Jung Wok; Wisata Pantai Hening dan Tempat Kemping di Jogja

Jung Wok merupakan pantai yang terbilang sepi dan dapat dijadikan tempat seru untuk kemping bersama teman-teman.
There’re always irresistible things of a journey, the experiences itself. Weekend dan pantai. Di akhir bulan ini saya manfaatin buat jalan-jalan. 3 kali weekend sebelumnya, digunakan untuk acara kantor. Dan rasanya pas kalau sekarang dijadikan sebagai pelampiasan rasa lelah.
Tempat yang ditempuh dengan perjalanan cukup panjang adalah pantai. Apa yang saya butuhkan adalah perjalanan, berlama-lama duduk di atas jok motor, bermain-main dengan operan gigi, gas, rem, tikungan jalan, dan adrenalin. Gunung Kidul memenuhi apa yang saya butuhkan, meskipun dengan risiko saya akan datang ke tempat yang sudah pernah didatangi. Semalam, sebelum tidur, saya sempat browsing pantai-pantai yang kira-kira oke. Bisa dibilang, sebagian besar sudah saya datangi , beberapa pantai memang saya kunjungi sekaligus.
Lalu saya mendapat rekomendasi ke Jogan, Jung Wok, Sepanjang. Selain itu, saya tetap pengen banget ke Timang dan mencoba gondolanys. Tapi belum sekarang, musim hujan seperti ini, jika jalanan belum diaspal atau setidaknya ditimbun bebatuan, pastilah licin dan berlumpur.
Saya pengen sekalian nulis juga. Dapat selembar dua lembar lumayanlah. Setelah menimbang-nimbang, saya pun memilih Sepanjang. Katanya pantai ini seperti Kuta, dari segi garis pantainya yang lebih panjang dari yang lain. Ketika tiba di sana, dan masih pukul delapan pagi, pantai ini masih sepi. Pengunjung pantai tidak seberapa, yang jualan juga. Mungkin karena gerimis. Ya, pagi tadi cukup mendung, dan saya disambut gerimis, cukup deras hingga mengharuskan saya memakai jas hujan. Ketika tiba, saya langsung menyusuri jalan beraspal yang lebarnya hanya untuk satu mobil, pengen tahu, ujung jalanan ini ke mana. Ternyata ujungnya tidak begitu jauh, Saya tidak berminat menyusuri jalan setapak dengan kondisi hujan di depan sana. Sedang malas ber-off road ria alasan sebenarnya. Lalu saya balik dan melewati deretan warung-warung yang menyediakan gazebo. Saya belum terlalu lapar dan apalagi keinginan buat ngopi.
Akhirnya saya tinggalkan Sepanjang. Kemudian saya menyusuri lagi jalan utama. Masih banyak pantai di depan sana. Hujan sudah berhenti. Jas hujan sudah saya simpan kembali di dalam jok motor.
Ketika melihat plang Sundak, saya pun terpikir melihat isi pantai ini. Sepertinya fasilitas di sana lebih lumayan dari Sepanjang. Parkir 2.000, standar tarif sepertinya, lalu saya memasuki area pantai. Banyak warung yang sudah buka. Nah ngopi di sini asyik. Setelah capek menyusuri bibir pantai, untuk mengambil gambar, saya memilih salah satu warung, yang jualan makanan, minuman dan olahan hewan laut. Lumayan juga peyek udangnya. 10 ribu dapat banyak.
Sekitar sejam saya duduk dan nulis, saya pun memutuskan melanjutkan perjalanan. Masih jam 10.30. Tentu saya bukan perjalanan pulang yang saya maksud.
Saya penasaran dengan Jung Wok. Katanya pantai ini masih sepi, secara aksesnya masih sulit. Letaknya di sebelah Wedi Ombo, dan jalan alternatif satu-satunya ya lewat pantai ini dengan berjalan kaki. Jalanan kendaraan untuk langsung menuju pantai Jung Wok belum beraspal. Masih dalam pembangunan menurut cerita orang-orang setempat dan selesainya masih lama. Saat musim hujan seperti ini, sangat tidak direkomendasikan melewati rute itu. Bahaya, kecuali kalau mengendarai motor trail atau mobil 4WD.
Sesampainya di Wedi Ombo, saya langsung menanyakan arah ke Jung Wok. Tidak susah, cuma menyusuri pantai dan nanti ada petunjuk jalan, pilih ke kiri. 400 meter jaraknya. Lumayan dekat. Matahari sudah terik tapi biar saja. Seminggu cukup untuk memulihkan kulit yang terbakar tho.
Jalan setapak mengantarkan saya melewati persawahan dan beberapa kandang sapi. Untung saja bukan kandang kambing. Sempat sedikit nyasar dan saya mendapat arahan dari seorang warga setempat yang kebetulan bisa berbahasa Indonesia. Mudah memang, tinggal menyusuri jalan setapak dan nanti akan ada plang hijau penunjuk ke Jung Wok. Setelah itu sudah tidak ada papan lagi, tapi kecil kemungkinan bakal nyasar karena suara pantai terdengar dari kejauhan. Dan lagi, tidak ada percabangan jalan lainnya.
Jung Wok ini benar-benar pas buat yang suka dengan suasana lengang. Hanya ada 2 nelayan yang sedang memancing udang di kejauhan sana. Ada satu pondok untuk berteduh jika kepanasan. Untuk melihat pantai ini secara keseluruhan, tinggal mendaki bukit yang nggak begitu tinggi. Cukup membuat keringetan memang. Dari atas bukit, pantai, persawahan, serta Wedi Ombo akan terlihat sejajar, sama-sama cakep untuk diabadikan.
Puas berada di sana dan memastikan energi sudah kembali seperti semula, saya pun beranjak. Saya beristirahat sejenak di sebuah warung di Wedi Ombo lalu pulang.
Masih siang, sekitar pukul 13.30. Mencoba jalanan yang berbeda itu selalu asyik. Jadilah saya pulang via Semanu. Di pertigaan, yang seharusnya saya ambil kiri, saya ambil kanan. Jalanannya mulus dan sepi. Kalau sudah kondisi begini, kayaknya agak ngebut hmm boleh juga. Medannya masih naik turun dan tikungan. Maksimal 100 km/jam saya gas. Sesekali saya disalip pengendara motor lain, jadilah kebut-kebutan entah dengan siapa. Kadang saya menang dan lawan tertinggal di belakang. Kadang kalah kalau lawannya pakai motor koplingan dan di tikungan nggak ngurangi kecepatan.
Via Semanu pada akhirnya akan balik ke rute Wonosari yang saya lewati sewaktu berangkat. Bisa juga ke Pacitan. Petunjuk jalan lengkap, nggak bakal tersesat. Ikuti saja jalan besar.
Begitu sampai di tikungan-tikungan Wonosari, saya kepikiran sesuatu, gimana sih rasanya nyalip di tikungan? Saya pun mencobanya jika pas dari arah berlawanan tidak ada kendaraan. Seru meski saya tahu, itu melanggar aturan lalu lintas. And welcome home!
Jogja, 30 November 2013

Leave a Response