Tanjakan, Turunan, Tikungan; 3 Variasi Mengasyikkan saat Bersepeda

 

Tanjakan, Turunan, Tikungan; 3 Variasi saat Bersepeda
Sumber gambar: popsugar.com

Rute bersepeda dalam kota tidak akan membuat kita dapat merasakan 3 variasi yang justru sangat mengasyikkan, yaitu tanjakan, turunan, dan tikungan. Rata-rata jalanan kota, semisal di Jogja, adalah landai sehingga energi yang keluar saat mengayuh tidaklah begitu besar. Kecepatan pun bisa maksimal dalam perjalanan, gear pun tidak perlu teralu sering digonta-ganti.

Apa menariknya medan tanjakan sih sebenarnya? Jogja adalah salah satu surganya tanjakan. Mau ke Kaliurang, Gunungkidul, Pajangan, dan lainnya. Puncak Bucu, Bibis, dan Becici adalah spot-spot yang selalu membuat iri jika berhasil menaklukkannya. Ada pesepeda yang pernah bilang, tanjakan akan membuat seseorang kuat. Tidak hanya otot kakinya yang kuat, tapi juga mentalnya. Saya enggan menyamakan tanjakan seperti ujian dalam kehidupan yang berat menuju puncak kesuksesan. Sebab tanjakan adalah sebuah kesenangan. Peduli amat dengan keringat yang membanjiri wajah, sebab menjadi sebuah kesenangan ketika harapan itu terus ada dalam pikiran kita, harapan bahwa semakin tajamnya tanjakan berarti turunan yang akan kita lewati pun menyenangkan. Saya belum pernah melewati tanjakan yang setelah itu tidak ada turunan sama sekali. Pasti ada.

Puncak sebuah tanjakan pun bukan puncak sebuah perjuangan. Anggap saja sebagai peristirahatan sementara. Menikmati hasil kesabaran sejenak. Menarik napas sejenak.

Setelah dari sebuah tanjakan, selanjutnya adalah turunan yang sudut kemiringannya boleh jadi sama. Untuk sepeda pabrikan dengan ban standar seperti punya saya, turunan bisa jadi medan yang berbahaya, Terlebih jika tubuh belum mencapai masa recovery sepenuhnya. Maksudnya, fokus kita masih berbentuk seperti serpihan-serpihan yang butuh disatukan, sebab tak mungkin melakukannya di perjalanan.

Turunan pun bisa membuat kita lengah. Ada kalanya lubang-lubang di jalanan sulit untuk dihindari sehingga membuat laju sepeda menjadi oleh dan paling buruknya adalah kita jatuh. Ketika melewati turunan yang curam, kecepatan sepeda saya saja bisa sampai 50 km/jam. Mengerem pun harus hati-hati, jangan hanya satu rem, tapi keduanya, jika tidak ingin sepeda oleng atau terjungkir. Yang lebih membuat hati-hati lagi jika jalanan itu cukup ramai dengan kendaraan besar sehingga harus pandai-pandai menjaga jarak. Tangan sudah pasti akan terasa sakit karena mengerem sepanjang perjalanan.

Turunan dan tikungan lebih-lebih membuat ketar-ketir. Jika pernah melewati Piyungan yang berkelok-kelok indah, itulah salah satunya yang saya maksud. Naik motor saja penuh waspada dengan kendaraan dari arah depan, belum lagi yang tidak sabar ingin menyalip dari belakang.

Tanjakan, turunan, dan tikungan adalah tantangan kewaspadaan bagi para pesepeda. Tidak lebih dari itu. Puncak tanjakan bukanlah tujuan akhir, tapi sekadar titik rehat sementara sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya. Sebab, pulang ke rumah masing-masing itulah tujuan para pesepeda sesungguhnya.

 

Jogja, 18 April 2016

 

Nisrina

Nisrina

Ini rumah virtual saya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Kalau ada perlu, boleh email ke: sureltapakrantau@gmail.com

Leave a Response