Pantaskah Saya Menginjak Tanah Haram, Wahai Tuhan?

Pantaskah Saya Menginjak Tanah Haram, Wahai Tuhan
Tanah Haram. Sumber gambar: pinterest.com

Tidak semua orang bisa diizinkan untuk menginjak tanah haram atau tanah suci. Tapi saya diberi kesempatan untuk itu. Ibadah saya biasa-biasa saja.

Di ujung setiap perayaan ulang tahun kantor, selama hampir 5 tahun keberadaan saya di DIVA Press, selalu ada yang namanya penganugerahan karyawan terbaik dan juga yang diberangkatkan umrah. Terus terang, selama ini saya tidak pernah optimis mendapatkan salah satu di antaranya karena rasanya tidak ada yang “berlebihan” dalam performa kerja saya.

Saya bukan seorang marketing yang bisa mendatangkan omzet ratusan juta sebulan dengan strategi pasar yang sangat canggih. Bukan pula seorang pemimpin tim yang luar biasa karena minimnya pengalaman saya selama ini.

Lalu apa yang dijadikan tolok ukur di kantor saya sehingga saya bisa berdiri di hadapan para karyawan DIVA dan menerima bonus umrah?

Asal tahu saja, bonus ini biasanya diberikan kepada karyawan lama yang terbukti loyalitasnya. Kalau soal lama, ya saya memang terbilang lama, tapi bukan yang paling lama. Soal loyalitas, saya rasa masih banyak karyawan yang punya kinerja lebih baik dari saya. Saya bahkan tidak pernah mencapai level “akrab” dengan atasan saya. Kami lebih banyak bicara lewat email dan BBM, kalaupun bicara face to face, it must be straight to the point. Ya karena saya emang tolol soal berbasa-basi.

Soal umrah, rasanya ini menjadi impian setiap orang. Dan katanya, tidak semua orang bisa ke sana. Pertama, karena umrah atau haji itu biayanya sangat mahal. Terlebih haji, kudu antre bertahun-tahun untuk yang regulernya.

Kedua, umrah itu pada intinya adalah rumah Tuhan, tempat suci, tempat pahala shalat menjadi berlipat ganda. Dan katanya cuma yang dipanggil Tuhan yang bisa ke sana. Ungkapan ini memang sulit dimaknai. Buat orang-orang yang level agamanya sudah mumpuni, tentu panggilan ini menjadi sesuatu yang mudah terdengar. Tapi saya:

– Ibadahnya masih di bawah standar

– Bukan pelaku Tahajjud

– Bukan orang yang punya kadar kesombongan sekecil biji zarrah

– Punya kehidupan yang tidak lurus-lurus banget

– Intinya bukan orang alim

Dan rasanya wajar jika saya cemas dengan hal ini karena saya sering mendengar, banyak orang yang umrah dan mengalami “kesulitan” karena dalam kehidupannya “tidak lurus”. Ya, Tuhan memang punya pertimbangan sendiri ketika memberi saya kesempatan beberapa hari menikmati indahnya rumah Sang Pencipta di tanah Arab sana. Bukankah hanya Dia yang tahu kondisi masing-masing ciptaan-Nya. Bahkan saya pun tidak sepenuhnya mengenal diri sendiri. Buktinya, saya pun bisa sakit karena tidak sadar terlalu capek dan kurang menjaga makanan. Iya kan?

Saya berharap, semuanya berjalan lancar. Memang akan banyak sekali persiapan, terutama iman dan memperbanyak amal. Setidaknya, saya masih mempunyai waktu 2 bulan untuk setidaknya memperbaiki diri. Mohon doanya ya:)

 

Jogja, 23 Februari 2014

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response