Tamu Undangan di Resepsi Mantan

Tamu Undangan di Resepsi Mantan |

 

Sebuah undangan pernikahan ibarat gol ke gawang lawan yang patut mendapat selebrasi besar-besaran. Di satu sisi, begitu benar satu firman Tuhan yang kerap tercetak di salah satu sisi kartu undangan pernikahan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan hidup…”.

Tamu Undangan di Resepsi Mantan
Sumber gambar: huffingtonpost.com

Di sisi lain, hadirnya undangan pernikahan layaknya tantangan X-factor bagi para jomblo yang mantannya ternyata menikah lebih dulu. Akankah kita datang ataukah tidak? Tanda tanya besar.

Datang ke pernikahan mantan adalah ujian kebesaran hati bagi sebagian jomblo yang “lupa” mencari pengganti si mantan pacar. Mungkin kita terlalu sibuk bekerja sehingga 24 selalu habis untuk mencari uang. Tidak mengapa. Toh tanpa uang juga hidup menjadi susah, bukan? Atau lebih nyaman dengan hubungan pertemanan tanpa tendensi main hati? Boleh-boleh saja.

Lanjut. Lalu apa yang akan kita lakukan menyikapi datangnya undangan pernikahan mantan? Mencari-cari alasan agar tidak datang, sementara gedung resepsinya cuma lima langkah dari kosan? Atau datang dengan seorang pacar bayaran jam-jaman? Sepertinya bukan ide yang bagus.

Coba buka lemari makanan pakaian. Adakah sehelai dua helai pakaian yang pantas dikenakan untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan? Jika ada, berarti kita memang harus datang ke undangan tersebut. Jika tidak, hm coba deh pinjam teman kosan.

Sumber gambar: peacefulcentury.net

Intinya, datang sajalah. Coba bayangkan, sebuah resepsi pernikahan hanyalah berlaku bagi para undangan. Tidak semua orang boleh masuk dan menikmati hidangan lezat di dalam sana sekaligus souvenir lucu-lucu yang boleh dibawa pulang. Si mantan pun artinya tidak melupakan kita begitu saja di hari penting hidupnya.  Calon si mantan tentunya sangat pengertian ketika nama kita masuk dalam list undangan. Entahlah jika mereka sempat berdebat dulu, itu sih urusan mereka.

Nah! Saatnya menunjukkan jati diri kita. Yang berlalu biarlah berlalu. Memang dulu tak jodoh. Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik. Jauhkan diri dari perasaan depresi karena tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga. Yang pernah putus cinta tidak kita doang kok. Taylor Swift juga pernah. Sering malah.

Kehadiran kita di pernikahan mantan adalah bukti sebuah sikap gentleman (berlaku juga buat perempuan berjiwa besar juga) yang patut menuai pujian dan pukpukan ringan di bahu. Datang sebagai diri sendiri yang  malangnya masih menjomblo. Jangan lupa, demi memberikan kesan baik, sebaiknya tidak memberi amplop kosong. Belikan kado yang unik atau buat sendiri demi meninggalkan kesan mendalam.

Salami keduanya dengan senyuman elegan. Syukur-syukur boleh kecup pipi si mantan. Ucapkan selamat dan sepatah dua patah kata yang mendoakan kebahagiaan keduanya. Jangan memandang pasangan mantan dengan penuh kesinisan, jangan pula dengan kemesraan mendalam. Yang wajar-wajar saja. Setelah itu, salami kedua orang tua si mantan, mudah-mudahan masih ingat dengan kita, yang dulu begitu akrab dengan mereka. Maafkan saja jika ternyata mereka lupa siapa kita.

Setelah itu, jangan langsung pulang. Pastikan kita sempat menyicipi hidangan demi hidangan yang sudah tersedia secara prasmanan. Isi perut yang sengaja dilaparkan sejak lima jam lalu. Tak perlu malu-malu, toh tamu-tamu lain pun berkali-kali mengambil piring dan gelas. Berbaurlah dengan para tamu. Ajak kenalan yang datang dengan gerombolan teman-temannya, abaikan yang sudah bergandengan tangan erat dan suap-suapan. Jangan terlalu asyik juga dengan makanan. Mungkin kita bakal menemukan seseorang yang kelak menjadi pasangan di masa depan. Jika ternyata yang terlihat hanyalah orang-orang tua, bersabarlah, jodoh mungkin baru bertemu di tempat dan waktu yang lain.

 

Dimuat di jombloo edisi 30 September 2015

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response