa berasal dari facebook jika dikoneksikan. Dengan mengikuti orang lain, kita jadi bisa tahu, kekuatan orang itu, bisa dijadikan bahan untuk perbandingan dengan kita. Apakah kita lebih baik atau tidak.

Memang, tidak semua orang peduli dengan kecepatan. Bersepeda prinsipnya adalah have fun, bukan? Namun ada pula yang saya perhatikan, semacam punya standar kecepatan tersendiri. Mau jauh mau dekat, ya stabil. Kita pun juga bisa memperhatikan kecepatan apakah disebabkan oleh sepeda yang digunakan atau tidak. Kalau sudah bawaannya roadbike, wajar saja jika dia mampu berada di rata-rata 24kph.

Di Strava, kita pun bisa memberikan jempol atau juga komentar seperti halnya di facebook. Kita bisa melihat orang-orang yang mendapat predikat QOM (queen of mountain) maupun KOM (king of mountain). Bagi sebagian besar orang, kedua predikat itu sangatlah berarti. Terkadang hanya menjadi sesuatu yang maya karena user lupa mengganti pilihan jenis kelaminnya sendiri di bagian profil. Maka jangan heran jika ada QOM laki-laki atau KOM perempuan.

Saya memakai Runtastic dan Strava di smartphone. Untuk record, saya pakai Runtastic. Untuk di-publik, via Strava. Bukan kenapa-kenapa, tidak hanya sekali saya melihat kawan yang mengeluh Strave eror sehingga rekam jejaknya tidak sesuai kenyataan. Dengan Runtastic, saya belum pernah mengalami eror. Hanya selisih jarak tempuh saja.

 

Jogja, 26 Juni 2016

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response