Tedhak Siten Anak Pak Bos, Menginjak Tanah (Seolah) Pertama Kalinya

in Personal by
Tedhak Siten Anak Pak Bos, Menginjak Tanah (Seolah) Pertama Kalinya
Tedhak Siten Anak Pak Bos. Sumber gambar: tapakrantau.com.

Dalam budaya Jawa, sebelum seorang anak lahir ke dunia, sudah banyak ritual yang akan dijalaninya demi menyambut dunia baru yang penuh godaan hedonisme. Setiap ritual memuat perkara akan harapan-harapan kebaikan. Sehingga (diharapkan) kelak sudah besar nanti, tetap akan berada dalam area baik-baik itu, bukan sebaliknya. Tapi, lagi-lagi, siapa yang biasa tahu nantinya seorang anak akan jadi sesuai harapan orang ataukah tidak?

Saya lama tinggal di Jawa, tapi tidak begitu sering hadir ke acara-acara dengan adat Jawa, kecuali resepsi pernikahan. Bukannya karena saya tidak menyukai hal-hal seperti itu, tapi karena nggak pernah diundang.

Nah semalam, anak bungsu (yakin udah yang paling bungsu?) si Pak Bos menjalani ritual tedhak siten. Nama panggilannya Ozer, bukan Zero apalagi Roze. Dia ini lahirnya sekitar bulan puasa tahun lalu. Pokoknya saya ingat, anak-anak kantor menengok dia setelah acara buka puasa bersama. Tercatat sebagai anak ketiga Pak Bos, anak laki-laki kedua. Lahir dengan berat… oke nggak usah detail gitu juga kali.

Tedhak siten ini budaya Jawa, padahal si Bos orang Madura, istrinya Sunda tulen. Tapi masa bodohlah. Tidak semua anak dari suku Jawa melewati ritual ini juga kali. Beberapa teman yang Jawa tulen mengaku begitu, entah mereka memang tidak pernah atau lupa. Secara tradisi ini dilakukan sewaktu bayi masih imut banget, baru 7-8 bulan.

Ada sederet filosofi di balik tedhak siten itu sendiri, dijelaskan oleh mas-mas MC meskipun ibarat ada 10 poin, yang saya ingat cuma satu. Harap maklum ya, faktor U. Acara dimulai dengan pengajian dulu, baru ke ritual intinya, yaitu menginjak jadah tujuh warna. Tujuh tidak melambangkan bidadari yang turun dari surga atau nomor punggung pemain bola lho ya, tolong dikondisikan. Tujuh itu adalah harapan-harapan salah satunya adalah semoga si anak selalu menjaga kesucian. Entah kenapa, poin inilah yang paling saya ingat. Jadahnya warna putih dan urutannya paling akhir. Satu per satu jadah ini diinjak oleh si Ozer, tentu saja dengan bantuan orang tuanya. Ozer yang belum tahu apa-apa sih asyik-asyik aja. Dia nggak tahu kalau itu semua adalah hal-hal yang sangat berat untuk dijalani kalau sudah besar.

Lalu dia (dibantu) menaiki tangga bambu, lalu turun tangga. Kurang lebih simbolisasi bahwa kehidupan itu akan naik dan turun. Lalu menginjak tanah, lalu kakinya dicuci air dengan kembang untuk menyucikan. Dan terakhir adalah masuk sangkar ayam untuk memilih masa depan.  Jangan tanya kepada saya kenapa harus di dalam sangkar dan mengapa harus memilih di usia dia belum tahu apa-apa? Apakah sudah pernah ada survey bahwa benda yang dipilih sewaktu tedhak siten akan sama dengan kariernya di masa depan?

Si Ozer ini kan kaget dong, ujug-ujug dikurung meskipun di dalam ada banyak mainan. Menangislah dia, oh lucunya. Karena kasihan dan naluri seorang ibu, Bu Bos pun berinisiatif ikut masuk dalam kurungan demi meredakan tangis Ozer yang tadinya anteng-anteng saja. Seolah berpikir panjang, bocah ini tidak kunjung memilih satu barang pun. Mungkin dia bukan tipe cowok matre kalau udah gede ya. Akhirnya ibunya mengambilkan buku Yaasiin dan semoga dia jadi pemimpin yang Qur’ani, gitu kata MC.

Terakhir adalah tabur uang. Biasanya yang ditabur itu adalah receh. Tapi, hari gini receh nggak bisa buat beli beras, Darling. Maka uang kertas 20 ribuanlah yang dilipat-lipat lalu ditabur. Sebagai anggota tetap komunitas pencinta rupiah, saya stand ikutan stand by kayak yang lain. Hey, ini bukan masalah nominal, tapi peruntungan. Saya jongkoklah dekat si penabur uang alias omnya Ozer, sementara uangnya ditabur ke depan sana. Dari beberapa kali lemparan, yang dimanipulasi dengan kelopak-kelopak bunga, akhirnya ada juga duit jatuh dekat kaki. Lumayan, buat ngisi bensin. Tebar uang ini filosofinya adalah agar si anak menjadi dermawan. Jadi tadi dia nggak memilih materi, lalu sekarang dermawan. Hm selisih usia kami 33 tahun, tapi saya nggak usah nunggu dia gede deh, masih banyak kok brondong tajir di luar sana.

Dari beberapa artikel yang saya baca tentang tedhak siten, ada satu ritual yang tidak dilakukan untuk Ozer, yaitu memandikan lalu memakai baju baru. Berhubung acara ini malam dan khawatir masuk angin, jadi itu di-skip saja dan langsung ke acara makan. Ozer pun sepertinya sudah lelah karena dibangunkan dari tidurnya untuk mengikuti acara.

Jogja, 20 Januari 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*